Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kawanan Paus Pilot Terjebak di Rote: 34 Ekor Diselamatkan, 21 Mati
Penanganan paus pilot yang terdampar di Rote Ndao. (Dok. Polres Rote Ndao)
  • Sekitar 55 paus pilot terdampar di Pantai Mbadokai, Rote Ndao; 34 ekor berhasil diselamatkan sementara 21 ekor mati dan dikubur di lokasi pantai.
  • Paus yang mati terdiri dari 8 jantan dan 13 betina, termasuk anak-anak; warga diimbau tidak mengonsumsi bagian tubuh paus karena statusnya dilindungi.
  • Penyebab pasti terdamparnya paus masih diteliti, namun diduga terkait gangguan navigasi, kondisi pantai landai, atau faktor lingkungan; kolaborasi lintas pihak diapresiasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Puluhan paus pilot terdampar di Pantai Mbadokai, Rote Ndao, menyebabkan 21 ekor mati dan 34 ekor berhasil digiring kembali ke laut setelah upaya penyelamatan oleh berbagai pihak.
  • Who?
    Kejadian ini melibatkan Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, TNI AL Pulau Rote, Polsek Rote Barat Daya, organisasi Thrive Conservation dan Blue Forest, pemerintah desa, serta warga setempat.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Kawanan paus pertama kali terlihat pada 9 Maret 2026 sore dan proses evakuasi berlangsung hingga 10 Maret 2026. Keterangan resmi disampaikan pada 11 Maret 2026.
  • Why?
    Penyebab pasti masih menunggu hasil kajian ilmiah. Dugaan sementara mencakup gangguan navigasi akibat kebisingan laut, kondisi pantai landai, atau faktor kesehatan dan lingkungan.
  • How?
    Paus yang masih hidup digiring kembali ke laut menggunakan kapal oleh aparat dan relawan. Bangkai paus mati dikubur di pantai dengan ekskavator milik Dinas PUPR setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Puluhan paus pilot terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang Imam Fauzi menyampaikan sekitar 55 ekor paus yang terjebak di perairan dangkal tersebut dan 34 ekor yang berhasil diselamatkan dan digiring kembali ke laut.

"Sementara 21 ekor ditemukan mati dan akhirnya dikuburkan dalam peristiwa ini terjadi sejak 9–10 Maret 2026," kata Imam dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/3/2026).

1. Sempat dievakuasi namun kembali terdampar

Penanganan paus pilot yang terdampar di Rote Ndao. (Dok Polres Rote Ndao)

Imam menerangkan, pihaknya mendapat laporan awal dari Pangkalan TNI AL (Lanal) Pulau Rote yang mendapati kawanan paus pilot muncul di Pantai Batutua pada Senin (9/3) sekitar pukul 17.15 WITA. Personel TNI AL bersama polisi sempat menggiring kawanan paus tersebut kembali ke laut menggunakan kapal. Namun beberapa jam kemudian, sekitar pukul 21.30 WITA, sebagian kawanan paus kembali terdampar di Pantai Mbadokai.

Kemudian timnya turun pada Selasa (10/3/2026) pukul 07.00 WITA, bersama organisasi konservasi Thrive Conservation dan Blue Forest, serta TNI AL, Polsek Rote Barat Daya, pemerintah desa, serta masyarakat melakukan penyelamatan terhadap paus yang masih hidup.

2. Warga diimbau tidak mengonsumsi bangkai paus

Penanganan paus pilot yang terdampar di Rote Ndao. (Dok Polres Rote Ndao)

Identifikasi awal menunjukkan satwa laut ini merupakan Paus Pilot Sirip Pendek (Short-finned Pilot Whale / Globicephala macrorhynchus) yang dilindungi. Imam merinci dari 21 ekor yang mati ini terdiri dari 8 jantan dan 13 betina, dengan 4 di antaranya anak dan 17 dewasa. Tim kemudian melakukan identifikasi, pengukuran, serta nekropsi terhadap paus yang mati untuk keperluan penelitian dan mengetahui penyebab pasti kematian.

"Hasil identifikasi menunjukkan mamalia laut tersebut Individu terbesar memiliki panjang sekitar 5,1 meter, sementara yang terkecil sekitar 2,4 meter," jelas dia.

Setelahnya bangkai paus yang mati dikubur di lokasi pantai tersebut menggunakan ekskavator milik Dinas PUPR Kabupaten Rote Ndao. Prosesnya dimulai sejak 12.30 WITA hingga penguburan selesai pukul 19.30 WITA.

Ia mengimbau warga agar tidak mengambil atau mengonsumsi bagian tubuh paus karena satwa tersebut merupakan biota laut yang dilindungi.

3. Penyebab fenomena ini perlu kajian lebih lanjut

Penanganan paus pilot yang terdampar di Rote Ndao. (Dok Polres Rote Ndao)

Menurutnya, fenomena paus terdampar secara massal ini bisa karena berbagai faktor. Dari gangguan sistem navigasi akibat kebisingan laut, kondisi pantai yang landai, hingga faktor kesehatan dan lingkungan. Namun ia menyampaikan penyebab pastinya masih perlu kajian ilmiah lebih lanjut.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, secara terpisah mengapresiasi kerja sama berbagai pihak yang terlibat dalam penyelamatan paus tersebut.

“Kolaborasi aparat, pemerintah daerah, organisasi konservasi, dan masyarakat menjadi kunci dalam penanganan cepat paus pilot yang terdampar di Rote Ndao,” ujar dia

Editorial Team