Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cairan Hitam Diduga Minyak Cemari Pulau Semau NTT, Petani Rumput Laut Khawatir

Kota Kupang
Cairan Hitam Diduga Minyak Cemari Pulau Semau NTT, Petani Rumput Laut Khawatir
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Cairan kental hitam berbau menyengat mencemari pesisir Pulau Semau, NTT, dan telah berdampak pada tambak rumput laut di sedikitnya sembilan desa.
  • Rumput laut mulai menguning dan pertumbuhannya terganggu saat masa panen; petani terancam kehilangan hasil serta mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
  • Petani menduga pencemaran berasal dari bangkai kapal di perairan Bolok dan meminta pemerintah segera menyelidiki penyebab serta menangani sebaran zat tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Ratusan petani rumput laut dari 9 desa di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan adanya cairan kental hitam seperti minyak atau oli yang mencemari perairan dan berdampak pada tambak rumput laut mereka.

Camat Semau, Morifali Yulius Enggelbert Mesakh, membenarkan hal tersebut dengan temuan langsung di lapangan pada Pantai Katabak, Pantai Buatuan, dan Pantai Batu Hopong di Desa Huilelotz Cairan hitam itu juga mencapai pesisir Desa Onansila, Letbaun, Uiasa, Hansisi, Uitiuh Ana, Akle, hingga Naikean.

Ia khawatir sebaran cairan hitam tersebut makin menyebar dan merugikan masyarakat l, khususnya petani rumput laut dan ekosistem alam sekitar.

1. Bau yang menyengat

Cairan hitam mencemari perairan Pulau Semau, mengganggu area budidaya rumput laut dan menyebabkan kerugian petani.
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Temuan ini sudah dirasakan masyarakat sejak tiga hari sebelumnya. Sementara, cairan itu berbau menyengat yang bisa tercium hingga ke permukiman warga.

"Sedikitnya sembilan desa di Kecamatan Semau dan Semau Selatan telah terdampak. Tidak menutup kemungkinan oli itu terbawa arus laut dan menyebar ke seluruh pantai yang ada di Pulau Semau," ungkap Morifali.

Petani khawatir karena keadaan rumput laut mereka saat ini mulai terlihat menguning dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

2. Potensi kerugian ratusan juta rupiah

Hamparan air laut di Pulau Semau tampak tercemar cairan hitam di sekitar area budidaya rumput laut milik warga.
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Erens Tihu, seorang petani rumput laut mengungkap kepanikan dari para petani karena itu tersebut muncul saat sedang memasuki masa panen rumput laut. Sementara lainnya baru selesai menanam bibit. Pertumbuhan rumput laut mulai nampak terganggu dan berpotensi mati sebelum dipanen.

Ia khawatir merugi nantinya karena harga jual rumput laut kering sedang naik hingga Rp 30ribu per kilogram. Dalam kondisi normal, mereka biasanya memproduksi hingga 700-800 kilogram rumput laut kering pasca panen sehingga bisa untung hingga ratusan juta rupiah. Bila kondisi ini terjadi maka potensi kerugian mereka bisa ratusan juta rupiah musim ini.

"Kami bisa kehilangan seluruh hasil panen. Rumput laut menjadi kotor, kualitasnya turun, bahkan sulit dijual karena sudah tercemar oli," katanya.

3. Minta pemerintah turun tangan

Cairan hitam mencemari perairan Pulau Semau, mengancam area budidaya rumput laut dan merugikan petani setempat.
Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Para petani menduga cairan hitam ini muncul dari bangkai kapal di perairan Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, yang sebelumnya tenggelam saat cuaca buruk. Pada lokasi bangkai kapal itu ada jalur arus laut yang mengarah ke kawasan budidaya rumput laut di Pulau Semau.

"Kami menduga dari bangkai kapal di Bolok. Sekarang gumpalannya sudah memenuhi pesisir dan terus menempel pada rumput laut kami," ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat segera menangani persoalan ini dengan mencari penyebab utama dan solusi penanganannya seperti apa.

"Karena kami akan sangat dirugikan kalau penanganannya terlambat," tukasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More