Tiga Menteri Prabowo Turun Sekaligus ke Rote Demi Swasembada Garam

- Tiga menteri Kabinet Merah Putih meninjau pembangunan K-SIGN di Desa Matasio, Rote Ndao, untuk mempercepat target swasembada garam nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
- K-SIGN ditargetkan menghasilkan garam berkualitas tinggi sekitar 200 ton per hektare melalui sistem modern terintegrasi, dari penampungan air laut, pengendapan, kristalisasi, hingga penyimpanan.
- Proyek berdasarkan Perpres Nomor 17 Tahun 2025 ini disiapkan menyerap tenaga kerja lewat pelatihan warga, menggerakkan UMKM dan ekonomi daerah, serta memperkuat Rote Ndao sebagai pusat pertumbuhan Indonesia Timur.
Kupang, IDN Times - Tiga menteri Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto turun sekaligus ke Rote Ndao untuk meninjau pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN). Tiga menteri tersebut ialah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto.
Mereka bersama-sama ke K-SIGN di Desa Matasio, Kamis (30/7/2026), yang digadang-gadang menjadi salah satu terbesar di Indonesia. Kunjungan itu juga untuk mempercepat target swasembada garam nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turut melihat langsung progres pembangunan kawasan tersebut.
1. Ditargetkan produksi 200 ton per hektare

Zulhas mengakui kedatangan mereka bertiga terkait dengan arahan dari Presiden Prabowo untuk percepatan swasembada garam sehingga mengurangi ketergantungan RI terhadap garam impor.
“Pesan Bapak Presiden Prabowo, kalau garam kita produksi sendiri yang menikmati hasilnya adalah kita. Tapi kalau kita impor garam, yang menikmati hasilnya orang lain, negara lain,” ujarnya.
Zulhas menjanjikan KSIGN di Rote juga akan menjadi kawasan ekonomi yang bisa menyerap tenaga kerja baru dan berdampak pada geliat ekonomi masyarakat. K-SIGN sendiri ditargetkan memproduksi garam berkualitas tinggi sekitar 200 ton per hektare untuk program swasembada garam nasional. Sistem yang dikembangkan nantinya secara modern dan terintegrasi, mulai dari kolam penampungan air laut, proses pengendapan, kristalisasi, hingga gudang penyimpanan.
2. Bisa buka lapangan kerja baru

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi pemerintah pusat yang menetapkan Rote Ndao sebagai Sentra Industri Garam Nasional. Ia juga optimis proyek ini memberi dampak ganda pada ekonomi masyarakat. Melki mencontohkan manfaat proyek ini tidak hanya dirasakan petani garam, namun akan berdampak bagi pelaku UMKM, sektor transportasi, perdagangan, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
"Karena bisa membuka lapangan kerja, mendorong hilirisasi industri garam, menggerakkan ekonomi daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hingga memperkuat posisi NTT sebagai salah satu lumbung garam nasional,” kata Melki.
3. Jadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur

Melki juga menyebut pemerintah juga membuat pelatihan bagi masyarakat sekitar agar dapat terlibat sebagai tenaga kerja di kawasan tersebut. Pembangunan kawasan ini merupakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.
Ia berharap kawasan ini tidak hanya memperkuat ketahanan garam nasional, tetapi juga menjadikan Rote Ndao sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Indonesia. Darma Pena, salah seorang warga Desa Matasio, yang telah mengikuti pelatihan yang disiapkan pemerintah dan berharap bisa segera bekerja di kawasan industri garam itu.


















