Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Minyak di Laut Pulau Semau Berasal dari Kebocoran Bangkai Kapal
Proses pengangkutan bangkai kapal dan pembersihan tumpahan minyak. (Dok Polda NTT)
  • Ditpolairud Polda NTT menduga tumpahan minyak di perairan Pulau Semau berasal dari kebocoran bangkai KM Kuala Emas saat pengangkatan dan pemotongan lambung kapal.
  • Kebocoran MFO terjadi di antara Palka 2 dan 3, di luar perkiraan teknis, lalu mencemari sejumlah pesisir Pulau Semau, termasuk Hansisi, Uiasa, Huilelot, dan Batuinan.
  • Pembersihan telah mengamankan sekitar lima hingga enam ton minyak dengan tambahan perahu dan peralatan khusus, sementara pencemaran mengancam ratusan petani rumput laut serta risiko gagal panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil diduga mencemari perairan dan sejumlah pesisir Pulau Semau setelah keluar dari bangkai KM Kuala Emas saat proses pemotongan kapal.
  • Who?
    Ditpolairud Polda NTT, konsorsium pelaksana pengangkatan kapal, PT Nusantara Salvage Indonesia, masyarakat Pulau Semau, serta ratusan petani rumput laut terlibat atau terdampak dalam kejadian ini.
  • Where?
    Kebocoran terjadi pada lambung kiri KM Kuala Emas, antara Palka 2 dan Palka 3. Pencemaran dilaporkan di pesisir Pulau Semau, Kabupaten Kupang, termasuk Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, dan Batuinan.
  • When?
    Kebocoran terjadi pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA, saat pemotongan bangkai kapal dalam proses pengangkatan menggunakan Crane Barge Hong Bang 6.
  • Why?
    Minyak keluar dari bagian kapal yang dipotong, diduga tangki balas yang sebelumnya diperkirakan tidak dilalui jalur bahan bakar. Titik kebocoran disebut berada di luar perkiraan teknis.
  • How?
    Pembersihan dilakukan melalui penambahan perahu, pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, dan penyedotan minyak. Sekitar lima hingga enam ton minyak telah diamankan dari area terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Minyak kapal bocor ke laut dekat Pulau Semau saat bangkai kapal KM Kuala Emas dipotong. Minyak itu mengotori banyak pantai dan menempel di rumput laut. Petani rumput laut jadi takut gagal panen. Polisi, pekerja proyek, dan warga sekarang membersihkan minyak. Mereka sudah mengumpulkan sekitar lima sampai enam ton minyak dari laut dan pantai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap tumpahan minyak yang mencemari perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, diduga berasal dari kebocoran bangkai KM Kuala Emas. Kebocoran terjadi saat proses pengangkatan kapal menggunakan Crane Barge Hong Bang 6.

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, menyampaikan minyak itu berjenis Marine Fuel Oil (MFO) atau bahan bakar kapal yang keluar saat pemotongan dilakukan pada lambung kiri kapal. Ia menyampaikan ini berdasarkan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) setelah menerima laporan dugaan pencemaran laut di kawasan tersebut.

1. Kebocoran di luar perkiraan teknis

Proses pengangkutan bangkai kapal dan pembersihan tumpahan minyak. (Dok Polda NTT)

Irwan menyebut personelnya sudah memeriksa dan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait sehingga memastikan sumber kejadian tersebut. Tumpahan terjadi saat proses pemotongan oleh konsorsium pelaksana di beberapa bagian kapal berlangsung tanpa ditemukan kebocoran pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA.

Titik kebocoran ini, jelas dia, berada di luar perkiraan teknis karena bagian yang dipotong diduga merupakan tangki balas kapal yang tidak dilalui jalur bahan bakar.

"Saat pemotongan dilakukan pada lambung kiri kapal di antara Palka 2 dan Palka 3, muncul kebocoran yang menyebabkan keluarnya minyak yang diduga merupakan MFO atau bahan bakar kapal," katanya.

Dampak yang ditimbulkan akibat kasus ini ialah terjadi pencemaran pada sejumlah wilayah pesisir di Pulau Semau, meliputi Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, hingga Batuinan.

2. Upaya pembersihan libatkan masyarakat

Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Setelahnya, pembersihan dilakukan bersama masyarakat di sejumlah titik, seperti Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing. "Hingga saat ini, sekitar lima hingga enam ton minyak telah berhasil diamankan dari area terdampak," ungkapnya.

Pencegahan dan pembersihan agar tak pencemaran meluas dilakukan pelaksana proyek bersama instansi terkait. "Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau," ujar Irwan.

PT Nusantara Salvage Indonesia juga sudah menambah armada penanganan dari dua menjadi empat perahu. Selain itu, dilakukan pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, hingga penyedotan minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.

3. Petani rumput laut terdampak

Cairan hitam cemari laut Pulau Semau buat petani rumput laut merugi. (Dok Istimewa)

Sebelumnya, Camat Semau, Morifali Yulius Enggelbert Mesakh, membenarkan adanya pencemaran oli yang telah menyebar di sejumlah wilayah pesisir Pulau Semau.

"Tidak menutup kemungkinan oli itu terbawa arus laut dan menyebar ke seluruh pantai yang ada di Pulau Semau," kata Morifali.

Ia mengatakan pihaknya telah melapor kepada instansi terkait dengan lebih dulu melakukan penelusuran di wilayah perairan Bolok. Kejadian ini, kata dia, mengancam mata pencaharian ratusan petani rumput laut. Lapisan minyak yang menyebar di pesisir dilaporkan telah menempel pada tanaman rumput laut hingga memicu kekhawatiran gagal panen massal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article