Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jadi Korban Penembakan KKB, Ternyata Begini Sosok Nona Wili di Mata Keluarga

Kota Kupang
Jadi Korban Penembakan KKB, Ternyata Begini Sosok Nona Wili di Mata Keluarga
Nona Wili Mbuik salah satu korban penembakan KKB yang bertugas di Pemkab Jayawijaya Papua Pegunungan. (Dok Istimewa)
  • Wili Mbuik, ASN 24 tahun asal Rote, meninggal setelah ditembak KKB di Kampung Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu sore.
  • Keluarga di Rote sempat berdoa saat Wili kritis akibat luka tembak di dada kiri, sebelum menerima kabar duka bahwa ia telah meninggal.
  • Jenazah Wili diterbangkan dari Wamena ke Kupang, disemayamkan semalam di Oesapa, lalu dijadwalkan dibawa kapal ke Rote; dua ASN Dinas Pertanian lainnya juga tewas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Jarak ribuan kilometer antara pedalaman Papua Pegunungan dan Pulau Rote kini dihubungkan oleh selubung duka yang kelam. Di sebuah rumah di Busalangga, Kabupaten Rote Ndao, air mata Selvi Mbuik belum juga kering. Keponakan tersayangnya, Wili Mbuik atau yang akrab disapa Nona Wili telah pergi untuk selamanya. Ia menjadi korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya.

Bagi Selvi, kepergian Nona Wili bukanlah sekadar berita duka di layar kaca, melainkan hilangnya separuh nyawa keluarga. Tinggal di rumah yang saling berdekatan di Busalangga, Selvi adalah saksi hidup perjalanan Nona Wili sejak belia. Ia mengenal betul bagaimana pembawaan gadis itu. Di matanya, Nona Wili tumbuh menjadi anak perempuan yang hangat, penuh kasih sayang, dan tak pernah sekali pun melupakan akar dari mana ia berasal.

Meskipun takdir membawanya merantau jauh melintasi lautan hingga ke tanah Papua Pegunungan, Nona Wili tidak pernah benar-benar pergi. Baginya, keluarga selalu menjadi prioritas nomor satu. Kesibukan di tanah rantau tak pernah menjadi alasan untuk memutus silaturahmi.

Ada satu hal yang paling menyayat hati di balik kepergiannya, yaitu kedekatan Nona Wili dengan sang ayah. Sejak ibundanya berpulang bertahun-tahun silam, ikatan antara ayah dan anak perempuan ini tumbuh begitu kuat. Nona Wili adalah pelipur lara bagi ayahnya. Di sela-sela hari yang berat di Papua, ia tak pernah absen menghubungi ayahnya, sekadar memastikan pahlawan hidupnya itu dalam keadaan baik dan tidak merasa kesepian.

Namun, kehangatan itu kini dirampas paksa. Sebuah insiden keji yang tak pernah terlintas dalam benak siapa pun merenggut Nona Wili dari pelukan orang-orang yang mencintainya. Kabar duka dari Muliama itu tiba-tiba memecah ketenangan Busalangga, membawa kenyataan pahit yang tak pernah mereka inginkan.

Kini, keluarga besar di Rote Ndao harus menghadapi ujian terberat mereka. Terpukul dan hancur oleh kehilangan yang teramat dalam, mereka hanya bisa memeluk erat kenangan tentang Nona Wili, sang anak, sang keponakan, dan sang gadis penyayang yang kini telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

  1. 1. Dapat kabar sejak Rabu sore

    Potret Nona Wili Mbuik, pegawai Pemkab Jayawijaya di Papua Pegunungan yang menjadi korban penembakan KKB.
    Nona Wili Mbuik salah satu korban penembakan KKB yang bertugas di Pemkab Jayawijaya Papua Pegunungan. (Dok Istimewa)

    Sore itu, Rabu (9/9/2026), langit di atas Busalangga seolah runtuh. Kabar buruk melintasi lautan dan tiba di telinga keluarga, meremukkan hati mereka seketika.

    Nona Wili dilaporkan menjadi salah satu korban penembakan di Muliama. Dalam insiden nahas tersebut, dua Aparatur Sipil Negara (ASN) lainnya bahkan tewas seketika di lokasi kejadian.

    Di Rote, perasaan cemas, sakit hati, dan kebingungan membaur menjadi satu. Keluarga seakan kehilangan pijakan, tak tahu bagaimana semestinya menyikapi pusaran konflik yang dengan kejam merenggut darah daging mereka sendiri.

    Di tengah kepanikan, keluarga besar di Rote Ndao segera berkumpul. Tak ada daya lain selain bersimpuh dan menengadahkan tangan. Kabar awal menyebutkan bahwa Nona Wili masih berjuang di antara hidup dan mati. Dalam setiap derai air mata, mereka merapal doa dan memohon mukjizat kesembuhan.

    Harapan mereka hanya satu: memohon agar nyawa perempuan 24 tahun itu diselamatkan. Mereka menanti kepulangannya dengan raga yang sehat, dan sangat takut jika yang tiba nanti hanyalah jenazah yang siap dikebumikan.

