Kondisi ruang kelas Satap 1 Keruak (IDN Times/Istimewa)
Kepala Sekolah Satu Atap 1 Keruak, Abdullah, mengungkapkan bahwa sekolahnya menghadapi kekurangan fasilitas pembelajaran, seperti perpustakaan, laboratorium, dan alat-alat pembelajaran. Saat ini, sekolah tersebut memiliki total sembilan rombongan belajar (Rombel), terdiri dari enam Rombel SD dan tiga Rombel SMP. Namun, jumlah tenaga pengajar sangat minim, yaitu hanya tiga guru PNS, dua guru PPPK, dan lima guru honorer.
Abdullah menjelaskan bahwa masalah utama di sekolahnya adalah kekurangan ruang belajar. Karena keterbatasan ruang, pihak sekolah terpaksa menggunakan ruang laboratorium sebagai ruang kelas. Kondisi ruang kelas, terutama untuk SMP, sudah tidak layak karena belum pernah direnovasi sejak dibangun pada tahun 1965.
Ia menduga pemerintah enggan melakukan pembangunan atau renovasi karena biaya yang jauh lebih tinggi di Gili dibandingkan di daratan. Biaya pembangunan di Gili mencapai enam kali lipat dari biaya pembangunan di daratan.
“Harga pasir saja sampai gili itu Rp 3,6 juta per satu truk, belum lagi biya material lainnya juga jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Abdullah berharap pemerintah memberikan perhatian khusus kepada sekolah-sekolah terpencil dan tidak hanya fokus pada sekolah-sekolah di daratan yang sudah sering mendapatkan bantuan. Jika pembangunan ruang kelas baru tidak memungkinkan, ia berharap setidaknya pemerintah memberikan bantuan renovasi.
“Sekolah itu aja yang diberikan, sekolah di daratan yang sudah tidak butuh bangunan kayakanya numpuk di sana, sementara sekolah kita mau roboh,” keluh Abdullah.
Pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan ruang belajar baru dan renovasi, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut.
“Sudah sering kali diusulkan, kita minta minimal direhab jika tidak bisa bangun ruangan belajar baru,” ucapnya,