17 Ribu Warga NTB Keluar dari Kemiskinan, BPS Beberkan 6 Penyebabnya

Mataram, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2025 sebanyak 637,18 ribu orang. Jumlah penduduk miskin turun sebanyak 17,39 ribu orang dibandingkan Maret 2025.
Sementara jika dibandingkan dengan September 2024, jumlah penduduk miskin di NTB menurun sebanyak 21,42 ribu orang. Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Kamis (5/2/2026) mengatakan persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat 11,38 persen, turun sebesar 0,4 persen terhadap Maret 2025 dan menurun 0,53 persen terhadap September 2024.
1. Konsumsi rumah tangga meningkat hingga penyaluran bansos

Wahyudin menyebutkan ada enam faktor yang menyebabkan penurunan angka kemiskinan di NTB pada periode Maret - September 2025. Pertama, konsumsi rumah tangga di NTB pada Triwulan III 2025 meningkat sebesar 4,51 persen (y-on-y). Hal ini, kata dia, mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
Kedua, distribusi pengeluaran pada kelompok masyarakat 40 persen terbawah menunjukkan tren perbaikan secara agregat, yaitu naik dari 18,88 persen pada Maret 2025 menjadi 19,23 persen pada September 2025. Peningkatan ini, kata Wahyudin, mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat terbawah menikmati proporsi pengeluaran yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Faktor ketiga, penyaluran bantuan sosial (bansos) menunjukkan kinerja yang cukup baik. Program Sembako terealisasi sebesar 93,1 persen dari kuota, sementara Program Keluarga Harapan (PKH) telah menjangkau 219.364 keluarga penerima manfaat (KPM) dengan nilai bantuan mencapai Rp156,94 miliar.
Selain itu, program Bantuan Sosial Yatim Piatu (YAPI) juga terealisasi meskipun masih belum optimal. Menurut Wahyudin, berbagai bantuan ini berperan sebagai bantalan (shock absorber) bagi rumah tangga miskin dan rentan miskin, khususnya dalam menghadapi fluktuasi harga dan tekanan ekonomi.
2. Intervensi sosial melalui cakupan MBG dan beroperasinya sekolah rakyat

Faktor keempat yang berpengaruh terhadap penurunan kemiskinan di NTB, kata Wahyudin, yakni penguatan intervensi sosial melalui peningkatan cakupan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mulai beroperasinya Sekolah Rakyat di beberapa kabupaten/kota. Hal ini menunjukkan adanya upaya jangka pendek dan jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Kelima, program bedah rumah tidak layak huni berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 1.610 unit rumah pada periode September-Desember 2025 yang dilaksanakan Kementerian PKP Nusa Tenggara I untuk penduduk.
Program bedah rumah lainnya yaitu Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dilaksanakan Pemprov NTB melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman sebanyak 174 unit rumah. Serta program Bedah Rumah dari BAZNAS tahun 2025 untuk meningkatkan kualitas perumahan penduduk miskin.
Keenam, operasi pasar murah yang digencarkan Pemda bersama Bulog turut membantu mengendalikan inflasi. Sehingga daya beli masyarakat miskin tetap terjaga.
3. Beras dan rokok jadi penyumbang terbesar garis kemiskinan di NTB

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2024-September 2025, kata Wahyudin, jumlah penduduk miskin perkotaan di NTB naik sebesar 11,20 ribu orang sedangkan di perdesaan turun sebesar 32,62 ribu orang. Dia menyebut persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 11,64 persen menjadi 11,70 persen. Sementara itu, di perdesaan turun dari 12,21 persen menjadi 11,02 persen.
Dipaparkan, garis kemiskinan di NTB pada September 2025 sebesar Rp575.856 per kapita per bulan. Dibandingkan Maret 2025, garis kemiskinan naik sebesar 3,41 persen. Sementara jika dibandingkan September 2024, terjadi kenaikan sebesar 6,57 persen.
Pada periode September 2024-September 2025, garis kemiskinan di perkotaan naik sebesar 6,99 persen dari Rp554.327 per kapita per bulan menjadi Rp593.069 per kapita per bulan. Sementara, di perdesaan juga mengalami kenaikan sebesar 5,83 persen dari Rp525.027 per kapita per bulan menjadi Rp555.647 per kapita per bulan.
Komponen garis kemiskinan terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM). Wahyudin mengatakan besarnya sumbangan GKM terhadap garis kemiskinan pada September 2025 di perkotaan sebesar 75,81 persen dan perdesaan sebesar 75,80 persen.
Pada September 2025, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan di NTB, baik perkotaan maupun perdesaan, pada umumnya hampir sama yaitu beras dan rokok. Dikatakan, beras masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, yaitu sebesar 25,89 persen di perkotaan dan 29,85 persen di perdesaan.
Kemudian, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan yaitu 8,62 persen di perkotaan dan 4,88 persen di perdesaan. Komoditas lainnya adalah telur ayam ras menyumbang sebesar 3,44 persen di perkotaan dan 3,76 persen di perdesaan, daging ayam ras sebesar 3,15 persen di perkotaan dan 3,42 persen di perdesaan, roti sebesar 2,45 persen di perkotaan dan 2,69 persen di perdesaan.
Kemudian kopi bubuk dan kopi instan masing-masing sebesar 2,16 persen di perkotaan dan 2,56 persen di perdesaan, ikan tongkol, tuna, cakalang sebesar 2,55 persen di perkotaan dan 1,66 persen di perdesaan. Sedangkan komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan 8,62 persen di perkotaan dan 10,05 persen di perdesaan.
Kemudian pendidikan sebesar 2,40 persen di perkotaan dan 1,47 persen di perdesaan, dan bensin sebesar 2,21 persen di perkotaan dan 1,67 persen di perdesaan. Selanjutnya, listrik, perlengkapan mandi, pakaian jadi perempuan dewasa, perawatan kulit, muka, kuku, rambut serta kesehatan.
Garis kemiskinan per rumah tangga miskin di NTB pada September 2025 sebesar Rp2.516.491 per bulan bulan. Angkanya naik sebesar 5,84 persen dibanding kondisi Maret 2025 yakni sebesar Rp2.377.732 per bulan.

















