Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Keluarga dengan Risiko Stunting di Lotim Berpotensi Meningkat
Ilustrasi penanganan stunting. (Dok. Istimewa)

Lombok Timur, IDN Times - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Timur (Lotim), angka kemiskinan di Gumi Selaparang pada tahun 2023 mengalami kenaikan. Data tahun 2022 jumlah warga miskin Lotim sebanyak 189.640 jiwa meningkat menjadi 197.630 jiwa. Kondisi ini menyebabkan Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Lotim juga berpotensi mengalami peningkatan.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim menyebutkan, tahun 2022 jumlah KRS di Lotim 152.696. Jumlah ini hampir 50 persen dari Pasangan Usia Subur (PUS). Tahun 2023 mengalami penurunan menjadi 96,515.

1. Intensifkan pendampingan

Kepala DP3AKB Lotim, H Ahmat (IDN Times/Ruhaili)

Meningkatnya angka kemiskinan di Lotim dikhawatirkan berdampak terhadap meningkatkan angka KRS di tahun 2024 ini. Meningkatnya KRS ini bisa berdampak terhadap meningkatnga angka stunting. 

Menanggapi ini, Kepala Dinas DP3AKB Lotim, H. Ahmad mengatakan, pada tahun 2024 ini pihaknya akan berusaha untuk menurunkan, dengan terus menggencarkan program-program yang telah dicanangkan. Salah satunya mengintesifkan pendampingan terhadap KRS secara langsung berdasarkan nama dan alamat. 

"Kita terus melakukan pendampingan KRS secara khusus by name by adress. Sehingga tahun 2024 kita berharap bisa menurunkan setengahnya lagi dengan demikian maka tidak ada lagi anak stunting di Lotim,” ucapnya.

2. Kasus stunting Lotim mengalami penurunan

Website

Sementara itu, data kasus stunting Lotim mengalami penurunan. Berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), angka kasus stunting di Lotim pada akhir Februari 2024 hanya tersisa 15,9 persen atau 18.808 jiwa.

Angka tersebut menurun dari kasus stunting pada akhir 2023 yang mencapai 16,18 persen. Angka itu pun jauh lebih rendah dari persentase stunting nasional yang mencapai 21,6 persen. Sementara menurut pendataan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting Lombok Timur saat ini mencapai 27,6 persen pada 2023.

“Kalau versi e-PPGBM kita optimis mencapai target. Kalau SKI kan jauh sekali,” tegasnya.

3. Capain program KB rendah

Puluhan balita dilarikan ke Puskesmas Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Senin malam (6/5/2024). Mereka diduga keracunan usai mengonsumsi bubur Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pencegahan stunting. (Dok. Istimewa)

H. Ahmat mengatakan salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya stunting karena rendahnya capaian program KB pascasalin. Temuan lapangan banyak keluarga yang belum setahun melahirkan kembali hamil, sehingga berpotensi menimbulkan stunting. Salah satu upaya pencegahan yaitu dengan mencapai target program KB pascasalin.

"Ini juga yang akan kita genjot, meningkatkan capain target program KB pascasalin, sehingga angka KRS juga bisa ditekan," tutupnya. 

Editorial Team

EditorRuhaili

Related Article