Black Garlic dan Ikhtiar Syaeun Menjaga Nilai Panen Bawang Putih Sembalun

- Syaeun mengolah bawang putih Sembalun menjadi black garlic melalui UMKM Putri Rinjani untuk menaikkan nilai panen saat harga berfluktuasi dan distribusi terganggu banjir maupun longsor.
- UMKM ini melibatkan mayoritas perempuan, termasuk pengasuh anak yatim, janda, dan lansia, serta pemuda lokal; produk dikembangkan menjadi campuran madu dan kapsul, dengan sertifikat halal.
- Pendampingan KKN dan Program Gumi Seri memperkuat produksi, pemasaran, pembukuan, sertifikasi, serta akses pasar; Syaeun berharap Putri Rinjani dapat menembus ekspor.
Lombok Timur, IDN Times - Kabut tipis menggantung di lembah Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Dari rumah produksi Syaeun, aroma rempah yang pekat dan manis menyusup ke udara dingin.
Di dalam rumah, jemari Syaeun memilah siung demi siung bawang putih lokal yang telah dikeringkan di bawah matahari. Bawang itu belum siap dipasarkan. Masih ada proses panjang hingga warnanya berubah hitam dan nilainya meningkat.
Bagi Syaeun, pengolahan bawang putih bukan sekadar pilihan usaha. Gagasan itu tumbuh dari persoalan yang berulang setiap musim panen. Harga bawang putih dapat naik dan turun di tangan pembeli. Petani pun kerap menerima harga yang tidak sebanding dengan biaya pengolahan.
Risiko semakin besar karena Sembalun rawan banjir bandang dan longsor. Bencana dapat merusak lahan serta memutus akses jalan. Jalur menuju Belanting pun rentan terputus. Ketika distribusi tersendat, hasil panen menghadapi ancaman kehilangan pasar dan membusuk.
Keprihatinan itu mendorong Syaeun membentuk kelompok perempuan. Mereka mengolah hasil pertanian agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Black garlic atau bawang hitam kemudian menjadi produk utama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Putri Rinjani.
"Awal mula dari produk black garlic adalah keprihatinan terhadap para petani bawang putih yang saat panen kadang pembeli menaik-turunkan harga, sehingga tidak sesuai dengan biaya pengolahan. Jadi kami berinisiatif membuat kelompok perempuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk berharga jual lebih tinggi," kata Pendiri UMKM Putri Rinjani, Syaeun kepada IDN Times, Senin (10/8/2026).
Upaya menaikkan nilai bawang putih itu sekaligus membuka ruang kerja di desa. Sekitar 80 persen tenaga kerja UMKM Putri Rinjani merupakan perempuan setempat. Syaeun melibatkan ibu yang mengasuh anak yatim, janda, serta warga lanjut usia. Mereka bekerja sesuai kemampuan masing-masing.
Syaeun juga melibatkan pemuda lokal dalam pengolahan, pengemasan, dan penyortiran bahan baku. Mereka merupakan lulusan SMA hingga sarjana. Pekerjaan itu memberi mereka pilihan untuk tetap tinggal dan berkarya di desa.
Proses pembuatan black garlic membutuhkan kesabaran. Syaeun dan tim Putri Rinjani mengeringkan bawang putih secara alami selama dua bulan. Bawang kemudian masuk proses pengovenan selama 25 hari. Proses itu menghasilkan perpaduan rasa asam, manis dan pahit.
Putri Rinjani tidak berhenti pada satu produk. Syaeun mengembangkan black garlic dengan madu murni serta varian kapsul. Kapsul menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mengonsumsi black garlic tanpa terganggu aromanya.
Produk Putri Rinjani telah mengantongi sertifikat halal. Akses terhadap sertifikasi halal dan izin keamanan pangan dari instansi pemerintah turut membuka jalan pengembangan usaha. Syaeun juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas promosi melampaui Sembalun.
1. Jejak pendampingan dan hitungan usaha