    Namun, takdir berkata lain. Harapan yang sempat dipegang erat itu perlahan redup, lalu hancur sepenuhnya. Kabar duka itu akhirnya datang mengetuk pintu mereka: Nona Wili telah mengembuskan napas terakhirnya.

    Mengenang detik-detik mencekam yang mengiringi kepergian keponakannya, kepedihan Selvi tak lagi terbendung.

    "Kami sudah syok begitu karena dikirimi foto kena di bagian kiri dada. Kami itu langsung telepon keluarga di situ. Anak kami ini kritis. Mereka bawa ke rumah sakit. Mereka sempat tangani ke dokter di ruangan itu. Kami di sini sudah histeris. Kami mohon Tuhan tolong, kami punya anak semoga dia sehat-sehat saja tapi selang beberapa menit kami lagi doa, kabar ada lagi kami punya anak tiada. Itu sudah sekitar setengah 5," kata Selvi mengenang detik-detik kepergian Nona Wili.

  2. 2. Sosok yang sopan, penyayang dan ingat keluarga

    Nona Wili berpose setelah penerimaan SK CPNS, mengabadikan momen penting pengangkatan sebagai calon pegawai negeri sipil.
    Nona Wili berpose dengan usai penerimaan SK CPNS. (facebook.com/I Will)

    Kehilangan ini terasa semakin berat manakala keluarga mengenang kembali sosok Nona Wili semasa hidup. Di mata mereka, ia bukan sekadar anak perempuan biasa, melainkan sosok penyejuk hati yang penuh perhatian. Ia dikenal sangat menghargai orang lain dan memiliki belas kasih yang tinggi, sifat yang selalu tercermin dari setiap tutur katanya yang lembut dan tidak pernah menyakiti.

    Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Nona Wili justru menunjukkan kedewasaan yang luar biasa, terutama dalam caranya merawat sang ayah meski terpisahkan jarak.

    “Anak itu terlalu sopan, tidak ada satu pun kata kasar dari dia punya hati, tidak ada, Kak. Anaknya baik sekali. Tiap gajian dia telepon bapaknya butuh apa. Kirimi bapaknya uang untuk belanja apa yang bapaknya mau. Dia anak bungsu. Baik sekali. Mereka ada lima bersaudara dan dia yang bungsu," ungkap Selvi dengan nada bergetar menahan tangis.

    Jalan pengabdian Nona Wili di tanah Papua sebenarnya belumlah panjang. Belum genap beberapa tahun berlalu sejak ia menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski demikian, menurut Selvi, keponakannya itu adalah abdi negara yang sangat setia pada pekerjaannya. Ia menjalankan pelayanan di pedalaman Papua dengan tulus, tanpa pernah mengeluhkan kerasnya kehidupan di daerah rawan konflik.

    Namun kini, pengabdian tulus gadis yang sopan itu harus dibayar dengan nyawanya. Di tengah isak tangis dan rasa duka yang menyelimuti keluarga di Busalangga, terselip asa dan tuntutan keadilan, meski mereka merasa begitu kecil dan tak berdaya menghadapi situasi ini.

    "Saya punya anak itu baik sekali, tidak pernah satu kata buruk dengan kita. Tidak ada. Saya minta agar orang yang tembak (dia) itu ditangani (dihukum, red) seperti apa, tapi kita tidak tahu harus bagaimana," pungkas Selvi dengan nada perih dan putus asa.

  3. 3. Jenazah masih disemayamkan di Kupang

    Dokumentasi terkait tiga korban tewas dalam penembakan yang dikaitkan dengan KKB di Papua Pegunungan.
    Tiga korban tewas dalam penembakan KKB di Papua Pegunungan. (Dok Istimewa)

    Jenazah ASN tersebut sudah mulai diterbangkan sejak pukul 08.00 WITA dari Wamena - Jayapura - Makassar - Kupang. Setelah dari Kupang nantinya jenazah akan dibawa dengan kapal ke Rote esok paginya.

    "Anak kami sekarang dalam perjalanan dan belum bisa langsung ke Rote masih transit. Tiba di Kupang jam 8 malam katanya tadi. Semayam di Nona Wili punya paman kandung di Oesapa satu malam. Mamanya juga sudah meninggal, kasihan. Nanti paginya baru dengan kapal pagi ke Rote," ungkapnya.

    Sebelumnya, Wili Mbuik menjadi korban penembakan oleh KKB bersama dua abdi negara lainnya yaitu Aprida Rapi (49), Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya; drh. Alfonsius Albinus Mehan (35), dokter hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Mereka bertiga adalah pegawai di Dinas Pertanian Jayawijaya.

    Penembakan ini terjadi di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026) sore. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.00–15.47 WIT dan dari delapan orang yang berada dalam rombongan, lima orang dilaporkan selamat, sedangkan tiga lainnya meninggal dun1ia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More