Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Suara Duka Ayah Dokter Icha: Tiga Anggota Dewan itu Mengakhiri Hidup Anak Saya!

Suara Duka Ayah Dokter Icha: Tiga Anggota Dewan itu Mengakhiri Hidup Anak Saya!
Ayah dan saudari dr. Icha saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • Gabriel Pakaenoni menuduh tiga anggota DPRD TTU sebagai penyebab kematian putrinya, dr. Icha, yang mengalami depresi berat akibat intimidasi di tempat kerjanya.
  • Keluarga korban menuntut pertanggungjawaban hukum terhadap ketiga anggota dewan serta meminta partai dan DPRD TTU mengambil tindakan tegas atas dugaan intimidasi tersebut.
  • Kasus bermula dari insiden medis pasien gigitan ular di RS Leona Kefamenanu, ketika tiga anggota DPRD terlibat adu argumen dengan dr. Icha terkait penanganan pasien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kupang, IDN Times - Gabriel Pakaenoni, ayah kandung Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha mengungkap isi hatinya usai misa requiem dan pemberkatan jenazah anaknya. Ia menyatakan kepergian anak pertama dari tiga putrinya ini adalah korban dari perbuatan ketiga anggota DPRD, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gabriel menyatakan ini disaksikan keluarga, kerabat dan kenalan yang mendatangi rumah duka di Blok F Perumahan RSS Baumata Kota Kupang, pada Sabtu dini hari (27/6/2026), pukul 01.33 WITA.

Sebelumnya Dokter Icha mengalami trauma berat dan depresi akibat intimidasi dari anggota DPRD TTU bernama Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Norbertus Tubani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDI-P. Intimidasi ini terjadi di Rumah Sakit Leona Kefamenanu tempatnya bertugas sebagai dokter jaga.

1. Tak henti menangis

Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian bermotif etnik sedang menangis dan dipeluk oleh beberapa orang di sekitarnya.
Ayah dr. Icha tak berhenti menangis atas kematian putri pertamanya itu. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Gabriel membuka pernyataannya dengan terima kasih atas dukungan dan kedatangan para pelayat untuk melihat putrinya. Ia menambahkan pernyataan tegas bahwa perbuatan ketiga anggota DPRD TTU itu yang merenggut nyawa anaknya.

"Sekali lagi. Terima kasih buat Bapak, Mama. Saya barusan menelpon Ketua DPRD Kabupaten TTU bahwa tiga anggota dewan itu telah mengakhiri hidup anak saya," ungkapnya.

Usai menyatakan itu Gabriel kembali memeluk jasad putrinya dan menangis. Ia merangkul juga kedua anaknya dengan berlinang air mata. Ia kemudian dipapah beberapa kerabat dan anaknya ke kamar untuk beristirahat.

Gabriel dan istrinya diketahui tak beberapa kali kehilangan kesadaran usai mengabarkan kepergian putri mereka kepada keluarga yang lain sekitar pukul 18.30 WITA, Jumat (26/6/2026).

Jenazah dr. Icha sempat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kupang setelah ditemukan tak bernyawa di dalam kamar di rumahnya. Gabriel sendiri tak sanggup mengantar anaknya lagi ke rumah sakit saat itu karena ia terguncang dengan kejadian ini.

Jasadnya kemudian diantar dengan mobil jenazah ke rumah duka sekitar pukul 23.20 WITA usai selesai dimandikan. Gabriel dan istrinya, seluruh keluarga dan para pelayat menyambut dengan isak tangis begitu jenazah tiba sekitar pukul 00.18 WITA di Sabtu (27/6/2026) dini hari.

2. Minta partai dan lembaga DPRD TTU bersikap

Seorang pria mengenakan kemeja bermotif bunga sedang berbicara di depan poster bertuliskan ucapan belasungkawa dengan hiasan bunga.
Fabi Banase paman dari dr. Icha memberi keterangan kepada media. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Fabianus B. Banase selaku paman dari almarhumah yang bernama lengkap dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni.

"Tiga anggota DPRD ini, mereka secara kejam membunuh anak kami," ungkap dia.

Usai kejadian, Icha berkomunikasi dengan kedua pamannya tersebut. Ia bercerita bahwa dirinya mengalami stres berat.

"Dia bilang 'Bapak saya pulang Kefa jumpa tiga orang ini lagi saya trauma'," ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan jiwa di Klinik Dewanta Mental Health Care, dokter berusia 27 tahun ini didiagnosa mengalami depresi berat hingga guncangan hebat yang dapat membahayakan nyawanya.

Fabi lantas meminta pertanggungjawaban ketiganya secara hukum yang akan diproses secara resmi di kepolisian. Selain itu, pihak partai dan DPRD TTU sebagai lembaga negara diminta dengan tegas juga untuk memeriksa dan menindak ketiga anggota dewan ini atas apa yang sudah mereka lakukan.

"Kita minta pimpinan DPRD TTU segera bersikap dan pihak partai kalau tidak kami keluarga akan bersikap dengan cara kami," tegasnya.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga dimintanya dapat bersikap tegas sesuai undang-undang kesehatan. Begitu pun Pemerintah Daerah TTU diminta memberikan melindungi tenaga kesehatan lainnya agar tidak diperlakukan semena-mena seperti apa yang dialami almarhumah.

"Berupa perda atau perbup sehingga penguasa lokal tidak semena-mena dan kasus dokter Icha ini seperti fenomena gunung es," ungkapnya.

3. Kronologis dan tanggap para dewan

Karangan bunga duka cita untuk dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni di rumah duka dengan foto almarhumah dan ucapan belasungkawa.
Suasana di rumah duka dr. Icha korban intimidasi anggota DPRD TTU. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Kejadian bermula ketika dr. Icha sebagai dokter jaga menerima seorang anak yang merupakan ponakan Therensius yang sebelumnya dipatok ular. Kejadian ini berlangsung pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 12.50 WITA yang mana keluarga membawa anak tersebut ke RSUD Kefamenanu untuk penanganan awal. Namun anti venom atau penangkal racun ular tak tersedia di rumah sakit itu sehingga pasien dirujuk ke RS Leona Kefamenanu.

Therensius dan Norbertus pun menjenguk pasien dan meminta penjelasan dari Icha yang bertugas saat itu. Situasi kemudian memanas begitu tau pasien belum mendapat anti venom. Kemudian Veronika Lake yang turut hadir saat itu memberikan opininya dan ikut mengancam akan memviralkan dr. Icha.

Namun begitu putri dari Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Provinsi NTT ini berulang kali menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai standar operasional dan di bawah konsultasi langsung dengan dokter spesialis.

Therensius dan Nobertus sendiri berkelit bahwa mereka tidak membentak, mengancam atau menuduh dr. Icha salah memberikan dosis atau jenis obat. Keduanya lewat keterangan pers mereka hanya menyebut sempat mengeluarkan nada tinggi saja. Sedangkan Veronika sendiri belum memberi pernyataan hingga saat ini.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujar Therensius dalam keterangan pers, Minggu (21/6/2026).

Share Article
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -

Latest News NTB

See More