Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gubernur NTT Ditelepon Banyak Menteri Soal Tewasnya Anak SD di Ngada

IMG-20260204-WA0025.jpg
Gubernur NTT Melki Laka Lena. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya sih...
  • Melki mengaku banyak menteri menghubunginya terkait peristiwa kematian ini namun kepala daerah setempat malah lambat meresponnya. Ia menyoroti khusus Pemda Ngada agar turut terlibat dengan keluarga korban.
  • Gubernur NTT mengancam akan menuntut pemerintah terkait bila hal serupa masih terulang lagi ke depannya. Menurutnya hal ini miris terjadi saat NTT mendapat banyak bantuan dari pemerintah pusat untuk pengentasan kemiskinan.
  • Y.B.R. (10), pelajar kelas IV SD ditemukan tewas di kebun cengkeh sang nenek
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mengakui bahwa kematian seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, yang diduga berkaitan dengan ketidakmampuan membeli alat baca tulis akibat kemiskinan, telah menyita perhatian luas. Peristiwa tersebut bahkan membuat Melki menerima banyak panggilan telepon dari sejumlah menteri.

Melki menilai Presiden Prabowo Subianto bisa bereaksi keras terhadap Pemerintah Provinsi NTT apabila kejadian itu terungkap dalam forum rapat koordinasi nasional (rakornas) yang dihadiri seluruh kepala daerah. Ia menegaskan peristiwa ini menjadi alarm serius bagi pemerintah, mengingat masih banyak warga di daerah yang hidup dalam kondisi serupa.

Melki mengaku banyak menteri menghubunginya terkait peristiwa kematian ini, namun kepala daerah setempat malah lambat meresponnya.

"Mati hanya karena miskin, agak terganggu juga saya. Saya punya lidah kelu juga, tangan saya susah juga. Saya WA pimpinan daerahnya lama juga merespon. Jadi saya minta orang saya sendiri turun cek," tandas Melki saat peresmian fakultas kedokteran salah satu kampus di Kupang, Rabu (4/2/2026).

1. Pemda diminta berperan aktif

FB_IMG_1770202479907.jpg
Gubernur NTT Melki Laka Lena. (Dok Humas Setda Provinsi NTT)

Ia menyoroti khusus Pemda Ngada agar turut terlibat dengan keluarga korban, tidak seperti saat pemakaman sebelumnya yang disebut tanpa kehadiran pemerintah. Melki tampak cukup geram akan hal ini dan menilai Pemprov NTT dan Pemda Ngada gagal. Ia mengarahkan agar pemerintah daerah juga harus segera mengurus makam anak tersebut.

"Kirim orang secara resmi dari Pemda Ngada! Sebagai pemerintah kita gagal urus warga negara kalau begini. Malu saya sebagai Gubernur! Masa ada warga negara mati hanya gara-gara begini," tukasnya.

2. "Pak Prabowo paling marah hal-hal begini"

IMG_20250908_132744.jpg
Gubernur NTT Melki Laka Lena menanggapi kenaikan tunjangan DPRD NTT. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia sebelumnya menyebut NTT akan jadi sorotan apabila Presiden Prabowo Subianto tahu hal ini dalam rakornas yang diikuti 4.011 para pemimpin daerah sejak 2 Februari lalu.

"Syukur ini diketahui publik setelah kita rakornas. Itu kejadian kalau Pak Prabowo tau, mati kita dicincang. Pak Prabowo paling marah hal-hal begini. Ini kita tidak tau apa yang salah tapi pranata sosial kita gagal, pemerintah Kita juga sama," jelas dia.

Melki mengancam akan menuntut pemerintah terkait bila hal serupa masih terulang lagi ke depannya. Menurutnya hal ini miris terjadi saat NTT mendapat banyak bantuan dari pemerintah pusat untuk pengentasan kemiskinan.

"Besok ada lagi model begini saya tuntut orang-orangnya. Kalau pun saya maka saya siap tuntut. Kalau ada salah maka siap orang itu dituntut. Masa ada warga negara mati karena hal begini. Kita punya perangkat PKH, uang mengalir triliunan ke NTT urusan orang miskin masih ada yang mati urusan begini," tegasnya.

3. Mendiang ditemukan tewas di kebun cengkeh sang nenek

Screenshot_2026-02-03-19-05-23-985_com.facebook.katana-edit.jpg
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Sebelumnya Y.B.R. (10), pelajar kelas IV SD ditemukan meninggal dunia di area kebun cengkeh, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA, diduga akibat mengakhiri hidupnya sendiri.

Ibu korban, M.G.T. (47), mengaku kepada polisi bahwa malam sebelum kejadian anaknya sempat mengeluh sakit kepala. Pagi harinya, korban tetap diarahkan bersiap ke sekolah karena sudah beberapa kali tidak masuk dalam minggu tersebut.

Korban kemudian diantar menuju pondok neneknya karena seragam sekolah berada di sana. Namun ia tak berangkat ke sekolah. Beberapa saksi yang sempat bertemu YBR pagi itu sekitar pukul 08.00 WITA dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Anak itu menyebut ia tak mau ke sekolah.

Polisi sendiri dalam olah TKP menyatakan ada beberapa bukti terkait kasus ini termasuk salah satunya surat yang diduga dibuat oleh anak tersebut sebelum mengakhiri hidupnya.

Share
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News NTB

See More

Terungkap, Anak SD di Ngada Diminta Bayar Rp1,2 Juta sebelum Meninggal

06 Feb 2026, 18:47 WIBNews