Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BBM Sulit, Warga di Kupang Masak Pakai Kayu dari Bangkai Kapal

BBM Sulit, Warga di Kupang Masak Pakai Kayu dari Bangkai Kapal
Warga di Kampung Nelayan Kelurahan Oesapa Kota Kupang memasak di tungku api menggunakan kayu sisa bangkai kapal. (IDN Times/Putra Bali Mula)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Warga Kampung Nelayan Oesapa di Kupang terpaksa memakai kayu dari bangkai kapal untuk memasak karena kesulitan mendapatkan minyak tanah selama dua bulan terakhir.
  • Antrean panjang dan stok minyak tanah yang cepat habis membuat warga hanya bisa memperoleh sedikit bahan bakar, sementara harga LPG dinilai terlalu mahal bagi mereka.
  • Kenaikan harga BBM memaksa nelayan mengurangi jarak melaut demi hemat bahan bakar, sehingga pendapatan menurun dan mereka berharap pemerintah menyediakan SPBU khusus nelayan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kupang, IDN Times - Para ibu rumah tangga di Kampung Nelayan Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, terpaksa memakai kayu bekas bangkai kapal untuk memasak. Mereka beralih menggunakan tungku api karena kesulitan mendapatkan minyak tanah sejak dua bulan terakhir.

Tidak saja untuk kebutuhan dapur, kesulitan stok dan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga berdampak aktivitas para nelayan. Mereka harus mengurangi intensitas dan jarak melaut demi hemat BBM.

1. Bongkar bangkai kapal

Beberapa kapal nelayan bersandar di tepi Pantai Oesapa saat air laut surut dengan latar langit biru dan pegunungan di kejauhan.
Kapal-kapal nelayan di Pantai Oesapa yang belum melaut. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Erni Finit, salah seorang warga RT 33/RW 011 ini mengaku dirinya menggunakan tungku api untuk memasak air minum dan makanan mereka sehari-hari.

"Masak semua pakai ini. Mau bagaimana lagi, sudah kembali ke zaman dulu sudah," ungkap wanita 53 tahun itu saat sedang memasak di dapur kecil yang dibuatnya khusus untuk tungku api itu.

Mereka paling mudah mendapatkan sisa-sisa kapal yang sudah rusak. Bangkai kapal tersebut akan mereka bongkar agar kayunya bisa digunakan. Tentunya, kata dia, setelah mendapat izin dari pemilik kapal.

Untuk memperbanyak stok, jelas dia, mereka meminta kepada tukang-tukang bangunan supaya bisa mengumpulkan kayu sisa proyek.

Bila tidak demikian maka mereka harus membuat pengeluaran khusus membeli kayu bakar. Ia sendiri memiliki ada 9 orang dalam satu keluarga ini yang perlu dipenuhi kebutuhannya.

"Jadi ya sudah pakai bangkai kapal yang ada, mau beli lagi kita setengah mati sekarang," tambahnya.

2. Antrean berjam-jam malah tak dapat apa-apa

Seorang warga Kampung Nelayan di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, sedang memasak di tungku api menggunakan kayu sisa bangkai kapal.
Warga di Kampung Nelayan Kelurahan Oesapa Kota Kupang memasak di tungku api menggunakan kayu sisa bangkai kapal. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Sebelumnya, ia harus mengantre berjam-jam di pangkalan minyak tanah. Satu orang pun hanya bisa mendapatkan 5 liter atau satu jeriken minyak tanah yang hanya memenuhi kebutuhan memasak beberapa hari.

Sistem antrean yang panjang pun harus dipatuhi karena ratusan orang yang membutuhkan minyak tanah tersebut. Erni menyatakan ia beberapa kali tak mendapatkannya karena stok minyak tanah keburu habis saat belum sampai gilirannya.

"Kita tunggu berjam-jam juga kita bisa tidak dapat karena masyarakat banyak. Itu kita antre saja pakai jeriken dimasukkan dalam tali supaya karena kalau kita yang berdiri baris itu panjang nanti," ungkap dia.

Ia mengaku tak mau menggunakan gas LPG selain karena takut dengan penggunaannya, harga untuk LPG pun bisa lebih mahal, misalnya 12 kilogram bisa menyentuh Rp 500 ribu. Harga 5 liter minyak sendiri saat ini bisa menyentuhnya Rp 32 ribu - Rp 36 ribu.

"Kami minta pemerintah untuk perhatikan ini agar kami tidak susah lagi karena semua kebutuhan makin mahal dan minyak tanah saja sulit untuk kita dapat," tambah dia.

3. Kurangi jarak untuk hemat operasional

Seorang pria duduk di meja kayu mengenakan kaus hitam bertuliskan 'Black Boogie', berbicara dengan latar belakang area terbuka dekat pantai.
Ketua KUB Angsa Laut Muhammad Mansur Dokeng alias Dewa. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Angsa Laut Muhammad Mansur Dokeng atau yang akrab disebut Dewa menyebut kesulitan BBM juga mempersulit pekerjaan nelayan pengguna Pertamax dan solar. Biasanya nelayan memperoleh BBM dengan rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT.

"Kalau biasanya nelayan menggunakan 10 liter dan jarak sampai 3 - 4 mil, sekarang dengan kenaikan harga BBM mereka kurangi jadi 1-2 mil saja supaya hanya sampai 5 liter," rincinya.

Penggunaan BBM memang harus lebih bijak dilakukan nelayan saat ini untuk menekan biaya operasional. Namun justru produksi atau hasil tangkapan mereka justru malah berkurang, belum lagi dipotong untuk biaya operasional.

"Yang mana bisa sampai Rp 600 - 700 ribu tapi dengan jarak 1 - 2 mil itu bisa Rp 300 - 400 ribu pendapatan," jelas Dewa.

Ia menyebut kelompoknya memiliki 21 armada dan para nelayan tersebut memiliki keluhan yang serupa. Dewa berharap pemerintah memperhatikan dampak BBM ini terhadap pekerjaan mereka.

Ia juga meminta agar bisa disediakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan di kampung mereka.

"Agar teman-teman nelayan bisa lebih efisien waktu atau bisa beristirahat. Jangan sudah pulang dari laut harus begadang lagi angkat bahan bakar yang jauh sampai di El Tari II. Kalau bisa ada SPBU khusus nelayan di sini," ungkap dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -

Latest News NTB

See More