5 Tanda Anak Sulit Mengungkapkan Perasaan Akibat Pola Asuh Orangtua

- Anak dapat memendam perasaan dan memilih diam saat bermasalah ketika terbiasa merasa emosinya tidak aman untuk diungkapkan.
- Emosi yang tidak dikenali atau dipendam berpotensi muncul sebagai ledakan marah, tangisan berlebihan, perilaku impulsif, serta kesulitan menjelaskan apa yang dirasakan.
- Minim validasi, kritik, atau ketidakhadiran emosional orang tua dapat membuat anak takut dianggap lemah, menyimpan perasaan sendiri, dan menutup diri dari dukungan.
Tidak semua anak mampu dengan mudah mengatakan apa yang ia rasakan. Sebagian anak tumbuh dengan kebiasaan memendam perasaan, memilih diam saat sedih, atau menghindari percakapan emosional. Kesulitan ini sering kali bukan karena anak tidak mau bicara, melainkan karena ia belajar sejak dini bahwa perasaannya tidak aman untuk diungkapkan.
Dalam psikologi perkembangan, kemampuan mengekspresikan emosi sangat dipengaruhi oleh respons orang tua. Pola asuh yang minim validasi, terlalu mengkritik, atau tidak hadir secara emosional dapat membuat anak menutup diri.
Berikut 5 tanda umum bahwa anak mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan akibat pola asuh orangtua.
1. Anak lebih sering diam saat mengalami masalah

Anak yang sulit mengungkapkan perasaan cenderung memilih diam ketika menghadapi kesulitan. Ia jarang bercerita, meskipun terlihat sedang terluka atau tertekan. Diam menjadi cara aman untuk menghindari penolakan atau reaksi negatif.
Psikolog Alice Miller menjelaskan bahwa anak yang emosinya sering diabaikan akan belajar menekan perasaan agar tetap diterima. Lama-kelamaan, anak kehilangan kepercayaan bahwa mengungkapkan perasaan adalah hal yang aman.
2. Anak mengalami ledakan emosi tanpa penjelasan jelas

Ketika emosi terlalu lama dipendam, anak bisa menunjukkan ledakan marah, menangis berlebihan, atau perilaku impulsif yang tampak tidak proporsional. Ini sering disalahartikan sebagai kenakalan atau sikap manja.
Menurut John Gottman, anak yang tidak dibimbing mengenali dan mengekspresikan emosinya akan menyalurkan emosi melalui perilaku. Ledakan emosi menjadi bahasa alternatif saat kata-kata tidak pernah diajarkan.
3. Anak kesulitan menyebutkan apa yang ia rasakan

Anak mungkin terlihat bingung saat ditanya perasaannya. Ia menjawab singkat, menghindar, atau mengatakan “tidak tahu”, karena memang tidak terbiasa mengenali emosinya sendiri.
Psikiater Daniel J. Siegel menekankan bahwa kemampuan menamai emosi atau name it to tame it membantu regulasi emosi. Tanpa dukungan orang tua dalam proses ini, anak kesulitan memahami dunia emosinya.
4. Anak takut dianggap lemah atau berlebihan

Sebagian anak menghindari mengungkapkan perasaan karena takut diremehkan, dibandingkan, atau dianggap terlalu sensitif. Ini sering muncul dari pengalaman dimarahi atau diejek saat anak menunjukkan emosi.
Psikolog Carl Rogers menyatakan bahwa anak membutuhkan unconditional positive regard agar berani menjadi diri sendiri. Tanpa penerimaan ini, anak belajar menyembunyikan perasaannya demi diterima.
5. Anak lebih nyaman menyimpan perasaan sendiri

Anak yang tumbuh dalam pola asuh yang tidak aman secara emosional sering merasa bahwa bergantung pada orang lain adalah hal yang berisiko. Ia lebih memilih memproses perasaan sendirian, meski sebenarnya membutuhkan dukungan.
Menurut John Bowlby, pola kelekatan yang tidak aman membuat anak belajar menutup diri sebagai mekanisme perlindungan. Di balik sikap mandiri tersebut, sering tersembunyi kebutuhan akan koneksi emosional.
Anak yang sulit mengungkapkan perasaan bukan anak yang tidak memiliki emosi, melainkan anak yang belum merasa aman untuk mengekspresikannya. Pola asuh yang lebih empatik, hadir, dan terbuka dapat membantu anak belajar bahwa perasaannya penting dan layak didengar. Ketika anak merasa aman secara emosional, kata-kata akan perlahan menggantikan diam.
Itulah 5 tanda umum bahwa anak mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan akibat pola asuh orang tua.


















