Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan di NTT Bertambah Sejak Awal 2026

Kota Kupang
Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan di NTT Bertambah Sejak Awal 2026
Para pelamar kerja atau pencari kerja mendatangi Job Fair NTT 2026 di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • BPS NTT mencatat TPT Mei 2026 naik menjadi 3,26 persen, dengan 104 ribu penganggur; pengangguran lebih tinggi di perkotaan dan pada laki-laki.
  • Penduduk miskin NTT pada Maret 2026 mencapai 1,04 juta jiwa atau 17,52 persen, bertambah 5,95 ribu jiwa, terutama akibat kenaikan di perdesaan.
  • BPS menyebut data ini menjadi evaluasi kebijakan pemerintah; PDRB, konsumsi rumah tangga, dan NTP meningkat, sementara inflasi 2,73 persen memengaruhi daya beli dan garis kemiskinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penambahan angka pengangguran dan kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah ini mengalami kenaikan pada awal 2026 atau tepatnya pada Maret hingga Mei 2026.

Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, mengatakan penambahan jumlah pengangguran terlihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang pada Mei 2026 naik menjadi 3,26 persen. Sementara persentase penduduk miskin juga meningkat menjadi 17,52 persen pada Maret 2026.

Matamira menyampaikan ini melalui Berita Resmi Statistik (BRS) BPS NTT yang dirilis pada 5 Agustus 2026.

1. Pengangguran terbanyak di perkotaan

Seorang pencari kerja mengisi formulir lamaran di acara Job Fair NTT 2026 di Kupang dengan suasana ramai di sekitar area pendaftaran.
Para pelamar kerja atau pencari kerja mendatangi Job Fair NTT 2026 di Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Untuk jumlah pasti pengangguran di NTT saat ini, kata dia, sebanyak 104 ribu orang dari adanya penambahan 3,42 ribu orang. Jumlah itu membuat presentasinya naik menjadi 3,26 persen pada Mei 2026 dari sebelumnya dari 3,16 persen pada Februari 2026.

"Tingkat pengangguran masih lebih tinggi di wilayah perkotaan. TPT di perkotaan tercatat 6,60 persen, sedangkan di perdesaan hanya 1,71 persen. Sementara berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki mencapai 3,72 persen, lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 2,70 persen," jelas dia.

Namun begitu ia menyebut penyerapan tenaga kerja juga masih bertambah. Dalam rentang Februari - Mei saja penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 5,29 ribu orang.

"Sehingga jumlah penduduk yang bekerja mencapai 3,08 juta orang. Sementara usia kerja di NTT pada Mei 2026 mencapai 4,15 juta orang. Dari jumlah itu, 3,19 juta orang merupakan angkatan kerja, sedangkan 960 ribu orang tergolong bukan angkatan kerja," tukasnya.

2. Ada 1,04 juta jiwa penduduk miskin

IMG_20250708_175330.jpg
Demo sopir pikap di Kantor Gubernur NTT berlangsung hingga malam. (IDN Times/Putra F. D. Bali Mula)

Untuk jumlah penduduk miskin sendiri, jelas dia, jumlahnya sendiri sebanyak 1,04 juta jiwa yang mana bertambah sekitar 5,95 ribu jiwa. Jumlah ini naik 0,02 persen poin menjadi 17,52 persen pada Maret 2026 ini dibandingkan dengan September 2025.

Menariknya, data menunjukkan jumlah penduduk miskin di perkotaan justru berkurang sekitar 2,7 ribu jiwa, sedangkan di perdesaan meningkat sekitar 8,7 ribu jiwa dibandingkan September 2025.

Sementara Garis Kemiskinan (GK) di NTT pada Maret 2026 sebesar Rp584.252 per kapita per bulan, atau meningkat 3,77 persen dibandingkan September 2025. Komoditas yang paling memengaruhi garis kemiskinan di NTT antara lain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam, gula pasir, kopi instan, hingga biaya perumahan, pendidikan, listrik, dan bahan bakar.

Ia juga mengungkap rata-rata rumah tangga miskin di NTT memiliki 5,54 anggota rumah tangga, sehingga Garis Kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp3.236.756 per bulan.

3. Jadi bahan evaluasi pemerintah

IMG_20260410_135327.jpg
Tampak depan lobi Kantor Gubernur NTT. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Matamira mengatakan data ketenagakerjaan dan kemiskinan tersebut menjadi gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat NTT pada 2026.

"Sekaligus data ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan," kata dia.

Ia juga mengungkap adanya pertumbuhan pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar 0,20 persen dibanding triwulan sebelumnya. Begitupun dengan Indeks Konsumsi Rumah Tangga yang juga meningkat 0,39 persen. Hal yang sama pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang ikut naik 4,60 persen dibandingkan September 2025.

Namun di antara kenaikan itu nilai inflasi pada periode September 2025 hingga Maret 2026 masih tercatat sebesar 2,73 persen.

"Sharing ini yang turut memengaruhi daya beli masyarakat dan kenaikan garis kemiskinan," tukasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More