Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Seorang Dokter di NTT Meninggal Dunia Diduga Diintimidasi Oknum DPRD TTU

Seorang Dokter di NTT Meninggal Dunia Diduga Diintimidasi Oknum DPRD TTU
ilustrasi korban kekerasan (unsplash.com/danielle_dolson)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Dokter Icha, tenaga medis di RS Leona Kefamenanu, meninggal dunia setelah menjalani perawatan mental akibat dugaan intimidasi dari anggota DPRD TTU saat bertugas menangani pasien anak korban gigitan ular.
  • Peristiwa bermula ketika dua anggota DPRD TTU mendesak pemberian anti venom meski dokter menjelaskan prosedur medis belum memerlukannya dan stok obat tidak tersedia, hingga terjadi tekanan psikologis pada korban.
  • Kedua anggota DPRD yang terlibat mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena panik namun membantah melakukan intimidasi, serta menyampaikan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit dan tenaga medis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kupang, IDN Times - Eliza Princila Utami Pakaenoni yang biasa disapa Dokter Icha meninggal dunia saat menjalani perawatan akibat gangguan mental setelah diduga mengalami intimidasi dari sejumlah anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabar duka tersebut dibenarkan oleh paman kandungnya yang juga Direktur Lakmas Cendana Wangi NTT, Viktor Manbait. Viktor mengatakan informasi meninggalnya korban diterima dari pihak keluarga sekitar pukul 18.30 WITA pada Jumat (26/6/2026).

Sebelumnya, Dokter Icha menjalani perawatan intensif setelah mengalami tekanan psikologis akibat dugaan intimidasi saat bertugas sebagai dokter jaga di Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu, TTU. Peristiwa itu disebut terjadi ketika ia tengah menjalankan tugasnya di rumah sakit. Kasus yang menimpa korban sempat menjadi perhatian publik dan menuai sorotan berbagai pihak.

1. Isi pesan dari keluarga duka

Ilustrasi aplikasi whatsapp
Ilustrasi aplikasi whatsapp (unsplash.com/dkfra19)

Viktor dalam pesannya menyampaikan ayah almarhumah, Gabriel Pakaenoni, yang menyampaikan soal kepergian putri mereka. Ia menyebut penyebab kematiannya akan disampaikan lebih lanjut.

"Dokter Icha telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga. Sebab meninggalnya dokter Icha akan disampaikan setelah penanganan medis dilakukan. Terima kasih atas atensi dan dukungan teman-teman semua dalam bersama menjaga dan melindungi paramedis di rumah sakit dalam menjalankan tugas pelayanan kemanusiaannya," kata Viktor.

Sebelumnya, Viktor menyampaikan peristiwa intimidasi terjadi ketika dr. Icha menangani seorang pasien anak yang dirujuk akibat gigitan ular pada 13 Juni 2026 lalu sekitar pukul 12.50 WITA. Anak tersebut merupakan ponakan dari Therensius Lazakar, anggota DPRD TTU.

Mereka mempertanyakan penanganan yang Icha lakukan. Sementara Icha sudah menjelaskan prosedur penanganan sudah dilakukan sesuai standar operasional prosedur di bawah konsultasi dengan dokter spesialis.

2. Alami trauma berat usai kejadian

Seorang perempuan duduk di lantai dengan lutut ditekuk dan tangan memeluk kaki, menggambarkan suasana sedih dan trauma.
Ilustrasi korban kekerasan (Pixabay/ Anemone123)

Situasi kemudian memanas ketika Therensius dan Norbertus Tubani yang juga anggota DPRD TTU saat itu mendesak Icha untuk memberikan anti venom atau serum anti bisa ular. Sementara Icha sudah menjelaskan bahwa pasien belum masuk kategori pemberian anti venom sedangkan stok obat pun tidak tersedia di rumah sakit tersebut.

Ia menjelaskan dalam situasi itu, Dokter Icha menerima bentakan dan perlakuan yang dianggap sebagai intimidasi saat menjalankan tugas sehingga ia mengalami tekanan psikologis yang berat.

"Pasca kejadian itu dr. Icha mengalami trauma hingga depresi dan sempat menjalani perawatan intensif. Dia mengaku sangat ketakutan," jelas dia.

3. Bantah memaki dan mengancam

Lima pria duduk di sofa ruang tamu dengan meja berisi minuman kotak, toples biskuit, dan vas bunga di Kabupaten TTU.
Keluarga dokter Icha saat bertemu dengan pimpinan DPRD Kabupaten TTU (Dok Istimewa)

Sementara Therensius dan Norbertus dalam keterangan pers mereka membenarkan sempat mengeluarkan nada tinggi karena panik. Namun keduanya membantah mengintimidasi dokter jaga tersebut.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya dalam keterangan pers, Minggu (21/6/2026).

Lebih lanjut, ia mengaku tak melontarkan makian maupun ancaman, agar permintaan mereka dipenuhi. Mereka mengaku telah menyampaikan terima kasih atas perawatan dari pihak rumah sakit sekaligus meminta maaf kepada direksi rumah sakit, dr. Icha, dan seluruh tenaga medis yang bertugas di IGD.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -

Latest News NTB

See More