Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) NTB, Zamroni Azis, mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen mendampingi para korban, baik dari sisi pendidikan maupun pengawasan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
"Saat ini kami juga memproses perpindahan data pendidikan korban ke MTs Negeri sesuai keinginan keluarga, sekaligus menyiapkan beasiswa hingga mereka menyelesaikan pendidikan," ujar Zamroni.
Tiga santri Pondok Pesantren Rosyidatus Shaulatiyyah Al Intihimy NW, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) diduga dibakar oleh seniornya. Dari tiga korban, satu santri meninggal dunia. Peristiwa itu terjadi pada November 2025, namun baru terungkap setelah viral di media sosial pada Juni lalu.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, mengatakan informasi awal yang dihimpun, memang terdapat riwayat perundungan (bullying) yang melibatkan terduga pelaku yang merupakan senior di ponpes tersebut terhadap salah satu korban sebelum peristiwa naas itu terjadi.
"Ada anak yang diduga pelaku itu sempat menelanjangi salah satu korban, kasus itu sempat dilaporkan. Kemudian sempat ada kayak candaan (dari terduga pelaku), 'Siapa yang melaporkan saya? Kalau ketemu nanti saya bakar.' Itu awalnya hanya candaan saja," kata Joko.
Joko menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula ketika korban diminta oleh terduga pelaku untuk membeli bensin. Alasannya saat itu adalah untuk keperluan membuat ketapel, di mana anak-anak lain juga sudah mencari kayu. Bensin tersebut rencananya akan digunakan untuk mencelupkan ujung ketapel sebelum dibakar.
Namun, Joko mengatakan narasi yang berkembang di media sosial bahwa tiga santri mengajar dibakar perlu dilakukan investigasi lebih lnjut oleh aparat kepolisian mengenai fakta yang terjadi sebenarnya. Karena menurutnya, kemungkinan ada kecelakaan yang menyebabkan bensin tumpah dan menyambar korban di dalam kamar.
"Yang jelas ada tiga santri yang terbakar, satu meninggal dunia. Apakah itu dibakar atau sebuah kecelakaan, ini yang harus didalami lebih lanjut. Meskipun menurut kami, kemungkinan ada kecelakaan yang menyebabkan bensin itu tumpah dan apinya menyambar," kata Joko.
Saat kejadian, terdapat lima orang santri di dalam kamar. Ketika api tiba-tiba menyambar bensin yang ada di dalam ruangan, dua santri berhasil menyelamatkan diri keluar kamar, sementara tiga santri lainnya terjebak di dalam hingga mengalami luka bakar serius. Salah satu dari tiga santri yang terjebak tersebut dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam proses pemulihan fisik karena belum sembuh total.
Joko menyoroti kelalaian pihak Ponpes dalam kasus ini. Dia mempertanyakan bagaimana barang berbahaya seperti bensin bisa lolos masuk ke kamar santri. "Bagaimana pengawasan pondok sehingga bensin bisa masuk ke area ponpes bawa oleh santri. Ini kelalaian dan seharusnya tempat pendidikan itu aman," kata dia.
Terkait kasus tersebut yang baru terungkap setelah beberapa bulan kejadian, Joko menduga hal itu dipicu oleh kurangnya perhatian dari pihak Ponpes terhadap korban yang hingga kini belum sembuh total. Selain itu, banyak informasi liar yang tidak akurat beredar di medsos, termasuk mengenai lokasi kejadian.