Rugi Rp2 Miliar per Hari, Krisis Air Gili Trawangan Bikin Turis Hengkang

Mataram, IDN Times - Destinasi wisata unggulan Gili Trawangan, Lombok Utara, sedang mengalami krisis air bersih. Krisis air bersih yang melanda destinasi wisata favorit wisatawan domestik dan mancanegara itu terjadi setelah PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) menyetop pasokan air bersih, karena persoalan izin lingkungan.
PT TCN merupakan investor yang bekerja sama dengan PDAM Amerta Dayan Gunung, milik Pemda Lombok Utara, untuk menyediakan pasokan air bersih di Gili Trawangan. PT TCN menghentikan pasokan air bersih sejak akhir pekan lalu.
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan mengatakan persoalan ini telah memicu pembatalan kunjungan (cancellation) serta permintaan pengembalian dana (refund) dari para wisatawan.
Selain itu, turis yang berkunjung hengkang lebih awal dari Gili Trawangan. Dia juga menyebut kerugian yang dialami pelaku usaha pariwisata di Gili Trawangan mencapai Rp2 miliar per hari.
"Saya belum update data terbarunya ke teman-teman (pelaku usaha) karena semua pada sibuk mengurus bagaimana caranya dapat air. Tapi saya cek kemarin itu 300-an wisatawan yang sudah early check out di dua hari lalu," kata Kusnawan dikonfirmasi IDN Times, Senin (7/9/2026).
1. Kerugian diperkirakan Rp2 miliar per hari

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Gili Trawangan Lombok Utara. (IDN Times/Muhammad Nasir) Kusnawan mengungkapkan banyak wisatawan yang komplain akibat krisis air bersih di Gili Trawangan. Sehingga mereka melakukan check out lebih awal. Selain itu, wisatawan juga banyak yang membatalkan kunjungan ke Gili Trawangan dan meminta refund atau pengembalian dana.
Para pelaku wisata di Gili Trawangan merasa kesulitan untuk memberikan kepastian kepada calon tamu atau wisatawan mengenai kondisi destinasi lain di Gili Trawangan. Karena dikhawatirkan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dengan kondisi krisis air bersih saat ini.
Dia menyebut potensi kerugian yang dialami oleh para pelaku usaha di Gili Trawangan diperkirakan mencapai hingga Rp2 miliar per hari. Mengingat tingkat kunjungan wisatawan masih cukup tinggi di angka lebih dari 3.000 orang per hari.
"Kalau melihat perputaran ekonomi sekarang mungkin masuk Rp2 miliar per hari. Karena kondisi kayak sekarang mereka tamu-tamu ini, dia konsumsi, ongkos, hunian yang cukup tinggi," sebutnya.
2. Kejadian berulang sudah empat kali, pelaku wisata minta solusi permenan

Ketua IHGMA NTB Lalu Kusnawan. (IDN Times/Muhammad Nasir) Kusnawan menyebutkan bahwa kasus krisis air bersih di Gili Trawangan bukan kejadian baru. Tetapi kejadian ini sudah berulang hingga empat kali. Untuk itu, mereka meminta pemerintah daerah agar pasokan air bersih dapat segera normal kembali.
Dia juga meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat memberikan atensi serius terkait persoalan air bersih di Gili Trawangan. Pemerintah di desak segera menghadirkan solusi permanen supaya kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Harapan kita air bersih on (mengalir) lagi, tidak ada yang lain. Pemerintah harus benar-benar serius menangani ini dan tidak terjadi lagi kayak begini. Ini sudah empat kali berulang kejadian ini. Solusi permanen harus ada sekarang," desaknya.
3. Krisis air bersih merusak citra pariwisata Gili Trawangan

Dropping air bersih ke Gili Trawangan oleh Pemda Lombok Utara. (dok. Istimewa) Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB itu meminta seluruh pemangku kepentingan mulai dari Pemda Lombok Utara, Pemprov NTB dan pemerintah pusat menyamakan mindset dalam menjaga kondusivitas destinasi pariwisata yang ramai dikunjungi turis mancanegara tersebut.
Kondisi krisis air bersih yang terjadi saat ini telah merusak citra pariwisata Gili Trawangan di mata wisatawan mancanegara. Untuk itu dibutuhkan penanganan yang cepat agar krisis air bersih segera tertangani.
"Intinya mindset antar stakeholders semuanya harus sama mulai dari pemerintah daerah, provinsi dan pusat, semua pihak termasuk industri bagaimana kita minimal menjaga kondusivitas destinasi. Karena ini kan kondisi tidak kondusif, ini sudah jelas menjadi buah bibir wisatawan. Sudah terjadi, sekarang mengembalikan itu tidak mudah," kata dia.
Menyikapi persoalan krisis air bersih di Gili Trawangan,Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menggelar rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup. Iqbal mengatakan bahwa persoalan air di kawasan Gili Trawangan tidak sederhana karena bersinggungan langsung dengan aspek regulasi, izin lingkungan, serta proses hukum yang sedang berjalan.
Kendati demikian, pemenuhan kebutuhan pokok air bersih bagi warga dan wisatawan tetap harus diutamakan. Untuk menjaga kelangsungan pelayanan publik dan sektor pariwisata, Pemprov NTB mendorong skema diskresi operasional bagi perusahaan penyedia air bersih selama kurun waktu enam bulan ke depan. Opsi ini disiapkan sebagai solusi transisi agar pasokan air dapat segera mengalir sembari proses penyelesaian hukum dan perizinan ditempuh.
Langkah kedaruratan tersebut juga telah dikomunikasikan secara langsung oleh Gubernur Iqbal kepada Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat. Menteri Lingkungan Hidup, kata Iqbal, menyampaikan komitmen untuk membantu mencarikan solusi. Pemprov NTB selanjutnya akan memformalkan langkah tersebut melalui koordinasi dan surat resmi antar-lembaga.
Dalam pembicaraan tersebut, pihak kementerian menyetujui dan mendukung upaya pencarian solusi darurat atas kondisi krisis air di pulau wisata tersebut. "Dua hari lalu saya sudah berbicara langsung dengan Pak Menteri Lingkungan Hidup untuk menjelaskan situasi kedaruratan (emergency) ini. Suplai air harus tetap berjalan karena menyangkut kehidupan masyarakat, pelayanan publik, dan keberlangsungan sektor pariwisata," kata Iqbal.
Atas ketidaknyamanan yang terjadi, Iqbal menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, pelaku usaha pariwisata, hingga para wisatawan. Pihaknya berjanji bersama seluruh pemangku kepentingan akan memastikan air bersih kembali mengalir normal dalam satu hingga dua hari ke depan.
Sebagai penanganan jangka pendek sambil menunggu jaringan pipa utama berfungsi penuh, Pemda Lombok Utara telah menerjunkan bantuan pengiriman (dropping) air bersih secara berkala untuk kebutuhan harian warga di Gili Trawangan.
Mengalirkan kembali jaringan air bersih yang ada dinilai sebagai pilihan paling realistis untuk jangka pendek hingga beberapa bulan mendatang. Namun, Pemprov NTB menegaskan bahwa skema ini bersifat sementara hingga ditemukannya penyelesaian yang permanen dan sah secara hukum.


















