Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Lima bendungan yang diresmikan Prabowo hari ini, tersebar di Provinsi Aceh, Jawa Tengah, Bali dan NTB. Di provinsi Aceh, terdapat dua bendungan yaitu Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, senilai Rp2,96 triliun dengan masa konstruksi sepanjang tahun 2015 - 2024.
Bendungan ini memiliki kapasitas tampungan sebesar 215,94 juta m³, luas genangan 896,39 hektare, dan tinggi bendungan 74 meter. Bendungan ini menyediakan air baku sebesar 0,55 m³/s, melayani irigasi seluas 14.695 hektare dengan panjang jaringan irigasi 75,94 km. Selain itu dapat mereduksi banjir seluas 637 hektare serta menghasilkan total energi sebesar 185,62 MW, terdiri dari PLTA 6,34 MW dan PLTS Terapung 179,28 MW.
Kemudian Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, senilai Rp2,483 triliun dengan masa konstruksi dari tahun 2018 - 2024. Kapasitas tampungan bendungan ini adalah 128,65 juta m³ dengan luas genangan 700 hektare dan tinggi 84 meter.
Adapun manfaat bendungan ini, menyediakan air baku sebesar 0,90 m³/s, melayani irigasi seluas 12.194 hektare dengan panjang jaringan irigasi 7,39 km. Selain itu, mereduksi banjir seluas 51 hektare, serta menghasilkan total energi sebesar 141,22 MW, terdiri dari potensi PLTA sebesar 1,22 MW dan PLTS Terapung 140 MW.
Selanjutnya, Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, senilai Rp 1,080 triliun dengan masa konstruksi dari tahun 2019 - 2024. Bendungan Jlantah memiliki kapasitas tampungan 10,97 juta m³ dengan luas genangan 50 hektare dan tinggi bendungan 70 meter.
Manfaat bendungan ini yakni menyediakan air baku sebesar 0,15 m³/s, melayani irigasi seluas 1.494 hektare dengan panjang jaringan irigasi sepanjang 47,74 km. Kemudian mereduksi banjir seluas 87 hektare serta menghasilkan total energi sebesar 10,625 MW, terdiri dari PLTA sebesar 0,625 MW dan PLTS Terapung sebesar 10 MW.
Kemudian Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali senilai Rp1,800 triliun dengan masa konstruksi yang berlangsung antara tahun 2018 - 2024. Kapasitas tampungan tercatat sebesar 5,76 juta m³ dengan luas genangan 37,15 hektare dan tinggi bendungan 68 meter.
Bendungan ini bermanfaat untuk menyediakan air baku sebesar 1,75 m³/s, melayani irigasi seluas 9.598 hektare dengan panjang jaringan irigasi mencapai 123,19 km. Kemudian mereduksi banjir seluas 108 hektare serta menghasilkan total energi sebesar 8,08 MW, terdiri dari potensi PLTA sebesar 0,65 MW dan PLTS Terapung 7,43 MW.
Terakhir, Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB, senilai Rp 1,473 triliun dengan masa konstruksi yang berjalan dari tahun 2018 - 2025. Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampungan 9,91 juta m³, luas genangan 46,16 hektare, serta tinggi bendungan 74 meter.
Bendungan ini bermanfaat untuk menyediakan air baku sebesar 0,15 m³/s. Kemudian melayani irigasi seluas 1.559 hektare dengan panjang jaringan irigasi sejauh 25,72 km. Selainnitu, mereduksi banjir seluas 59 ha dan menghasilkan total energi sebesar 10,03 MW, terdiri dari potensi PLTA: 0,8 MW dan PLTS Terapung 9,23 MW.
Khusus untuk Bendungan Meninting, kata Dody, telah bisa mengurangi konflik horizontal. Sebelum bendungan ini ada, para petani berebut air ketika musim tanam tiba.
"Dengan adanya bendungan ini yang mampu menampung sampai dengan 10 juta meter kubik per detik dimanfaatkan sepanjang tahun dan sawah yang tadinya merupakan tadah hujan, menjadi sawah yang kita bisa diairi dari bendungan seluas 1.500 hektare dengan jaringan irigasi kurang lebih 26 km," terangnya.