Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BPS Ungkap Perbedaan Mencolok Angka Kemiskinan Desa dan Kota di NTT

Ilustrasi uang rupiah dan dampak ekonomi. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Ilustrasi uang rupiah dan dampak ekonomi. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya sih...
  • Ada 919,15 ribu penduduk miskin perdesaan, lebih banyak dari perkotaan yang berjumlah 112,54 ribu orang.
  • Rumah tangga miskin di NTT rata-rata terdiri dari 5,88 orang anggota
  • NTT berada di posisi ke-6 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (BPS NTT) mengungkap data ketimpangan kemiskinan antara wilayah perdesaan dan perkotaan yang semakin melebar dan semakin dalam. Ini disampaikan meskipun umumnya angka kemiskinan di NTT mengalami tren penurunan.

Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, memaparkan data kesenjangan ini dalam rilis resmi statistik secara daring, Kamis (5/2/2026), melalui channel YouTube resmi mereka.

“Memang terjadi penurunan tingkat kemiskinan, tetapi disparitas antara perkotaan dan perdesaan masih tinggi,” sebutnya berdasarkan analisis data per September lalu.

1. Jumlah penduduk miskin desa lebih banyak

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Riya Kumari)
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Riya Kumari)

Matamira menyatakan tingkat kemiskinan di NTT di posisi 17,50 persen, atau turun 1,10 poin dibandingkan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin memang berkurang sekitar 57 ribu orang, menjadi 1,03 juta jiwa.

Namun, jika dilihat per wilayah, jurangnya masih lebar. Kemiskinan Perkotaan sudah 6,96 persen, akan tetapi Kemiskinan Perdesaan mencapai 21,48 persen. Artinya, tingkat kemiskinan di desa hampir tiga kali lipat dibanding kota.

Berdasarkan jumlah rillnya, ada 919,15 ribu penduduk miskin perdesaan sesuai pendataan terakhir. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk miskin di perkotaan yang berjumlah 112,54 ribu orang.

“Penurunan memang terjadi di kedua wilayah, tetapi kemiskinan perdesaan tetap jauh lebih tinggi,” jelas dia.

2. Garis kemiskinan per rumah tangga

IMG-20260205-WA0016.jpg
Polda NTT lakukan inspeksi harga pangan di Pasar Naikoten Kota Kupang. (Dok Humas Polda NTT)

Secara rata-rata rumah tangga miskin di NTT terdiri dari 5,88 orang anggota. Ia menghitung rata-rata besarnya garis kemiskinan per rumah tangga per bulan adalah sebesar Rp3.310.746.

Sementara ketimpangan pengeluaran penduduk justru meningkat berdasarkan perhitungan Gini Ratio NTT yaitu naik dari 0,315 menjadi 0,322. Fenomena ini juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi belum dinikmati merata.

“Ketimpangan di perdesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan,” lanjutnya.

Ia menyebut andil struktur kemiskinan di NTT masih didominasi oleh kebutuhan masyarakat akan pangan yaitu sebesar 75,54 persen. Komoditas yang paling berpengaruh pada garis kemiskina antara lain : beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, ikan tongkol/tuna, dan daging ayam dan babi.

3. Provinsi miskin ke-6 di Indonesia

ilustrasi peta Indonesia (unsplash.com/Z)
ilustrasi peta Indonesia (unsplash.com/Z)

Ia menyebut NTT masih berada dalam kelompok atas dalam daftar provinsi termiskin di Indonesia. Data yang dirilis BPS itu menunjukkan NTT berada di posisi ke-6 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.

Meskipun pada saat yang sama, lanjut dia, NTT juga tercatat sebagai salah satu provinsi dengan penurunan kemiskinan tercepat pada periode Maret–September 2025.

Penurunan kemiskinan juga sejalan dengan membaiknya kondisi pasar kerja. Penyerapan tenaga kerja meningkat, pekerja penuh bertambah, dan tingkat pengangguran terbuka menurun. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah pertanian, perdagangan, dan pendidikan.

“Ini sinyal positif, namun pekerjaan rumah terbesar tetap ada di wilayah perdesaan,” tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Terungkap, Anak SD di Ngada Diminta Bayar Rp1,2 Juta sebelum Meninggal

06 Feb 2026, 18:47 WIBNews