Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rawan Asusila, Pemisahan Tenda Pengungsi Gempa NTT Terkendala Fasilitas
Ilustrasi asusila. (IDN Times/ Agung Sedana)
  • Keterbatasan tenda dan pengungsian mandiri yang tersebar membuat pemisahan shelter perempuan-laki-laki sulit diterapkan di wilayah terdampak gempa Flores.

  • DP3A NTT menurunkan tim terpadu ke tujuh kabupaten terdampak untuk menangani laporan serta memberi layanan perlindungan perempuan dan anak.

  • Kasus asusila terhadap korban di Sikka terjadi pada 17-18 Agustus 2026 di belakang SD Gembira dan rumah kakak terduga pelaku, bukan di tenda pengungsian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DP3A NTT menyatakan pemisahan tenda pengungsian laki-laki dan perempuan untuk mencegah kekerasan seksual terkendala keterbatasan tenda, setelah dugaan perbuatan asusila terhadap anak korban gempa Flores di Sikka.
  • Who?
    Korban R (15), terduga pelaku, DP3A NTT dipimpin Iien Adriany, Polres Sikka, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, serta pengungsi gempa di tujuh kabupaten Pulau Flores terlibat dalam penanganan dan pencegahan.
  • Where?
    Dugaan perbuatan asusila terjadi di belakang SD Gembira dan rumah kakak terduga pelaku di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Tim DP3A juga diturunkan ke tujuh kabupaten terdampak gempa di Pulau Flores.
  • When?
    Dua kejadian dilaporkan berlangsung pada 17 dan 18 Agustus 2026. Iien Adriany menyampaikan kondisi pengungsian dan tindak lanjut penanganan pada Selasa, 8 September 2026.
  • Why?
    Pemisahan shelter dan fasilitas umum didorong untuk mengantisipasi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, yang dinilai rentan di situasi pengungsian. Keterbatasan tenda dan pengungsian mandiri yang tersebar menjadi kendala.
  • How?
    DP3A NTT menurunkan tim terpadu untuk layanan perlindungan perempuan dan anak serta menindaklanjuti laporan kasus. DPRD NTT mendorong toilet terpisah, pemetaan fasilitas khusus, dan kehadiran kepolisian di pengungsian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Setelah gempa Flores, ada anak 15 tahun di Sikka mengalami perbuatan tidak baik pada 17 dan 18 Agustus 2026. Kejadiannya bukan di tenda pengungsian. Tenda masih sedikit, jadi perempuan dan laki-laki sering bercampur. Tim DP3A sudah datang membantu. Mereka juga ingin toilet dipisah dan polisi menjaga tempat pengungsian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Pemisahan tenda khusus bagi perempuan dan laki-laki dianggap perlu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya tindak pidana kekerasan seksual. Namun pada kenyataannya, praktik di lapangan seringkali terkendala dengan ketersediaan fasilitas maupun penyebaran titik pengungsian.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Perempuan Anak (DP3A) Nusa Tenggara Timur (NTT), Iien Adriany, menyampaikan ini ketika dihubungi pada Selasa (8/9/2026). Iien ketika itu merespons soal terjadinya perbuatan asusila terhadap anak 15 tahun di Kabupaten Sikka yang juga merupakan korban gempa Flores.

1. Kendala hingga tindak lanjut

Situasi lokasi pengungsian korban gempa Flores. (Dok KOREM Wira Sakti Kupang)

Ia menyampaikan ketersediaan tenda untuk menjadi penampungan khusus korban gempa, baik laki-laki dan perempuan masih jadi kendala utama di lapangan.

"Langkah antisipatif tentu harus dilakukan salah satunya memisahkan shelter laki dan perempuan namun ini juga tidak mudah dengan keterbatasan tenda," ungkapnya.

Pada kasus gempa Flores sendiri, pengungsian mandiri justru ditemukan pada banyak titik. Kenyataan di lapangan pun pengungsian itu bercampur karena kurangnya sarana yang memadai.

"Apalagi bagi shelter mandiri yang penyebarannya tidak mudah dideteksi," kata dia.

Usai kejadian di Sikka, pihaknya sendiri sudah menurunkan tim terpadu dari DP3A ke tujuh kabupaten di Pulau Flores yang terdampak gempa.

"Penanganan kasus sudah dilakukan menindaklanjuti kasus yang dilaporkan. Tim terpadu DP3A juga sudah turun ke tujuh kabupaten itu untuk memberi layanan perlindungan perempuan dan anak," tandas Iien.

2. Ketua DPRD NTT minta toilet juga dipisah

Anak-anak korban gempa Nagekeo menonton televisi di posko pengungsian. (Dok Polda NTT(

Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni sebelumnya juga menyarankan adanya pemisahan fasilitas-fasilitas umum termasuk toilet.

"Misalnya, ada fasilitas toilet untuk perempuan dan anak saja dan kita berharap pemerintah daerah bisa menyediakan khusus," ungkapnya.

Emi merespons kejadian asusila di situasi seperti ini korban anak baik laki-laki jadi kelompok paling rentan sehingga harus diperhatikan baik-baik. Untuk itu ia meminta dapat dipetakan fasilitas-fasilitas umum khusus bagi anak-anak dan perempuan.

Ia juga mendorong kepolisian untuk hadir dan memastikan keamanan di wilayah pengungsian agar kejadian yang sama tidak terulang.

3. Terjadi di dua lokasi berbeda

Ilustrasi polisi pelaku pelecehan seksual terhadap korban pemerkosaan di kantor polisi. (IDN Times/Putra F. D. Bali Mula)

Sebelumnya, Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno melalui Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, mengungkap kejadian asusila yang menimpa korban anak, R (15) yang juga korban gempa Flores.

Kejadian yang menimpa korban ini diketahui terjadi pada 17 dan 18 Agustus 2026 di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Ia menegaskan peristiwa itu bukan berlangsung di tenda pengungsian tapi di dua lokasi berbeda.

"Hasil pendalaman diketahui pada 17 Agustus 2026, diduga persetubuhan ini terjadi di belakang SD Gembira. Kejadian kedua pada 18 Agustus 2026, terjadi di rumah kakak terduga pelaku yang pada saat itu ditinggalkan untuk mengungsi pascagempa bumi," tukasnya.

Editorial Team

Related Article