Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Anak SD di Ngada Kerap Tanyakan Dana PIP Tak Cair sebelum Tewas

Screenshot_2026-02-03-19-05-23-985_com.facebook.katana-edit.jpg
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)
Intinya sih...
  • Anak SD YBR (10) korban broken home, ditinggalkan ayah sejak usia 1,7 tahun
  • Pencairan Dana PIP terkendala administrasi, KTP ibunya bukan dari Kabupaten Ngada
  • Pemerintah akan tertibkan administrasi warga, siapkan PIP versi daerah dan pakaian seragam
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan hasil temuan tim yang diturunkannya ke lapangan terkait kematian seorang anak SD berinisial YBR (10). Ia menyebut, sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban kerap meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) guna memenuhi kebutuhan sekolah.

Raymundus mengatakan tim juga menemukan sejumlah fakta lain dalam penanganan kasus ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menegaskan peristiwa yang dinilai tragis dan traumatis tersebut tidak boleh kembali terulang di kemudian hari.

Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, Pemkab Ngada membentuk tim terpadu yang melibatkan berbagai pihak. Tim ini terdiri dari dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, dinas pendidikan, serta instansi terkait lainnya, yang telah melakukan pendalaman dan menemukan beberapa hal penting di lapangan.

1. Ditinggalkan oleh ayahnya

Screenshot_2026-02-03-19-05-37-112_com.facebook.katana-edit.jpg
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Berdasarkan temuan awal, anak tersebut diketahui merupakan korban broken home. Ia ditinggalkan ayahnya sejak berusia sekitar 1,7 tahun dan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dalam kesehariannya, korban dirawat oleh sang nenek di rumah kebun dan sesekali mengunjungi ibunya di kampung halaman.

Fakta-fakta awal tersebut, menurut keterangan pihak terkait, diduga menjadi salah satu faktor pendorong yang memengaruhi kondisi psikologis korban hingga mengambil keputusan mengakhiri hidupnya.

"Sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis dan juga dalam perjalanan diambil-alih oleh neneknya di kebun," jelas dia.

2. Pencairan dana PIP terkendala administrasi

-
Ilustrasi Pendidikan (IDN Times/Arief Rahmat)

Berdasarkan temuan tim, ia menyebut sebelum kejadian bocah tersebut beberapa kali menanyakan kepada ibunya terkait pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) miliknya.

"Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke BRI di kabupaten," jelasnya lagi.

Sementara itu, secara administrasi pencairan dana tersebut belum dapat dilakukan karena KTP ibunya masih tercatat berasal dari Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada sesuai dengan domisili barunya.

"Sehingga diberitahu untuk pulang dan urus dulu itu (administrasi) di kampung. Terus ditanya lagi anaknya dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir belum sempat urus, suatu hari itu dia tidak ke sekolah dan ke kebun neneknya," tambah Bupati Ngada.

Untuk urusan administrasi tersebut, kakak pertama dan kedua dari pihak ayah yang berbeda telah lebih dulu diurus kepindahannya ke Kabupaten Ngada. Sementara itu, kakak ketiga hingga korban belum sempat diurus sehingga masih terkendala secara administratif.

Pada hari kejadian, korban sempat pergi ke rumah neneknya. Namun, saat itu sang nenek tidak berada di tempat sehingga korban berada seorang diri. Beberapa warga yang melintas sempat menanyakan alasan korban tidak masuk sekolah, yang dijawab korban sedang sakit kepala.

Sekitar pukul 11.00 WITA, seorang saksi berinisial KD yang hendak mengikat kerbau di kebun melintas dan singgah di rumah tersebut. Ia berniat menyampaikan agar kerbaunya ikut diawasi, namun justru menemukan korban telah meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di salah satu pohon cengkih di sekitar lokasi.

3. Akan tertibkan administrasi warga

KTP
ilustrasi KTP (vecteezy.com/Wayan Sudaharta)

Bupati Ngada menyebut beasiswa korban sudah ada tetapi memang sulit dicairkan karena permasalahan administrasi ini. Hal ini yang akan menjadi perhatian ke depannya. Pihaknya akan melakukan tindakan tegas agar warganya tertib melengkapi administrasi.

"Saya akan tegas dan melaksanakan rapat koordinasi untuk indentifikasi benar-benar. Kalau masih ada masyarakat yang masa bodoh ya kita mesti tekan door to door," tambahnya.

Sementara dirinya juga menyiapkan juga PIP versi daerah dan menyediakan pakaian seragam. Rencananya pada Minggu ini ia akan terlibat langsung dalam acara adat kedukaan dan makam korban.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Terungkap, Anak SD di Ngada Diminta Bayar Rp1,2 Juta sebelum Meninggal

06 Feb 2026, 18:47 WIBNews