Gadai HP Demi Lunasi SPP, Anak Buruh Jadi Wisudawan Terbaik UM Bima

Bima, IDN Times - Anas Arifin, anak buruh tani asal Desa Diha Kecamatan Belo Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dinobatkan sebagai wisudawan terbaik UM Bima pada Sabtu (31/8/2024). Lulusan jurusan ilmu hukum ini berhasil keluar dengan mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88.
Himpitan ekonomi orangtua tidak membuatnya patah semangat untuk menjadi yang terbaik. Diketahui bahwa dirinya berulang kali telat bayar uang Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP) karena kondisi keuangan yang terbatas. Tak jarang ia menggadaikan barang-barang elektroniknya demi melunasi tunggakan SPP.
1. Jadi buruh tani hingga ke Sumbawa

Anas menceritakan bahwa dirinya bermodalkan nekat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mengingat kedua orangtua hanyalah sebagai petani bawang sekaligus buruh tani yang kadang hasilnya pas-pasan.
Berjibaku peras keringat menjadi buruh tani sudah cukup lama dilakoni orangtuanya. Dalam keadaan terdesak kebutuhan, mereka bahkan jadi buruh tani sampai ke Kabupaten Sumbawa Besar (KSB).
"Orangtua petani bawang sekaligus jadi buruh tani di kampung dan juga di Sumbawa," katanya dikonfirmasi, Senin siang (2/9/2024).
2. Gadai HP dan laptop lunasi tunggakan SPP

Dari penghasilan itu, terkadang masih tidak cukup menutupi setiap kebutuhan. Terutama ketika bersamaan terdesak antara pembayaran uang SPP semester dengan biaya hidup keluarga.
Kondisi yang serba kekurangan itu membuat dia telat melunasi uang SPP dibanding rekan seangkatan lainnya. Terkadang ia harus putar otak, menggadaikan handphone hingga laptop agar bisa membayar sisa tunggakannya.
"Sudah sering saya telat bayar SPP, karena kekurangan uang. Kadang juga saya harus gadaikan HP dan laptop untuk melunasi setiap kali ada tunggakan," ungkap putra dari pasangan suami-istri (Pasutri), Arfan dan Salmah ini.
3. Pernah ajukan bantuan KIP tapi tak lolos

Anas mengaku pada awal masuk kuliah pernah mengajukan permohonan agar diakomodir sebagai penerima bantuan program Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sayangnya, program pusat itu tidak ia peroleh karena banyak persaingan.
"Pernah saya ajukan agar dapat KIP, tapi gak lolos berkas karena saingan banyak, belum lagi kuota saat itu yang tersedia hanya sedikit," bebernya.
Selain fokus kuliah, ia juga aktif di lembaga kemahasiswaan eksternal kampus. Berkat kompetensinya, ia bahkan menduduki posisi Ketua Umum Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bima, periode 2024-2025.
"Alhamdulillah, saya bisa atur waktu antara kuliah dan berorganisasi. Keduanya sama-sama jalan," pungkas pria berusia 23 tahun ini.



















