Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suara dari Pinggiran: Melihat Wajah Lain Kota Kupang dari Pekerja Informal

Kota Mataram
3 min read
Suara dari Pinggiran: Melihat Wajah Lain Kota Kupang dari Pekerja Informal
Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)
  • Pameran Arsip Publik MEREKAM KOTA 2026 bertema “pinggir piring” digelar 3–17 Oktober 2026 di de Museum Cafe JKK, menyorot kehidupan pekerja informal Kota Kupang.

  • Riset dan pengarsipan difokuskan di TDM, Oesapa, dan Tenau untuk menelusuri relasi tubuh, kerja, serta migrasi antara wilayah pinggiran dan pusat Kota Kupang.

  • Pameran ini menjadi ruang refleksi kolektif atas kontribusi pekerja informal dan warga pinggiran yang kerap tak terdengar, tetapi menopang pergerakan serta perkembangan kota.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Di tengah hiruk-pikuk jalan utama, megahnya gedung-gedung bertingkat, serta riuhnya aktivitas formal di pusat Kota Kupang, tersimpan sudut-sudut sunyi yang jarang tersorot. Ada wajah-wajah penuh peluh dan suara-suara yang kerap diabaikan. Mereka yang menggantungkan hidup di sektor informal serta terus berjuang di garis pinggiran kota.

Kisah-kisah terpinggirkan inilah yang hendak dihidupkan kembali dalam Pameran Arsip Publik MEREKAM KOTA 2026. Mengusung tema "pinggir piring: Tubuh, Kerja dan Migrasi Pinggir-Pusat", perhelatan dua tahunan besotan komunitas SkolMus (Multimedia untuk Semua) ini mengajak publik menyelami potret dinamika tubuh, kerja, dan migrasi masyarakat pesisir maupun pinggiran.

Ruang perjumpaan dan refleksi budaya ini dijadwalkan berlangsung pada 3–17 Oktober 2026 di de Museum Cafe JKK. Melalui narasi visual dan arsip publik yang dihadirkan, pengunjung diajak menembus batas-batas kota untuk melihat Kota Kupang bukan sekadar dari gemerlap pusatnya, melainkan dari denyut kehidupan mereka yang berjuang di tepiannya.

  1. 1. Menggeser narasi ke pinggiran

    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)
    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)

    Ifana Tungga, Kurator MEREKAM KOTA 2026, menegaskan bahwa pameran tahun ini sengaja memperluas sudut pandang penjelajahannya. Proses penelitian dan pengarsipan difokuskan pada tiga kawasan strategis di Kota Kupang, yakni TDM, Oesapa, dan Tenau, guna menyelami dari dekat dinamika tubuh, kerja, serta alur migrasi warga. Melalui pendekatan ini, MEREKAM KOTA 2026 berupaya membedah bagaimana relasi kompleks antara wilayah pinggiran dan pusat kota saling bertaut dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hari.

    “Kami ingin terus menggeser pusat narasi semakin ke pinggir,” tutur Ifana.

    Langkah tersebut, lanjutnya, juga menjadi bentuk investigasi terhadap bagaimana tenaga kerja dari kawasan terpinggirkan terserap oleh denyut Kota Kupang. Kehadiran dan keringat mereka tidak hanya menjadi penyambung hidup pribadi, tetapi juga menjadi fondasi penting yang turut memutar roda perkembangan kota hingga hari ini.

  2. 2. Cerita yang sering tak terdengar

    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)
    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)

    Senada dengan itu, Blesontruses Boymau selaku Kurator Pendamping MEREKAM KOTA 2026, turut mengajak masyarakat untuk menakar kembali wajah kotanya melalui sudut pandang yang berbeda. Pemilihan "pinggir piring" sebagai tema tidak sekadar menjadi judul, melainkan sebuah metafora kuat bagi mereka yang tersisih di tepian, baik secara geografis maupun sosial, namun sejatinya menjadi penopang utama dalam "hidangan" kehidupan kota.

    “Masyarakat Kota Kupang akan diajak melihat Kupang dari sudut pandang yang lain,” ujar Blesontruses. “Kita akan melihat sisi dari masyarakat yang sering tidak didengar karena status sosial dan pekerjaan mereka di sektor informal. Padahal, pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan itulah yang membuat Kupang terus berjalan.”

    Lewat pameran ini, dinamika warga pinggiran bukan lagi sekadar bayang-bayang di balik riuhnya pusat kota, melainkan cerita utama yang patut disimak dan dihargai bersama.

  3. 3. Jadi ruang refleksi

    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)
    Suasana pameran Merekam Kota sesi sebelumnya. (Dok SkolMus)

    Baginya, MEREKAM KOTA 2026 bukan sebatas ajang pameran arsip visual belaka, melainkan sebuah ruang refleksi kolektif. Lewat jalinan kisah migrasi dan perjuangan para pekerja di sektor informal, pameran ini menyingkap wajah Kota Kupang yang sejatinya jauh lebih kompleks. Publik diundang untuk menyadari bahwa denyut perkembangan kota ini tidak hanya ditopang dari pusatnya, tetapi terus bergerak berkat kontribusi vital mereka yang berada di pinggiran.

    "Pameran MEREKAM KOTA 2026 'pinggir piring' bisa menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagi siapa saja yang penasaran," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More