Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
NTB Siaga Kekeringan: El Nino Diprediksi Bertahan hingga Akhir Tahun
Ilustrasi kekeringan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

​Mataram, IDN Times - BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian III Juni 2026. Sebanyak 25 kecamatan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota masuk level siaga dan waspada kekeringan.

Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menjelaskan bahwa seluruh wilayah NTB kini memasuki periode musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Berdasarkan monitoring pada dasarian II Juni 2026, kondisi kekeringan di wilayah NTB semakin meluas.

"Dengan meluasnya wilayah yang masuk dalam Level Siaga dan Level Waspada akibat Hari Tanpa Hujan (HTH) yang kian memanjang, masyarakat diharapkan dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih," kata Putrantijo, Sabtu (20/6/2026).

1. Daftar 25 kecamatan yang masuk level siaga dan waspada kekeringan

Peta analisis curah hujan di NTB pada dasarian II Juni 2026. (dok. BMKG)

Dia menyebutkan daftar 25 kecamatan di NTB yang masuk level siaga dan waspada kekeringan. Adapun sebarannya, sebagai berikut:

​Wilayah Level Siaga

  • ​Kabupaten Lombok Barat: Kecamatan Sekotong

  • ​Kabupaten Lombok Tengah: Kecamatan Jonggat

  • ​Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Pringgabaya dan Kecamatan Suela

  • ​Kabupaten Dompu: Kecamatan Hu’u dan Kecamatan Manggalewa

  • ​Kabupaten Bima: Kecamatan Palibelo

Wilayah Level Waspada

  • ​Kabupaten Lombok Tengah: Kecamatan Batukliang dan Kecamatan Praya

  • ​Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Sambelia dan Kecamatan Sembalun

  • ​Kabupaten Sumbawa Barat: Kecamatan Jereweh

  • ​Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Alas, Labuhan Badas, Moyo Utara, Rhee, Sumbawa, dan Unter Iwes

  • ​Kabupaten Dompu: Kecamatan Kilo dan Kecamatan Pajo

  • ​Kabupaten Bima: Kecamatan Bolo, Lambitu, Lambu, dan Wawo

  • ​Kota Bima: Kecamatan Raba

2. HTH terpanjang di Kabupaten Bima

Ilustrasi kekeringan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

​Curah hujan di wilayah NTB pada dasarian II Juni 2026 secara umum didominasi oleh kategori rendah yaitu 0 – 50 mm/dasarian. Sifat hujannya sendiri bervariasi, mulai dari kategori bawah normal hingga atas normal. Curah hujan tertinggi pada dasarian II Juni 2026 tercatat di Pos Hujan Pemenang Timur Lombok Barat, yakni sebesar 127 mm/dasarian.

​Sementara itu, monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) di provinsi NTB umumnya berada pada kategori menengah yakni 11-20 hari hingga sangat panjang yaitu 31 - 60 hari.

Pihaknya mencatat, HTH terpanjang tercatat di Stasiun Meteorologi M Salahuddin Bima, Kabupaten Bima, yang mencapai 35 hari berturut-turut tanpa hujan, sehingga masuk dalam kategori sangat panjang.

3. El Nino diprediksi menguat hingga akhir 2026

Foto tim BPBD Bima saat menyalurkan air bersih (Dok/BPBD Bima)

Berdasarkan hasil monitoring dinamika atmosfer terkini, terdapat beberapa faktor global dan regional yang mempengaruhi kondisi cuaca di NTB. Indeks IIndian Ocean Dipole (OPD) saat ini berada pada kategori IOD Negatif dengan indeks –0.49, namun berpeluang beralih menuju IOD Positif mulai bulan Agustus hingga Desember 2026.

​Fenomena ENSO berada pada kategori El Nino Moderat dengan indeks anomali suhu muka laut (SST) di wilayah Nino3.4 sebesar +1,40. El Nino diprediksi bertahan pada kategori Moderat dengan peluang mencapai 100 persen, bahkan berpotensi meningkat menjadi El Nino Kuat dengan peluang 86 persen hingga akhir 2026.

​​Memasuki dasarian III Juni 2026 atau periode 21 - 30 Juni, kata Putrantijo, peluang terjadinya hujan dengan intensitas di atas 20 mm/dasarian tergolong sangat kecil, hanya berkisar antara 10 persen hingga 40 persen.

Potensi hujan lokal yang minim ini diperkirakan hanya terjadi di wilayah Kabupaten Lombok Utara, sebagian Lombok Tengah, Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, Sumbawa Barat, sebagian Sumbawa, sebagian Bima, Kota Bima, dan Dompu.

Dengan meluasnya wilayah yang terdampak kekeringan, Dia berharap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak dan hemat guna mengantisipasi ancaman krisis air bersih akibat HTH yang kian panjang. Selain itu, masyarakat diminta waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun area pemukiman.

Editorial Team

Related Article