Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
75 Ribu UMKM di Loteng Sudah Terdata, 30 Ribu Diusulkan Dapat BPUM
Gadis menenun di desa sade (instagram.com/fikhanf)

Lombok Tengah, IDN Times - Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sekitar 75 ribu UMKM telah masuk dalam basis data (database) pemerintah pusat atau di Sistem Informasi Data Terpadu (SIDT) sesuai dengan arahan Kementerian Koperasi dan UKM. Meski sebelumnya sudah ada target 125 ribu UMKM. Dari jumlah itu, sebanyak 30 ribu UMKM sudah diusulkan untuk dapat menerima bantuan sosial bagi pelaku usaha mikro (BPUM) imbas kenaikan harga BBM.

"Yang sudah masuk data SIDT itu sebanyak 75 ribu UMKM dan koperasi dari target 125 ribu UMKM di Lombok Tengah," kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah Ikhsan seperti dilansir dari Antara pada Senin (19/9/2022).

1. Pendataan sejak Juni 2022

ilustrasi dokumen-dokumen kertas (pexels.com/pixabay)

Ia mengatakan, 75 ribu UMKM atau 60 persen yang telah masuk database itu merupakan hasil pendataan yang telah dilakukan sejak Juni hingga September 2022. Pendataan dilakukan dengan melibatkan 400 petugas yang tersebar di 12 kecamatan atau 139 desa.

"Pendataan ini dilaksanakan sampai dengan Oktober. Yang didata itu yang aktif saat ini, kalau tidak aktif ke depan akan diperbaharui," katanya. 

2. Pendataan secara nasional

ilustrasi dokumen-dokumen kertas yang berantakan (unsplash.com/andrewilliam)

Tujuan pendataan ulang UMKM secara online tersebut guna mewujudkan Data Tunggal Koperasi dan UKM (SIDT-KUMKM) sesuai dengan arahan dari Presiden Jokowi. Pendataan ini dilaksanakan secara nasional se-Indonesia.

"Pendataan ini difasilitasi pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM," katanya.

Dengan adanya data UMKM secara online tersebut diharapkan tidak ada data yang tumpang tindih, sehingga dalam pelaksanaan program atau kebijakan sesuai dengan yang direncanakan.

"Data ini menjadi acuan pemerintah dalam melaksanakan program peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," katanya.

3. Tak bisa manual

ilustrasi menggunakan komputer (pexels.com/Vojtech Okenka)

Pendataan ini dilaksanakan secara langsung oleh petugas, sehingga data yang dihasilkan sesuai dengan kondisi UMKM tersebut. Ia berharap kepada para pelaku UMKM bisa memberikan informasi yang jelas dan jujur, supaya tidak ada kesalahan data ke depannya.

"Pendataan secara manual tidak bisa. Harus melalui SIDT," katanya.

3. Diusulkan terima BPUM

Ilustrasi uang rupiah (IDN Times/Anggun Puspitoningrum).

Sementara itu, sebanyak 30 ribu pelaku UMKM telah diusulkan menjadi penerima manfaat program bantuan sosial bagi pelaku usaha mikro (BPUM) dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Yang diusulkan ini sisa pelaku UMKM yang belum mendapatkan bantuan sosial dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia," ujarnya.

Dengan adanya program BPUM dari pemerintah pusat itu diharapkan dapat menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat serta bisa membatu para pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya.

"Yang diusulkan itu yang telah masuk data base. Semoga bantuan itu bisa segera disalurkan, karena ini kebijakan pemerintah daerah, kita daerah hanya mengusulkan," katanya.

5. Dorong pertumbuhan ekonomi UMKM

Ilustrasi Uang Rp75000 (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Ia mengatakan, total jumlah pelaku UMKM yang sebenarnya telah diberikan bantuan dari pemerintah pusat atau Presiden sejak 2021 hingga saat ini sekitar 70 ribu pelaku UMKM. Bantuan yang diberikan itu sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi masyarakat dampak COVID-19 maupun kenaikan harga BBM.

"UMKM itu diharapkan bisa menyerap tenaga kerja dan percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.

Kenaikan harga BBM ini tentunya berdampak terhadap pertumbuhan UMKM, namun pihaknya berharap kepada pelaku UMKM bisa menyesuaikan biaya operasional, sehingga usahanya tetap berjalan. Selain itu, pemerintah daerah juga akan terus memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM, supaya tetap berkembang dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Bahan baku naik dan daya beli masyarakat menurun menjadi tantangan pelaku UMKM untuk terus aktif," kata Ikhsan.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial akan menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan alokasi anggaran sebesar Rp12,4 Triliun dan menyasar 20,65 Juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia. BLT ini disalurkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) melalui PT. Pos Indonesia dan dibayarkan dua kali, yaitu Rp300 ribu pertama pada September dan Rp300 ribu kedua pada Desember.

Untuk penanggulangan dampak kenaikan BBM, pemerintah juga menyiapkan dana bantuan sosial tambahan sebesar Rp24,17 triliun, sekaligus mengalihkan subsidi BBM agar tepat sasaran dan langkah ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat yang terdampak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article