Ketua KUB Angsa Laut Muhammad Mansur Dokeng alias Dewa. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Angsa Laut Muhammad Mansur Dokeng atau yang akrab disebut Dewa menyebut kesulitan BBM juga mempersulit pekerjaan nelayan pengguna Pertamax dan solar. Biasanya nelayan memperoleh BBM dengan rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT.
"Kalau biasanya nelayan menggunakan 10 liter dan jarak sampai 3 - 4 mil, sekarang dengan kenaikan harga BBM mereka kurangi jadi 1-2 mil saja supaya hanya sampai 5 liter," rincinya.
Penggunaan BBM memang harus lebih bijak dilakukan nelayan saat ini untuk menekan biaya operasional. Namun justru produksi atau hasil tangkapan mereka justru malah berkurang, belum lagi dipotong untuk biaya operasional.
"Yang mana bisa sampai Rp 600 - 700 ribu tapi dengan jarak 1 - 2 mil itu bisa Rp 300 - 400 ribu pendapatan," jelas Dewa.
Ia menyebut kelompoknya memiliki 21 armada dan para nelayan tersebut memiliki keluhan yang serupa. Dewa berharap pemerintah memperhatikan dampak BBM ini terhadap pekerjaan mereka.
Ia juga meminta agar bisa disediakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan di kampung mereka.
"Agar teman-teman nelayan bisa lebih efisien waktu atau bisa beristirahat. Jangan sudah pulang dari laut harus begadang lagi angkat bahan bakar yang jauh sampai di El Tari II. Kalau bisa ada SPBU khusus nelayan di sini," ungkap dia.