Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Daftar 8 Jemaah Haji yang Masih Dirawat di RS Arab Saudi dan RSUD NTB
Jemaah haji saat tiba di Asrama Haji NTB di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Proses pemulangan jemaah haji NTB telah berakhir pada Minggu (21/6/2026). Meski demikian, masih ada 8 jemaah haji NTB yang belum dipulangkan ke kampung halaman karena sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram mencatat, sebanyak 4 jemaah haji asal NTB belum dapat dipulangkan dari Tanah Suci karena sedang menjalani perawatan di RS Arab Saudi. Kemudian empat jemaah belum dapat dipulangkan ke kampung halaman, karena sedang menjalani perawatan di RSUD Provinsi NTB.

1. Identitas dan kloter empat jemaah haji yang masih dirawat di RS Arab Saudi

Kepala BKK Kelas I Mataram Herman Nugraha. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Kepala BKK Kelas I Mataram, Herman Nugraha, mengatakan hingga Minggu (21/6/2026), masih terdapat empat jemaah haji Debarkasi Lombok (LOP) yang menjalani perawatan di RS Arab Saudi. Keempat jemaah itu berasal dari Kloter 11, 12, 14, dan 15.

Mereka belum dapat dipulangkan karena masih menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan. Berdasarkan data BKK Kelas I Mataram, seorang jemaah berinisial SN asal Dompu dari Kloter 11 masih menjalani perawatan akibat sindrom gangguan pernapasan akut atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Sementara itu, jemaah berinisial K asal Aikmel, Lombok Timur, dari Kloter 12 dirawat karena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Jemaah berinisial S asal Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, dari Kloter 14 masih menjalani perawatan akibat ileus atau gangguan pada saluran pencernaan.

"Adapun jemaah berinisial S asal Sikur, Lombok Timur, dari Kloter 15 juga masih menjalani perawatan di Arab Saudi," kata Herman.

2. Mayoritas mengalami gangguan pernapasan

Jemaah haji asal NTB di Arab Saudi. (dok. Kemenhaj NTB)

Dia menjelaskan sebagian besar jemaah haji NTB yang masih dirawat di RS Arab Saudi mengalami gangguan pada sistem pernapasan dan penyakit penyerta lainnya. Sehingga belum memungkinkan untuk diterbangkan ke Indonesia.

“Di sini kebanyakan karena gangguan pernapasan, gangguan jantung, ada penyakit paru. Semuanya berkaitan dengan pernapasan dan jantung,” jelasnya.

Selama masa tugas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi masih berlangsung, kondisi para jemaah akan dipantau setiap hari oleh petugas kesehatan haji. "Kalau dia memungkinkan untuk sembuh dan dipulangkan, bisa disesuaikan dengan keberangkatan reguler atau pesawat reguler yang nanti dikoordinasikan oleh Kementerian Haji,” kata Herman.

2. Identitas jemaah haji yang masih dirawat di RSUD NTB

Jemaah haji lansia di kloter 15 Embarkasi Lombok. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Selain jemaah haji yang dirawat di RS Arab Saudi, terdapat empat jemaah haji Debarkasi Lombok yang masih menjalani perawatan di RSUD Provinsi NTB. Data per Minggu, 21 Juni 2026, seorang jemaah haji berinisial M asal Aikmual, Lombok Tengah, dari Kloter 7 masih dirawat akibat penurunan kesadaran yang diduga berkaitan dengan gangguan intrakranial atau metabolik.

Kemudian, jemaah hani berinisial R asal Mpunda, Kota Bima, dari Kloter 11 menjalani perawatan karena mengalami penurunan kesadaran akibat dehidrasi dan kurang asupan. Selanjutnya, jemaah haji berinisial J asal Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, dari Kloter 14 masih menjalani perawatan akibat dugaan pneumonia komunitas atau community acquired pneumonia (CAP).

Selain itu, jemaah haji berinisial LB asal Muncan, Lombok Tengah, dari Kloter 15 dirawat karena dugaan pneumonia komunitas yang disertai hipoglikemia. Sebelumnya, kata Herman, jumlah jemaah haji yang dirawat di RSUD NTB mencapai 14 orang.

Namun jumlah tersebut terus berkurang setelah sebagian pasien membaik dan diperbolehkan pulang, sementara ada pula yang pulang atas permintaan sendiri serta terdapat jemaah yang meninggal dunia. Dia menegaskan seluruh jemaah haji yang masih menjalani perawatan akan terus dipantau hingga kondisi kesehatannya memungkinkan untuk dipulangkan atau kembali ke daerah asal masing-masing.

Editorial Team

Related Article