Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

LPA NTT Sebut Kebutuhan Sekolah Bukan Satu-satunya Alasan Anak SD Akhiri Nyawa

IMG_20250610_091001.jpg
Ilustrasi penanganan korban. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya sih...
  • Akumulasi situasi menyebabkan tekanan psikologis berat pada anak, memunculkan rasa takut, malu, dan masalah emosional yang sulit diatasi.
  • Beban psikologis yang tidak tersampaikan dapat berujung pada keputusan tragis, perlu pendampingan psikologis di sekolah dan pemerintah harus serius dalam perlindungan anak.
  • Tim psikolog dan konselor memberikan dukungan kemanusiaan kepada keluarga korban dengan sesi konseling, penguatan mental, dan pendampingan psikologis secara humanis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Lembaga Perlindungan Anak Nusa Tenggara Timur (LPA NTT) menyikapi meninggalnya seorang anak SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada yang telah memunculkan keprihatinan luas. LPA NTT mengingatkan agar publik tidak menyederhanakan penyebab peristiwa ini.

Kepala LPA NTT, Veronika Ata, mengatakan kondisi psikologis anak apalagi dalam kasus kematian tak wajar seperti ini tidak pernah dipengaruhi oleh satu faktor tunggal. Persoalan kebutuhan sekolah mungkin menjadi salah satu dari serangkaian alasan lain.

1. Akibat akumulasi situasi

Screenshot_2026-02-03-19-05-37-112_com.facebook.katana-edit.jpg
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Ia membeberkan berbagai kemungkinan seperti rasa takut, malu, atau mengalami perlakuan salah, kejadian yang tidak ramah anak dan juga ada persoalan lain yang mungkin dihadapinya. Sementara pada usia itu anak belum mampu mengelola emosi dan mengatasi masalah dengan baik.

"Kejadian ini sebuah peristiwa tragis dan menyayat hati yang membuka mata kita semua. Mama tidak membeli buku dan pena itu menurut saya salah satu pemicu, bukan satu-satunya. Anak mengalami tekanan psikologis yang berat. Akumulasi situasi di rumah, sekolah dan lingkungan," jelasnya.

Menurutnya, perlu dikampanyekan bahwa masalah bisa dicari solusi dan menyakiti diri bukan solusi, juga memprioritas kebutuhan dan kepekaan terhadap anak, serta menciptakan situasi yang ramah terhadap anak.

"Beri ruang untuk anak bisa bicara, ungkap pengalaman dan perasaannya agar anak tak merasa sendirian dan kurang diperhatikan," tambah dia.

2. Beban psikologis yang tak tersampaikan

Screenshot_2026-02-03-19-05-23-985_com.facebook.katana-edit.jpg
Polres Ngada melakukan olah TKP kasus kematian anak SD di Ngada. (Dok Polres Ngada)

Berdasarkan informasi yang didapat LPA NTT, anak tersebut kemungkinan ada beban psikologis yang dalam, tidak bisa diceritakan dan berujung pada akhir seperti itu dengan meninggalkan sepucuk surat untuk sang ibu.

"Bagaimana pun keputusan tragis ini menyedihkan dan ironis. Orang tua perlu mendengar anak, melihat dan memenuhi kebutuhan anak. Jangan anggap sepele. Ajarkan anak, bila sedih, bingung, atau takut untuk segera cerita, bukan dipendam” tambah dia.

Sementara pada lingkungan sekolah, kata dia, guru dan teman tidak mempermalukan atau menghukum karena faktor ekonomi anak. Sedangkan bagi guru BK atau konselor menerapkan mekanisme pelaporan dan penyelesaian masalah.

"Perlu optimalkan guru BK di sekolah agaranak-anak harus didampingi secara psikologis," lanjut dia.

Sementara pemerintah harus serius utamakan anak dari keluarga kurang mampu. Menurutnya perbaikan sistem bantuan diperlukan agar sesuai sasaran.

"Jangan persalahkan ibu. Jangan persalahkan anak. Namun perbaiki sistem baik di rumah, sekolah, lingkungan maupun komunitas yang ramah anak, peduli anak dan melindungi anak," jelasnya lagi.

3. Tim psikolog tiba di lokasi

IMG-20260204-WA0059.jpg
Tim psikologi dari Polda NTT datangi rumah anak SD di Ngada yang tewas. (Dok Humas Polda NTT)

Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, membenarkan tim psikolog dan konselor telah mendampingi langsung keluarga korban di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Rabu (4/2/2026). Langkah ini disebut sebagai bentuk dukungan kemanusiaan bagi keluarga yang tengah berduka.

Tim psikologi yang diterjunkan ini berasal dari Biro Sumber Daya Manusia Polda NTT. Tim tersebut dipimpin Kabag Psikologi Biro SDM Kompol Dwi Chrismawan, didampingi Kasubbag Psipol Kompol Prasetyo Dwi Laksono serta Bripda Yoseph Alexander Rewo.

Setibanya di lokasi, tim langsung melakukan sesi konseling, penguatan mental, serta pendampingan psikologis kepada keluarga korban. Pendekatan dilakukan secara humanis dengan komunikasi yang menenangkan dan penuh empati.

Menurut Henry, pendampingan ini bertujuan membantu keluarga menghadapi tekanan emosional pascakejadian, sekaligus memberi ruang pemulihan psikologis.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Kematian Siswa SD di Ngada, DJPb NTT Ungkap Penyaluran BOS dan Dana Desa

07 Feb 2026, 18:46 WIBNews