Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Murid SD di Ngada NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku Tulis

Ilustrasi TKP (pexels/Kat Wilcox)
Ilustrasi TKP (pexels/Kat Wilcox)
Intinya sih...
  • Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, menangani kasus kematian anak SD yang diduga bunuh diri karena keterbatasan ekonomi.
  • Korban Y.B.R., pelajar kelas IV SD asal Kecamatan Bajawa, ditemukan meninggal di kebun cengkih milik neneknya pada 29 Januari 2026, dengan ditemukan sepucuk surat tulisan tangan.
  • Penyelidikan awal menunjukkan kekecewaan korban terkait ketidakmampuan keluarganya untuk membeli alat sekolah, meskipun fakta lainnya masih didalami.
  • Pihak Polda NTT memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban dan bantuan materi, dengan kasus ini mendapat perhatian nasional, hingga ke Istana Negara.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Kapolda Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Rudi Darmoko, masih menangani kasus kematian anak SD yang diduga mengakhiri hidupnya. Ia membenarkan dugaan awal kematiannya karena keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu membeli buku, pena dan alat tulis lainnya. Akan tetapi pihaknya masih mendalami lagi dugaan tersebut.

Sebelumnya diketahui Y.B.R. (10), pelajar laki-laki kelas IV SD asal Kecamatan Bajawa, Ngada, ditemukan meninggal dunia di area kebun cengkih milik neneknya. Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA. Polisi juga menemukan sepucuk surat dengan tulisan tangan dari pelajar tersebut.

Table of Content

1. Kirim psikolog dan konselor

1. Kirim psikolog dan konselor

Kapolda NTT Rudi Darmoko.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko. (Dok Humas Polda NTT)

Penyelidikan awal dan olah tempat kejadian perkara (TKP), jelas dia, memang sementara menjurus soal adanya kekecewaan korban. Namun begitu fakta lainnya masih didalami lagi terkait peristiwa tersebut.

"Hasil penyelidikan awal atau olah TKP memang demikian tapi masih kita dalami lagi," jawab Kapolda NTT ini, Rabu (4/2/2026), usai meresmikan Direktorat PPA dan PPO Polda NTT.

Ia juga telah memerintahkan Kapolres Ngada Andrey Valentino untuk ke rumah duka untuk memberikan bantuan materil dan bantuan mental. Ia mengarahkan agar pendampingan tersebut intens dilakukan.

"Kita sudah kirim psikolog maupun konselor untuk memberikan pendampingan mental bagi keluarga korban dan bantu meringankan kesulitan mereka," tukasnya.

2. Sampai didengar Istana

Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia menyebut kasus kematian anak yang masih sangat kecil di Ngada ini memang sangat memprihatinkan sehingga bukan lagi menjadi kasus lokal. Kasus ini, katanya, sudah terdengar sampai di Istana Negara.

"Ini sudah bukan kasus lokal tetapi sudah menjadi atensi nasional bahkan sampai ke Istana,” ungkap Kapolda NTT.

Sementara ini Kapolres Ngada juga telah turun langsung ke lokasi untuk memberikan santunan. Pada saat yang sama Biro SDM Polda NTT telah mengunjungi keluarga korban untuk memberikan pendampingan.

3. Tinggal bersama nenek

Olah TKP di Ngada NTT.
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Sebelumnya, Warga Karadhara, Dusun IV, Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), digegerkan dengan kematian YBR.

Kematian anak ini diketahui pertama kali oleh K.D. (59), yang hendak ke pondoknya untuk mengikat ternak kerbau. Menurut kesaksiannya, pelajar SD itu dalam kondisi mengenaskan di salah satu pohon cengkeh sehingga ia berlari ke arah jalan sambil berteriak minta tolong. Warga sekitar pun berkumpul di lokasi.

Sementara dua saksi lainnya G.K. (35) dan R.B. (34), yang juga menuju ke kebun sempat bercakap-cakap dengan anak tersebut sekitar pukul 08.00 WITA. Anak itu sedang berada di bale-bale bambu miliknya neneknya. Anak itu tinggal di rumah sang nenek. Ia mengatakan tidak ke sekolah hari itu.

4. Sudah beberapa hari tak sekolah

Olah TKP Ngada.
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Sementara sang ibu, M.G.T. (47) menyatakan pada malamnya anaknya ini mengeluh sakit kepala dan minta untuk tak ke sekolah, akan tetapi sang ibu meminta tetap ke sekolah karena sudah beberapa kali ia tidak masuk.

Korban kemudian diantar menuju pondok neneknya karena seragam sekolah berada di sana. Sang ibu sempat memberi nasihat agar anaknya rajin bersekolah, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.

Setelah temuan kematian tersebut personel Polres Ngada tiba di lokasi dan langsung melakukan olah TKP, identifikasi, serta mengumpulkan keterangan para saksi. Jenazah korban dievakuasi ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk pemeriksaan medis.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
Eddy Rusmanto
3+
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Terungkap, Anak SD di Ngada Diminta Bayar Rp1,2 Juta sebelum Meninggal

06 Feb 2026, 18:47 WIBNews