Produk black garlic dari UMKM Putri Rinjani binaan Syaeun. (Dok. Syaeun) Pengembangan kapsul black garlic memiliki jejak sejak 2019. Pada 4-24 Agustus 2019, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sembalun Bumbung. Tim bekerja sama dengan Syaeun untuk membuat black garlic kapsul di rumahnya.
Program itu dicatat Sopiati Alawiyah, Mia Maharani Dewi dan M Sarjan dalam jurnal ilmiah berjudul "Pengenalan Teknik Pembuatan Kapsul Black Garlic di Desa Sembalun Bumbung". Artikel itu terbit dalam Unram Journal of Community Service Volume 1 Nomor 1 Tahun 2020.
Kegiatannya meliputi pengenalan pengembangan black garlic, demonstrasi pembuatan produk, pelatihan pengemasan dan pemasaran, pendampingan, serta evaluasi. Kapsul dikembangkan agar konsumen yang tidak tahan aroma black garlic tetap dapat mengonsumsinya.
Pada bagian pendahuluan, artikel ilmiah itu mengutip Abadi (2017) mengenai peningkatan kadar polifenol hingga 23 persen dan flavonoid hingga 37 persen selama fermentasi. Kedua senyawa itu berperan sebagai antioksidan. Angka itu menjelaskan karakter black garlic secara umum, bukan hasil pengujian laboratorium terhadap produk UMKM Putri Rinjani.
Pendampingan pada 2019 tidak berhenti pada cara produksi. Tim KKN juga membuat simulasi titik impas atau break-even point (BEP) untuk black garlic kapsul.
Dengan biaya tetap Rp2.297.000, biaya variabel Rp27 ribu per unit dan harga jual Rp50 ribu, titik impas dihitung pada penjualan 99 unit atau Rp4.993.000. Dokumen itu juga menyimulasikan kebutuhan 535 unit per bulan untuk mengejar laba Rp10 juta. Angka itu merupakan hitungan pada 2019, bukan gambaran keuangan bisnis Syaeun pada UMKM Putri Rinjani saat ini.
Catatan itu memperlihatkan bahwa pengembangan usaha mencakup produksi, pemasaran, dan perhitungan bisnis. Bekal serupa dibutuhkan ketika Syaeun menghadapi kelangkaan bahan baku lokal pada musim tertentu. Pasokan yang tidak selalu tersedia menuntut usaha mengatur produksi dan menjaga keberlanjutan bisnis.
"Pesan saya kepada semua UMKM, terus bersemangat kita semua pasti bisa dan jangan pernah menyerah. Saat jatuh satu kali, maka kita harus bangun sepuluh kali. Karena untuk mencapai keberhasilan, perlu pengorbanan dan usaha yang sungguh-sungguh," ujarnya.
2. Program Gumi Seri dan target ekspor Putri Rinjani

Produk black garlic dari UMKM Putri Rinjani binaan Syaeun. (Dok. Syaeun) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menjalankan Program Gumi Seri di Lombok Timur. Program itu membina 40 pelaku UMKM di Kecamatan Sembalun dan Jerowaru. Pendampingannya berfokus pada penguatan kapasitas usaha, mulai dari strategi pemasaran hingga manajemen keuangan. Program berjalan secara berkelanjutan untuk mendorong peningkatan omzet peserta.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto dalam siaran persnya mengatakan pendampingan itu menjadi bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan. AMMAN menargetkan dampak jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional dan penyangga.
"Kami membekali para pelaku usaha dengan peningkatan kapasitas agar usahanya naik kelas. Harapannya, UMKM binaan ini bisa mandiri, berdaya saing dan berkontribusi pada perekonomian Lombok Timur," kata Aji.
Menurut Aji, AMMAN memilih Sembalun dan Jerowaru karena potensi pariwisatanya dapat menggerakkan ekonomi lokal. Pendampingan melibatkan tenaga ahli dan mitra strategis. Program juga memfasilitasi sertifikasi produk serta perluasan akses pasar melalui platform digital dan pameran.
AMMAN menggandeng Forward Indonesia dalam memberikan pelatihan professional kepada pelaku UMKM. Senior Konsultan Forward Indonesia, Muce Muchtar mengatakan pelatihan memakai pendekatan pembelajaran orang dewasa yang interaktif dan aplikatif. Menurutnya, UMKM Lombok Timur memiliki potensi. Namun, mereka masih membutuhkan penguatan pemasaran digital dan pembukuan agar usahanya berkelanjutan.
"Pelatihan dirancang menarik dan sesuai kebutuhan. Setiap bulan, kami melakukan pendampingan sekaligus evaluasi agar perkembangan usaha bisa terukur," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Lombok Timur, M Juaini Taofik menyebut daerah itu memiliki sekitar 76 ribu UMKM. Ia tetap mengapresiasi pendekatan divisi Social Impact AMMAN dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, terutama pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
"Ini bukan sekadar membuat produk, tetapi bagaimana mereka menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Lombok Timur," kata Juaini belum lama ini.
3. Mimpi-mimpi Syaeun bersama produk black garlic

Produk black garlic dari UMKM Putri Rinjani binaan Syaeun. (Dok. Syaeun) Tujuh tahun setelah program KKN itu, Syaeun masih membuka ruang belajar. Salah satunya melalui pelatihan praktis AMMAN. Bagi Syaeun, kekuatan pelatihan itu terletak pada praktik langsung. Materi yang diterima dapat diterapkan dalam kegiatan harian usaha black garlic.
"Pelatihan AMMAN sangat luar biasa membantu kami karena tidak ada secara detail melatih kami, tapi AMMAN memberikan pelatihan bukan hanya materi tapi secara langsung praktik sehingga bisa kami terapkan langsung pada usaha kami. Semoga PT AMMAN tidak berhenti sampai di sini, tapi tetap menuntun kami sampai kami bisa ekspor ke luar negeri," harap Syaeun.
Ekspor masih menjadi tujuan yang ingin dicapai Syaeun. Karena itu, pendampingan tidak ia pandang sebagai kegiatan sesaat. Ia berharap proses itu berlanjut hingga Putri Rinjani mampu membawa olahan bawang putih Sembalun ke pasar luar negeri.
Di rumah produksi itu, bawang putih membutuhkan waktu panjang sebelum berubah hitam. Bagi Syaeun, perubahan warna itu juga menyimpan ikhtiar mengubah nilai panen, membuka pekerjaan, dan menjaga warga tetap berdaya di tanah kelahirannya.
Mimpinya belum selesai.
"Mimpi besar saya adalah dengan black garlic ini, saya ingin membuat bawang putih Sembalun khususnya dan Lombok pada umumnya menjadi kaya kembali," harapnya.


















