Jenguk Santri yang Dibakar Teman, Kapolda NTB: Pekan ini Tersangka Diumumkan!

Lombok Tengah, IDN Times - Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, menjenguk santri korban kebakaran Pondok Pesantren Rosyidatus Shaulatiyyah Al Intihimy NW di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, Selasa (7/7/2026). Dia memastikan penanganan kasus pembakaran tiga santri itu terus berjalan.
Saat ini penyidik Polres Lombok Tengah telah meningkatkan perkara ke tahap penyidikan, dan tengah mempercepat proses penetapan tersangka. "Penyidikan terus berjalan. Kami berupaya semaksimal mungkin agar pekan ini, tersangka dapat ditetapkan dan diumumkan, sehingga seluruh pertanyaan masyarakat memperoleh jawaban secara terang," kata Kalingga.
1. Kawal hak restitusi korban

Tak hanya fokus pada proses hukum, Polda NTB juga siap mengawal pengajuan hak restitusi bagi para korban. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu biaya pengobatan dan kebutuhan lain para korban selama masa pemulihan.
"Kami akan mendampingi keluarga dalam pengurusan hak restitusi. Harapan kami, langkah ini dapat membantu meringankan beban para korban dan keluarganya," kata dia.
Kalingga mengingatkan seluruh pengelola lembaga pendidikan, terutama pondok pesantren, agar memperkuat pengawasan terhadap lingkungan belajar sehingga peristiwa serupa tidak kembali terjadi. "Pesantren harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para santri. Mari kita tingkatkan pengawasan serta kepedulian agar musibah seperti ini tidak terulang," ujarnya.
2. Berikan bantuan kepada korban

Pada kesempatan tersebut, Kalingga juga menyerahkan santunan, bantuan pengobatan, serta dukungan moril kepada para korban dan keluarganya. Dia didampingi Ketua Bhayangkari Daerah NTB Ny. Widhy Kalingga Rendra Raharja beserta pengurus, Kepala Kanwil Kementerian Agama NTB H. Zamroni Azis, M.H.I., Dirreskrimum Polda NTB, Kabid Humas, Kabiddokkes, Kepala RS Bhayangkara, serta jajaran Kemenag Lombok Tengah.
Kalingga menyampaikan rasa duka mendalam atas musibah yang menimpa para korban. Kehadiran rombongan, kata Kalingga, sebagai wujud empati sekaligus dukungan agar para korban tetap memiliki semangat menjalani masa pemulihan.
"Saya mewakili keluarga besar Polda NTB menyampaikan rasa simpati dan keprihatinan yang mendalam atas musibah ini. Kami hadir untuk menguatkan hati anak-anak kita, memberi semangat, serta memastikan mereka tetap optimistis menjalani hari-hari ke depan," ungkapnya.
Selain memberikan santunan, Kalingga menyerahkan bantuan sembako, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan belajar. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga, sekaligus memotivasi para korban agar tetap melanjutkan pendidikan.
"Kondisi fisik dan rasa sakit jangan sampai memadamkan semangat belajar. Teruslah menimba ilmu dan tetap kejar cita-cita kalian. Kami semua mendoakan agar segera pulih," tandasnya.
3. Kemenag proses perpindahan korban ke madrasah negeri

Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) NTB, Zamroni Azis, mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen mendampingi para korban, baik dari sisi pendidikan maupun pengawasan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
"Saat ini kami juga memproses perpindahan data pendidikan korban ke MTs Negeri sesuai keinginan keluarga, sekaligus menyiapkan beasiswa hingga mereka menyelesaikan pendidikan," ujar Zamroni.
Tiga santri Pondok Pesantren Rosyidatus Shaulatiyyah Al Intihimy NW, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) diduga dibakar oleh seniornya. Dari tiga korban, satu santri meninggal dunia. Peristiwa itu terjadi pada November 2025, namun baru terungkap setelah viral di media sosial pada Juni lalu.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, mengatakan informasi awal yang dihimpun, memang terdapat riwayat perundungan (bullying) yang melibatkan terduga pelaku yang merupakan senior di ponpes tersebut terhadap salah satu korban sebelum peristiwa naas itu terjadi.
"Ada anak yang diduga pelaku itu sempat menelanjangi salah satu korban, kasus itu sempat dilaporkan. Kemudian sempat ada kayak candaan (dari terduga pelaku), 'Siapa yang melaporkan saya? Kalau ketemu nanti saya bakar.' Itu awalnya hanya candaan saja," kata Joko.
Joko menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula ketika korban diminta oleh terduga pelaku untuk membeli bensin. Alasannya saat itu adalah untuk keperluan membuat ketapel, di mana anak-anak lain juga sudah mencari kayu. Bensin tersebut rencananya akan digunakan untuk mencelupkan ujung ketapel sebelum dibakar.
Namun, Joko mengatakan narasi yang berkembang di media sosial bahwa tiga santri mengajar dibakar perlu dilakukan investigasi lebih lnjut oleh aparat kepolisian mengenai fakta yang terjadi sebenarnya. Karena menurutnya, kemungkinan ada kecelakaan yang menyebabkan bensin tumpah dan menyambar korban di dalam kamar.
"Yang jelas ada tiga santri yang terbakar, satu meninggal dunia. Apakah itu dibakar atau sebuah kecelakaan, ini yang harus didalami lebih lanjut. Meskipun menurut kami, kemungkinan ada kecelakaan yang menyebabkan bensin itu tumpah dan apinya menyambar," kata Joko.
Saat kejadian, terdapat lima orang santri di dalam kamar. Ketika api tiba-tiba menyambar bensin yang ada di dalam ruangan, dua santri berhasil menyelamatkan diri keluar kamar, sementara tiga santri lainnya terjebak di dalam hingga mengalami luka bakar serius. Salah satu dari tiga santri yang terjebak tersebut dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam proses pemulihan fisik karena belum sembuh total.
Joko menyoroti kelalaian pihak Ponpes dalam kasus ini. Dia mempertanyakan bagaimana barang berbahaya seperti bensin bisa lolos masuk ke kamar santri. "Bagaimana pengawasan pondok sehingga bensin bisa masuk ke area ponpes bawa oleh santri. Ini kelalaian dan seharusnya tempat pendidikan itu aman," kata dia.
Terkait kasus tersebut yang baru terungkap setelah beberapa bulan kejadian, Joko menduga hal itu dipicu oleh kurangnya perhatian dari pihak Ponpes terhadap korban yang hingga kini belum sembuh total. Selain itu, banyak informasi liar yang tidak akurat beredar di medsos, termasuk mengenai lokasi kejadian.


















