Dosen PGPAUD UNRAM Sosialisasikan Modul Ajar Berbasis Budaya di Pringgasela

Tim dosen PGPAUD UNRAM menggelar workshop di Pringgasela untuk meningkatkan kapasitas guru PAUD dalam menyusun modul ajar deep learning berbasis budaya lokal.
Pelatihan memetakan kearifan lokal Pringgasela dan mengintegrasikannya ke tujuan, aktivitas bermain, serta asesmen untuk menciptakan pembelajaran kontekstual dan membangun karakter anak.
Peserta mengembangkan draf modul menggunakan nyiru jaje bejangkongan dan betetulak, dengan evaluasi serta pendampingan berkelanjutan agar dapat diterapkan di satuan PAUD.
Lombok Timur, IDN Times - Tim dosen Program Studi S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) FKIP Universitas Mataram menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan bertajuk workshop penyusunan modul ajar deep learning berbasis budaya lokal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas para guru PAUD.
Melalui pelatihan ini, para pendidik dibekali pemahaman mendalam terkait integrasi kearifan lokal ke dalam perangkat pembelajaran anak usia dini. Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, kontekstual, sekaligus mendukung pengembangan karakter anak sejak dini.
“Guru PAUD memiliki peran penting dalam membangun fondasi karakter dan kemampuan belajar anak. Melalui workshop ini, kami ingin membantu guru menyusun modul ajar yang mampu menghadirkan pembelajaran mendalam, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan anak di lingkungan budayanya,” ujar Tim Pengabdian Masyarakat PGPAUD UNRAM, Baiq Nada Buahana dalam keterangan yang diterima pada Senin (22/9/2026).
1. Integrasi budaya lokal Pringgasela dalam pembelajaran

Tim pengabdian memberikan pendampingan kepada guru di Kecamatan Pringgasela. (Dok.Istimewa) Rangkaian workshop membekali peserta dengan prinsip pembelajaran deep learning serta pemetaan potensi kearifan lokal Pringgasela sebagai sumber belajar anak. Tim dosen memberikan pendampingan langsung dalam menyusun tujuan pembelajaran, aktivitas bermain, hingga asesmen perkembangan anak secara terstruktur.
Beragam tradisi, keterampilan, dan aktivitas masyarakat lokal dinilai memiliki potensi besar untuk merangsang daya pikir serta kognitif anak secara alami. Melalui pendekatan ini, anak diajak mengamati, mengeksplorasi, dan merefleksikan pengalaman belajar dari lingkungan terdekatnya.
“Budaya lokal bukan sekadar pelengkap dalam pembelajaran. Budaya dapat menjadi konteks yang memperkaya pengalaman anak sekaligus menanamkan nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab, kemandirian, dan penghargaan terhadap warisan budaya,” jelas Baiq Nada Buahana.
2. Pemanfaatan permainan tradisional

Tim pengabdian memberikan pendampingan kepada guru di Kecamatan Pringgasela. (Dok.Istimewa) Salah satu inovasi pembelajaran yang diperkenalkan dalam pelatihan ini adalah pemanfaatan tradisi nyiru jaje bejangkongan dan permainan betetulak. Aktivitas budaya khas Pringgasela tersebut dikembangkan menjadi modul pembelajaran yang mencakup berbagai aspek perkembangan anak.
Melalui permainan tradisional ini, seluruh ranah mulai dari nilai moral, bahasa, sosial emosional, kognitif, seni, hingga fisik motorik anak dapat terstimulasi secara seimbang. Pembelajaran tetap mengedepankan prinsip bermain yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap usia anak.
“Selama ini kami sudah melaksanakan berbagai kegiatan bermain, tetapi melalui workshop ini kami lebih memahami bagaimana menyusun kegiatan tersebut menjadi modul ajar yang terarah. Anak dapat belajar dari aktivitas budaya yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga pembelajaran terasa lebih nyata dan menyenangkan,” ungkap salah satu peserta workshop, Ibu Hudriah.
3. Komitmen pendampingan berkelanjutan

Tim pengabdian memberikan pendampingan kepada guru di Kecamatan Pringgasela. (Dok.Istimewa) Selain meningkatkan pemahaman konseptual, kegiatan ini mendorong peserta secara kolaboratif menghasilkan draf modul ajar yang siap diterapkan di satuan PAUD masing-masing. Tim pengabdian juga melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan keselarasan antara tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen.
Langkah ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung terwujudnya pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan berkarakter. Peningkatan kompetensi pendidik secara konsisten diharapkan dapat menjaga keberlanjutan inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal.
“Penyusunan modul ajar yang baik harus dimulai dari pemahaman terhadap karakteristik anak, tujuan pembelajaran, dan konteks lingkungan. Dengan mengintegrasikan budaya Pringgasela, guru memiliki kesempatan untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan sekaligus memperkuat identitas budaya anak sejak usia dini,” pungkas Baiq Nada Buahana.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















