Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemerintah Bakal Kurangi Bansos bagi Masyarakat Miskin, Ini Alasannya!

Pemerintah Bakal Kurangi Bansos bagi Masyarakat Miskin, Ini Alasannya!
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Daerah Tertentu, Abdul Haris. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Pemerintah mulai mengurangi bansos dan menggantinya dengan program pemberdayaan masyarakat sesuai Inpres Nomor 8 Tahun 2025 untuk menekan kemiskinan ekstrem hingga tuntas pada akhir masa jabatan Presiden Prabowo.
  • Tiga daerah di NTT, yaitu Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sabu Raijua, masih tergolong tertinggal sehingga menjadi fokus intervensi pemerintah melalui berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis.
  • Sebanyak 17,5 persen atau sekitar 1,03 juta jiwa penduduk NTT masih hidup miskin, dengan tingkat kemiskinan pedesaan lebih tinggi dibanding perkotaan meski sudah ada hasil dari intervensi pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kupang, IDN Times - Pemerintah akan menekan angka kemiskinan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Seiring dengan upaya tersebut, program bantuan sosial (bansos) secara bertahap akan dikurangi hingga tidak lagi diberikan.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu , Abdul Haris, saat mewakili Menteri Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Muhaimin Iskandar di Kota Kupang, Kamis (9/7/2026). Dalam kesempatan itu, Haris juga menyoroti tiga daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih berstatus daerah tertinggal dan akan menjadi fokus pengentasan kemiskinan melalui program pemberdayaan masyarakat.

1. Target penghapusan kemiskinan ekstrem hingga akhir jabatan Presiden

Tiga pria berpose bersama di depan layar bertuliskan Launching Program Garuda di Kota Kupang, salah satunya memegang buku laporan.
Peluncuran Program Garuda di Kota Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia menegaskan pembatasan bansos yang digantikan pemberdayaan ini merupakan amanat dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Inpres yang berlaku sejak 25 Maret 2025 ini menegaskan penghapusan kemiskinan ekstrem hingga akhir masa jabatan Presiden Prabowo Subianto atau di 2029 nantinya.

"Khususnya untuk miskin ekstrem di tahun ini harus selesai artinya menuju 5 persen," kata dia.

Saat ini, jumlah penduduk miskin ekstrem di Indonesia mencapai sekitar 2,2 juta jiwa. Sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT), persentase penduduk miskin secara keseluruhan, bukan hanya kategori miskin ekstrem, mencapai sekitar 15 persen dari total jumlah penduduk.

"Ini harus diselesaikan secara permanen bukan lagi temporer bukan lagi melalui pemberian bantuan sosial," tukasnya.

2. Ada tiga daerah di NTT masuk dalam daftar 30 daerah tertinggal

Seorang peserta mengenakan kaus bertuliskan Garuda duduk di aula bersama peserta lain saat acara Program Garuda berlangsung.
Kru dari Program Garuda. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Menurut Haris, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu daerah prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan. Sebanyak 3.442 desa dan kelurahan di provinsi tersebut akan menjadi sasaran intervensi pemerintah, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengatakan masih ada tiga kabupaten di NTT yang berstatus daerah tertinggal dari total 30 daerah tertinggal di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, ketiga daerah tersebut adalah Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Kabupaten Sabu Raijua.

Karena itu, Haris menilai program pemberdayaan masyarakat perlu diperkuat agar mampu mengatasi persoalan sosial sekaligus menurunkan angka kemiskinan di wilayah-wilayah tersebut.

"NTT ini masih memiliki 3 kabupaten kota yang masuk daerah tertinggal. Di Sumatra ada satu yaitu Nias Utara. Selebihnya ada di Papua. Total hingga saat ini ada sekitar 30 kabupaten yang masuk daerah tertinggal," jelas dia.

Perubahan ini, kata dia, tidak bisa lagi lewat bansos dan subsidi yang sebelumnya memakan sebagian besar anggaran pemerintah pusat.

"Ternyata kalau kita rekap dari seluruh APBN, anggaran yang dikeluarkan dari total APBN yang hampir Rp 500 triliun lebih dibelanjakan untuk bantuan sosial tapi kenapa kemiskinan belum selesai," jelas dia.

Ia menyebut pada tahun 1995 angka kemiskinan mencapai 25 juta jiwa kemudian saat ini 23 juta jiwa atau baru turun sekitar 2 juta penduduk. Memang jumlah ini tak sebanding dengan rasio jumlah penduduk yang meningkat.

3. Penduduk miskin di NTT masih 1,03 juta jiwa

Seorang pejabat berbicara di podium dalam ruangan dengan layar besar menampilkan gambar tokoh nasional dan bendera Indonesia di sampingnya.
Plh Sekda NTT John Oktavianus. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia juga menyoroti angka putus sekolah di NTT yang harus ditekan dengan memberikan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dapat melanjutkan pendidikan mereka. Sebelumnya, Plh Sekda NTT John Oktavianus dalam kesempatan yang sama memaparkan sekitar 17,5 persen atau 1,03 juta jiwa masyarakat NTT masih hidup dalam kemiskinan. Tingkat kemiskinan di pedesaan sendiri lebih tinggi dari perkotaan.

"Ini menunjukkan ada hasil dari intervensi pemerintah namun masih jauh dari harapan," ungkapnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -

Latest News NTB

See More