Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tim Pemadaman Ditambah, 589,23 Hektare Kawasan Gunung Rinjani Terbakar

Kota Mataram
4 min read
Tim Pemadaman Ditambah, 589,23 Hektare Kawasan Gunung Rinjani Terbakar
Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa)
  • Kebakaran hutan di Bukit Setampol, Resor Torean, Gunung Rinjani, diperkirakan berdampak pada 589,23 hektare hingga 24 September 2026, terutama membakar rumput, ilalang, semak, dan vegetasi bawah.
  • BTNGR memperkuat pemadaman dengan 30 personel gabungan, setelah tim awal dan patroli dikerahkan; pemantauan udara memakai drone membantu memetakan titik api serta areal terdampak.
  • Jalur Pendakian Torean ditutup sementara sejak 23 September demi keselamatan dan kelancaran penanganan. Pemadaman terkendala angin kencang, vegetasi kering, kabut, medan tebing, serta perjalanan sekitar enam jam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mataram, IDN Times - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) terus melakukan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Bukit Setampol, Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara. Berdasarkan hasil perhitungan dan pemantauan sementara hingga 24 September 2026, luas areal terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 589,23 hektare.

Vegetasi yang terbakar didominasi oleh rumput, ilalang, semak, dan vegetasi bawah lainnya. Kebakaran pertama kali dilaporkan pada Selasa, 22 September 2026 sekitar pukul 18.50 WITA pada lokasi dengan koordinat 116°25'30.194" BT dan 8°21'49.368" LS.

"Luasan tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan udara, serta verifikasi lebih lanjut terhadap batas areal terdampak," kata Kepala BTNGR Budhy Kurniawan di Mataram, Kamis (24/9/2026).

  1. 1. Kronologi penanganan karhutla di Bukit Setampol Gunung Rinjani

    1790255475887.jpg
    Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa)

    Dia menjelaskan pada Selasa (22/9/2026) malam, dilakukan konsolidasi dan pembentukan tim pemadaman awal. Dengan mempertimbangkan keselamatan petugas, kondisi malam hari, jarak tempuh, serta medan yang sulit dijangkau, kegiatan pemadaman langsung dilaksanakan pada keesokan harinya.

    Pada Rabu, 23 September 2026, tim pemadaman awal sebanyak 7 personel dari unsur Manggala Agni Resor Torean dan Masyarakat Peduli Api (MPA) bergerak melalui Jalur Torean menuju Bukit Setampol sisi timur untuk melakukan pemantauan, pemadaman, dan pengendalian kebakaran. Tim ini direncanakan berada di lapangan pada periode 23-26 September 2026.

    Pada saat yang sama, kata dia, dilakukan patroli dan pemantauan melalui Jalur Pendakian Senaru, dengan posisi pemantauan di Pos 3 Senaru, melibatkan 4 personel dari unsur BTNGR, Koramil Bayan, dan Polsek Bayan. Tim tersebut bertugas pada 23-24 September 2026 dan telah menyelesaikan pemantauan serta turun dari lokasi.

  2. 2. Kerahkan 30 personel tambahan lakukan pemadaman

    Screenshot_20260924-211301.jpg
    Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa)

    Dia menjelaskan pada Kamis, 24 September 2026, kekuatan pemadaman kembali diperkuat dengan pengerahan 30 personel dalam tiga tim gabungan. Terdiri atas 6 personel Balai Dalkarhut Seksi III Mataram, 6 personel Manggala Agni Balai TN Gunung Rinjani, 16 personel Masyarakat Peduli Api (MPA), 1 personel Koramil Bayan, dan 1 personel Polsek Bayan.

    Personel tersebut bergerak menuju lokasi melalui Jalur Torean dan Setampol. Dalam pelaksanaannya, 6 personel Balai Dalkarhut Mataram ditempatkan di Bukit Setampol sisi timur untuk memperkuat kegiatan pemadaman.

    Sedangkan 24 personel gabungan ditempatkan di kawasan Birisan Nangka untuk melakukan pemadaman sekaligus mengantisipasi perkembangan kebakaran ke arah Jalur Pendakian Torean. "Penugasan direncanakan berlangsung hingga 27 September 2026, menyesuaikan perkembangan kondisi lapangan," terangnya

    Selain pemadaman darat, BTNGR juga mengerahkan tim drone sebanyak 2 personel untuk melakukan pemantauan udara di kawasan Bukit Setampol pada 23-24 September 2026. Pemantauan udara digunakan untuk membantu mengidentifikasi perkembangan kebakaran, sebaran titik api, serta kondisi areal terdampak sebagai bahan evaluasi dan penentuan strategi penanganan selanjutnya.

  3. 3. Jalur pendakian Torean ditutup sementara dan kendala pemadaman karhutla

    1790131951770.jpg
    Puncak Setampol Resort Torean kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yang terbakar, Selasa malam (22/9/2026). (dok. Istimewa)

    Sebagai bagian dari langkah pengamanan dan untuk mendukung kelancaran penanganan kebakaran, kata Budhy, BTNGR telah melakukan penutupan sementara Jalur Pendakian Torean sejak 23 September 2026 melalui Pengumuman Nomor PG.6/T.39/TU/KSA.04.01/B/09/2026. Penutupan tersebut dilakukan untuk mengutamakan keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim di lapangan untuk melakukan pemadaman, pemantauan, dan pengendalian kebakaran secara optimal.

    Dia mengungkapkan pelaksanaan pemadaman karhutla menghadapi sejumlah kendala, antara lain kecepatan angin yang cukup tinggi, vegetasi yang kering dan mudah terbakar, lokasi kebakaran yang jauh dan sulit dijangkau, serta kondisi medan berupa tebing. Selain itu, waktu tempuh menuju lokasi kebakaran diperkirakan sekitar 6 jam perjalanan.

    "Kondisi cuaca berupa kabut dan angin juga turut memengaruhi efektivitas pelaksanaan pemadaman di lapangan. Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk penentuan waktu, jalur, serta metode pemadaman yang digunakan," bebernya.

    Dia menambahkan, upaya penanganan dilaksanakan melalui koordinasi antara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, BPBD Provinsi NTB, BPBD Kabupaten Lombok Utara, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur terkait lainnya.

    Selain pemadaman langsung, kegiatan yang dilakukan meliputi pemantauan perkembangan titik api, evaluasi kondisi lapangan, pemantauan udara menggunakan drone, pengamanan jalur pendakian, serta konsolidasi penambahan personel.

    Dengan mempertimbangkan luas areal terdampak dan kondisi medan, dukungan penanganan terus dikoordinasikan, baik berupa tambahan personel, sarana dan prasarana pemadaman, logistik, komunikasi apabila diperlukan sesuai kondisi dan perkembangan di lapangan.

    Dia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan serta tidak mendekati lokasi kebakaran. Masyarakat dan pengunjung juga diharapkan mengikuti seluruh informasi dan pengumuman resmi yang disampaikan BTNGR.

    "Perkembangan penanganan kebakaran Bukit Setampol akan terus disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan laporan resmi dari tim di lapangan," tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More