Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Strategi NTB Kejar Produksi 1,46 Juta Ton Padi di Tengah El Nino

Strategi NTB Kejar Produksi 1,46 Juta Ton Padi di Tengah El Nino
Seorang petani di Kecamatan Gerung Lombok Barat sedang memupuk padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Intinya Sih
  • Pemprov NTB menargetkan produksi 1,46 juta ton padi GKG meski menghadapi dampak El Nino yang memicu kemarau panjang di sejumlah wilayah.
  • Pemerintah memetakan daerah dengan sumber air dan mempercepat pertanaman di lahan beririgasi, sambil mengedukasi petani agar tidak memaksakan tanam di area kering.
  • NTB mengusulkan tambahan pompa air untuk sawah dekat sumber air serta mendorong petani menanam komoditas alternatif seperti jagung, cabai, atau tembakau di lahan kering.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mataram, IDN Times - Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan strategi menghadapi El Nino yang menyebabkan kemarau panjang agar produksi padi tidak terganggu. Pada tahun ini, Pemprov NTB menargetkan produksi padi sebanyak 1,46 juta ton gabah kering giling (GKG).

"Kalau ditarget Renstra kita sekitar 1.460.000 ton GKG. Tapi kita tetap optimis-lah walaupun sekarang El Nino," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB Lalu Mirza Amir HB dikonfirmasi di Mataram, Senin (27/4/2026).

1. Petakan daerah yang memiliki sumber air

motion_photo_1449926267635644810.jpg
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir HB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mirza menjelaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Dia mengungkapekan bahwa El Nino menyebabkan ada daerah yang masuk zona merah kemarau yang cukup ekstrem.

Tetapi di wilayah NTB, kekeringan tidak masuk zona yang merah ekstrem. "NTB untuk sementara hanya dampak di zona-zona tidak merah sekali. Ada beberapa provinsi yang lain itu yang terdampak zona merah, tetapi tetap kita waspada," kata dia.

Menurutnya, El Nino dan La Nina merupakan fenomena yang biasa di negara tropis seperti Indonesia. Fenomena El Nino juga pernah terjadi pada 2015 dan 2023.

"Artinya kita harus beradaptasi dengan cuaca iklim yang seperti ini. Dan memang tahun-tahun yang dulu itu pernah kita lakukan mulai dari pemetaan daerah-daerah yang memiliki sumber air," jelas Mirza.

2. Lakukan percepatan pertanaman

IMG-20260427-WA0070.jpg
Petani sedang membersihkan rumput di tanaman padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Untuk daerah-daerah yang tidak memiliki sumber air irigasi, Mirza mengingatkan para petani agar tidak memaksakan menanam padi. Penyuluh pertanian sudah diminta turun ke petani memberikan edukasi untuk mencegah terjadinya gagal panen.

"Kita berikan pemahaman agar petani jangan memaksakan diri karena ini kan laporan dari BMKG ada El Nino yang agak sedikit panjang, 8 sampai 9 bulan," kata dia.

Untuk daerah yang memiliki sumber air irigasi, dilakukan percepatan pertanaman. Ketika petani selesai panen, dan air irigasi masih tersedia, maka dilakukan percepatan pertanaman.

"Kemudian adaptasi mengenai varietas juga perlu itu dilakukan, mana varietas yang tahan terhadap kekeringan. Kan tidak semua varietas padi itu tahan kekeringan, tapi ada yang tahan terhadap kekeringan. Kemudian dianjurkan yang tanaman yang umur pendek, itu yang dilakukan," tuturnya.

3. Usulkan ratusan pompa air

IMG-20260427-WA0074.jpg
Petani sedang panen padi di wilayah Lombok Tengah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Strategi lainnya yang dilakukan dengan memanfaatkan pompa-pompa air untuk mengairi sawah yang berada di dekat sumber air. Menteri Pertanian telah mengumpulkan Bupati/wali kota di Jakarta terkait dengan pemanfaatan pompa-pompa air untuk mengairi lahan pertanian di musim kemarau ini.

Dia menyebut ada usulan penambahan pompa air dari NTB. Namun, sebagai catatan bahwa daerah yang dekat sumber air yang akan diberikan bantuan pompa air. Namun bagi daerah yang tidak memungkinkan untuk ditanam padi, petani diarahkan menanam komoditas lainnya.

"Tadinya padi yang ditanam, kita sarankan ke komoditas yang lain seperti jagung atau cabai, tembakau. Artinya lahan kita tetap tertanami tetapi diadaptasikan dengan komoditi yang lain yang sesuai dengan peruntukannya," tandasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More