Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips agar Kamu Berhenti Terobsesi Menjadi Versi Sempurna Diri Sendiri

Wanita sedang membaca buku.
Ilustrasi Tips untuk Berhenti Menjadi Versi Sempurna Diri Sendiri. (pexels.com/George Milton)

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan terasa lebih aman jika mereka menjadi versi terbaik, atau tepatnya, versi sempurna dari diri sendiri. Kita diajarkan untuk tidak boleh salah, harus kuat, harus selalu berkembang, dan sebisa mungkin tidak mengecewakan siapa pun. Tanpa sadar, standar ini kita internalisasi sebagai ukuran nilai diri.

Namun di balik ambisi menjadi sempurna, sering tersembunyi kelelahan emosional yang tidak pernah diakui. Kita lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah mengejar standar yang terus bergeser, dan lelah merasa tidak pernah cukup. Lewat artikel ini, penulis mengajak kamu berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk menemukan cara hidup yang lebih manusiawi dan sehat secara psikologis.

Berikut 5 tips untuk berhenti terobsesi menjadi versi sempurna diri sendiri.

1. Sadari bahwa perfeksionisme bukan tanda kuat, melainkan mekanisme bertahan

Perempuan sedang duduk di kursi.
Ilustrasi Akibat dari Tidak Pernah Mengungkapkan Perasaan. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai sifat positif: disiplin, ambisius, dan bertanggung jawab. Padahal secara psikologis, perfeksionisme kerap muncul sebagai mekanisme bertahan dari rasa takut, baik itu takut gagal, takut ditolak, atau takut dianggap tidak berharga.

Banyak orang belajar sejak kecil bahwa cinta dan penerimaan datang bersyarat: saat berprestasi, saat tidak merepotkan, saat memenuhi ekspektasi. Dari sinilah kebutuhan untuk selalu tampil “benar” tumbuh. Kesempurnaan menjadi pelindung dari rasa sakit emosional.

Ketika kita menyadari akar ini, perfeksionisme tak lagi terasa sebagai identitas, melainkan pola yang bisa diubah. Kesadaran ini adalah langkah awal untuk melepaskan diri dari tuntutan yang melelahkan.

2. Pisahkan nilai diri dari hasil dan pencapaian

Wanita sedang membaca buku.
Ilustrasi Tips untuk Berhenti Menjadi Versi Sempurna Diri Sendiri. (pexels.com/George Milton)

Salah satu jebakan psikologis terbesar adalah menyamakan nilai diri dengan pencapaian. Kita merasa berharga ketika berhasil dan merasa gagal sebagai manusia ketika target tidak tercapai. Pola ini membuat hidup terasa seperti ujian tanpa akhir.

Padahal, secara psikologis, nilai diri bersifat inheren, ia ada bahkan saat kita tidak produktif, tidak berprestasi, atau sedang jatuh. Ketika nilai diri digantungkan pada hasil, ketenangan batin menjadi rapuh dan mudah runtuh.

Belajar memisahkan siapa kita dari apa yang kita hasilkan adalah proses yang tidak instan. Namun, langkah kecil seperti mengakui usaha, bukan hanya hasil, dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

3. Berhenti menyembunyikan emosi yang tidak “ideal”

Wanita sedang melihat jendela.
Ilustrasi Tanda Kamu Bertahan di Tempat yang Tidak Lagi Senyaman Dulu. (pexels.com/SHVETS production)

Versi sempurna diri sering kali identik dengan kontrol emosi: tidak boleh lemah, tidak boleh sedih terlalu lama, dan harus selalu positif. Akibatnya, emosi yang dianggap “buruk” ditekan dan disangkal.

Secara psikologis, emosi yang ditekan tidak hilang, ia hanya mencari jalan lain untuk keluar. Bisa dalam bentuk kelelahan, kecemasan, kemarahan tersembunyi, atau bahkan sakit fisik. Menjadi sempurna berarti mengorbankan kejujuran emosional.

Mengizinkan diri merasa marah, kecewa, atau sedih bukan tanda kegagalan. Justru, keberanian untuk mengakui emosi apa adanya adalah tanda kedewasaan psikologis yang sering terlewatkan.

4. Belajar menetapkan batas tanpa merasa bersalah

Wanita sedang duduk di sofa.
Ilustrasi Langkah Memaafkan Diri atas Tahun yang Tidak Berjalan Sesuai Rencana. (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Keinginan menjadi sempurna sering membuat seseorang sulit berkata “tidak”. Kita ingin selalu tersedia, membantu, dan menyenangkan orang lain, meski harus mengorbankan diri sendiri.

Dalam psikologi, ketiadaan batas yang sehat dapat memicu kelelahan emosional dan rasa kehilangan identitas. Tanpa batas, kita hidup berdasarkan kebutuhan orang lain, bukan kebutuhan diri sendiri.

Menetapkan batas bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan mental. Rasa bersalah mungkin muncul di awal, tetapi seiring waktu, batas yang jelas justru menciptakan hubungan yang lebih jujur dan seimbang.

5. Gantikan standar sempurna dengan standar manusiawi

Wanita sedang melihat langit.
Ilustrasi Tips Membangun Kebiasaan yang Tidak Mudah Runtuh. (pexels.com/Laura Oliveira)

Standar sempurna sering kali tidak realistis dan tidak mengenal konteks. Ia tidak memberi ruang untuk lelah, salah, atau berubah. Sebaliknya, standar manusiawi mempertimbangkan kondisi mental, emosional, dan situasi hidup yang sedang dihadapi.

Secara psikologis, standar yang fleksibel membuat otak merasa lebih aman, sehingga lebih terbuka terhadap proses belajar. Alih-alih memaksa, kita mulai mendukung diri sendiri dalam perubahan. Mengganti standar bukan berarti menurunkan kualitas hidup, melainkan menyesuaikannya dengan kapasitas nyata. Dari sinilah pertumbuhan yang lebih berkelanjutan bisa terjadi.

Berhenti menjadi versi sempurna diri sendiri bukan tentang menyerah pada hidup, melainkan tentang berdamai dengan kenyataan bahwa kita manusia. Ketika tuntutan untuk selalu benar dilepaskan, ruang untuk bernapas, belajar, dan bertumbuh pun terbuka. Mungkin, versi terbaik dari diri kita bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling jujur dan penuh welas asih pada dirinya sendiri.

Itulah 5 tips untuk berhenti menjadi versi sempurna diri sendiri. Semoga artikel ini bermanfaat, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

6 Ciri Pasangan yang Dibutuhkan oleh Tipe Kepribadian Koleris

08 Feb 2026, 18:47 WIBNews