Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Minyak di Laut Pulau Semau Berasal dari Kebocoran Bangkai Kapal

Kota Kupang
Minyak di Laut Pulau Semau Berasal dari Kebocoran Bangkai Kapal
Proses pengangkutan bangkai kapal dan pembersihan tumpahan minyak. (Dok Polda NTT)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Ditpolairud Polda NTT menduga tumpahan minyak di perairan Pulau Semau berasal dari kebocoran bangkai KM Kuala Emas saat pengangkatan dan pemotongan lambung kapal.
  • Kebocoran MFO terjadi di antara Palka 2 dan 3, di luar perkiraan teknis, lalu mencemari sejumlah pesisir Pulau Semau, termasuk Hansisi, Uiasa, Huilelot, dan Batuinan.
  • Pembersihan telah mengamankan sekitar lima hingga enam ton minyak dengan tambahan perahu dan peralatan khusus, sementara pencemaran mengancam ratusan petani rumput laut serta risiko gagal panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap tumpahan minyak yang mencemari perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, diduga berasal dari kebocoran bangkai KM Kuala Emas. Kebocoran terjadi saat proses pengangkatan kapal menggunakan Crane Barge Hong Bang 6.

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, menyampaikan minyak itu berjenis Marine Fuel Oil (MFO) atau bahan bakar kapal yang keluar saat pemotongan dilakukan pada lambung kiri kapal. Ia menyampaikan ini berdasarkan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) setelah menerima laporan dugaan pencemaran laut di kawasan tersebut.

1. Kebocoran di luar perkiraan teknis

Petugas melakukan pengangkutan bangkai kapal serta pembersihan tumpahan minyak di perairan dalam operasi Polda NTT.
Proses pengangkutan bangkai kapal dan pembersihan tumpahan minyak. (Dok Polda NTT)

Irwan menyebut personelnya sudah memeriksa dan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait sehingga memastikan sumber kejadian tersebut. Tumpahan terjadi saat proses pemotongan oleh konsorsium pelaksana di beberapa bagian kapal berlangsung tanpa ditemukan kebocoran pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA.

Titik kebocoran ini, jelas dia, berada di luar perkiraan teknis karena bagian yang dipotong diduga merupakan tangki balas kapal yang tidak dilalui jalur bahan bakar.

"Saat pemotongan dilakukan pada lambung kiri kapal di antara Palka 2 dan Palka 3, muncul kebocoran yang menyebabkan keluarnya minyak yang diduga merupakan MFO atau bahan bakar kapal," katanya.

Dampak yang ditimbulkan akibat kasus ini ialah terjadi pencemaran pada sejumlah wilayah pesisir di Pulau Semau, meliputi Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, hingga Batuinan.

2. Upaya pembersihan libatkan masyarakat

Hamparan laut di pesisir Pulau Semau tercemar cairan hitam yang merugikan petani rumput laut setempat.
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Setelahnya, pembersihan dilakukan bersama masyarakat di sejumlah titik, seperti Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing. "Hingga saat ini, sekitar lima hingga enam ton minyak telah berhasil diamankan dari area terdampak," ungkapnya.

Pencegahan dan pembersihan agar tak pencemaran meluas dilakukan pelaksana proyek bersama instansi terkait. "Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau," ujar Irwan.

PT Nusantara Salvage Indonesia juga sudah menambah armada penanganan dari dua menjadi empat perahu. Selain itu, dilakukan pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, hingga penyedotan minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.

3. Petani rumput laut terdampak

Hamparan air laut di Pulau Semau tampak tercemar cairan hitam di sekitar area budidaya rumput laut milik warga.
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Sebelumnya, Camat Semau, Morifali Yulius Enggelbert Mesakh, membenarkan adanya pencemaran oli yang telah menyebar di sejumlah wilayah pesisir Pulau Semau.

"Tidak menutup kemungkinan oli itu terbawa arus laut dan menyebar ke seluruh pantai yang ada di Pulau Semau," kata Morifali.

Ia mengatakan pihaknya telah melapor kepada instansi terkait dengan lebih dulu melakukan penelusuran di wilayah perairan Bolok. Kejadian ini, kata dia, mengancam mata pencaharian ratusan petani rumput laut. Lapisan minyak yang menyebar di pesisir dilaporkan telah menempel pada tanaman rumput laut hingga memicu kekhawatiran gagal panen massal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More