JoJorina Waworuntu dan Misi Menjaga Alam dari Batu Hijau

Sumbawa Barat, IDN Times - Di balik hijaunya tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), tenyata ada sosok perempuan bernama Jorina Waworuntu. Dia merupakan Head of Environment Department AMMAN, yang memimpin tim untuk memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai regulasi sekaligus terus meningkatkan praktik pengelolaan lingkungan.
Bagi Jorina, keberhasilan itu tidak pernah lahir dari satu orang. “Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Yang membuat sebuah sistem berjalan adalah orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi," kata Jorina, Sabtu (27/6/2026).
1. Menjaga lingkungan bukan hanya memenuhi kewajiban

Menurutnya, lingkungan bukan sekadar istilah yang hidup di dalam dokumen, regulasi, atau laporan operasional. Lingkungan adalah ruang hidup. Lingkungan hadir dalam air yang digunakan, udara yang dihirup, tanah tempat berpijak, tumbuhan di sekitar hingga manusia yang menjadi bagian dari ekosistem itu sendiri.
Dalam pandangannya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi menjaga kualitas kehidupan itu sendiri. Cara pandang tersebut terbentuk selama lebih dari dua dekade tinggal dan bekerja di Site Batu Hijau AMMAN KSB. Pesan itu terasa semakin relevan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengangkat tema ‘Urgent Climate Action and Ecosystem Restoration’.
Menurut Jorina, perubahan iklim kini bukan lagi isu yang terasa jauh. Dampaknya sudah terlihat melalui cuaca yang semakin sulit diprediksi, curah hujan ekstrem, hingga musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap sektor, termasuk industri pertambangan, memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di tambang Batu Hijau, komitmen tersebut dimulai dari prinsip yang paling mendasar yaitu kepatuhan. Kepatuhan bukan sekadar memenuhi persyaratan regulasi, melainkan fondasi untuk membangun operasional yang bertanggung jawab. Karena itu, pengelolaan lingkungan didukung oleh sistem yang menyeluruh, mulai dari perencanaan, infrastruktur, pelatihan, hingga penguatan kompetensi karyawan.
2. Reklamasi lahan seluas 859,61 hektare

Salah satu wujud komitmen tersebut adalah reklamasi lahan di tambang Batu Hijau. Hingga akhir 2025, AMMAN telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, termasuk capaian reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah Batu Hijau pada 2025 seluas 92,67 hektare.
Reklamasi ini, kata dia, bukan hanya tentang menanam kembali lahan, tetapi mencakup proses panjang mulai dari penyelamatan tanah, penataan lahan, pengendalian erosi, penebaran tanaman penutup tanah, penanaman, hingga pemeliharaan. Komitmen tersebut juga meluas ke luar area operasional.
AMMAN menjalankan rehabilitasi daerah aliran sungai seluas sekitar 3.600 hektare, mendukung program perhutanan sosial, konservasi laut di Gili Balu melalui Transformasea, hingga konservasi penyu di pesisir selatan Sumbawa. Berbagai inisiatif ini menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
Dalam upaya menekan emisi, AMMAN juga memperkuat transisi menuju energi yang lebih bersih. Sejak 2022, PLTS berkapasitas 26,8 MWp telah beroperasi dan sepanjang 2025 membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton CO₂e. Di saat yang sama, perusahaan juga mengembangkan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW yang menggunakan tenaga gas sebagai bagian dari transisi menuju profil operasi yang lebih rendah karbon.
Selain energi, pengelolaan air menjadi perhatian penting. Untuk memperkuat ketahanan terhadap musim kemarau, AMMAN membangun fasilitas desalinasi di Benete dan Sejorong serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali air dalam operasional. Sementara itu, pemanfaatan citra satelit membantu perusahaan memantau perubahan kondisi lahan secara lebih cepat sehingga pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih akurat dan berbasis data.
3. Faktor penentu tetap manusia

Namun, di balik seluruh infrastruktur, teknologi, dan program besar tersebut, Jorina percaya bahwa faktor penentunya tetaplah manusia. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dibangun melalui kebiasaan sehari-hari dengan menggunakan energi dan air secara bijak, mengurangi limbah, menjaga area kerja, serta mematuhi setiap prosedur lingkungan.
Dia sendiri secara rutin mengikuti kegiatan penanaman pohon setiap tahun sebagai bentuk komitmen yang sederhana namun konsisten. Jorina mengatakan aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi fondasi lahirnya perubahan yang lebih luas.
Filosofi itu terus dibawa selama memimpin pengelolaan lingkungan di AMMAN. Kisah Jorina mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar target atau program perusahaan. Keberlanjutan adalah perjalanan panjang yang dibangun melalui disiplin, kolaborasi, dan kepedulian.


















