Berangkat Bimtek ke Bali, Sejumlah Kades dari Kupang Ketahuan Pesta Miras

Dinas PMD Kabupaten Kupang mengklarifikasi foto kades pesta bir di Bali terjadi di luar agenda bimtek pengelolaan dan pertanggungjawaban APBDes yang diikuti 160 kepala desa.
Kadis PMD Jon Sula menyebut pertemuan itu inisiatif warga perantauan asal Kupang dan konsumsi miras dianggap bagian kebersamaan, bukan rangkaian resmi kegiatan.
Pemkab membantah miras dibeli memakai uang daerah, DPRD menyangkal keterlibatan 35 anggotanya, sementara perantau Mex Tuka meminta maaf atas unggahan yang viral.
Kupang, IDN Times — Pemerintah Kabupaten Kupang melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) menanggapi berbedar foto sejumlah kepala desa (kades) yang sedang pesta sambil mengonsumsi minuman keras (miras) jenis bir di Bali.
Persoalan ini viral setelah beredarnya sebuah foto yang diduga mengenai aktivitas tersebut. Kepala Dinas PMD Kabupaten Kupang, Jon Sula, mengungkap peristiwa ini di luar pertemuan bimbingan teknis (bimtek) para kades tersebut. Para kades ini sebelumnya diutus mengikuti bimtek Peningkatan Kapasitas Kepala Desa dan Perangkat Desa tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban APBDes.
"Potongan foto yang beredar itu sudah di luar agenda tersebut," ungkapnya, Kamis (5/11/2026).
1. Disebut hal yang wajar

Foto sejumlah kades asal Kabupaten Kupang pesta miras di Bali usai kegiatan bimtek. (Dok istimewa) Menurut Jon, kegiatan peningkatan kapasitas ini diikuti 160 kepala desa dari Kabupaten Kupang. Mereka diketahui bertolak ke Bali pada Selasa (3/11/2026).
"Mereka bagian dari agenda pembelajaran dan penguatan tata kelola pemerintahan desa, khususnya dalam pengelolaan keuangan desa yang transparan dan bertanggung jawab," tukasnya.
Sementara hal yang viral tersebut, tegasnya, bukan merupakan bagian dari rangkaian acara resmi bimtek. Pertemuan kebersamaan itu disebutnya wajar karena merupakan inisiatif warga perantauan usai para peserta menjalani bimtek. Warga perantauan ini terdiri dari orangtua maupun tokoh masyarakat asal Kabupaten Kupang yang sedang berada di Bali.
"Namanya juga tradisi kita orang ketimuran, kalau ketemu orangtua datang pasti ada sedikit kita konsumsi miras. Itu hal wajar," ujarnya.
2. Bantah gunakan uang negara

Ilustrasi rupiah (pexels.com/ahsanjaya) Jon juga membantah tudingan soal penggunaan uang daerah yang digunakan untuk membeli minuman beralkohol dalam perjamuan tersebut. Justru, kata dia, semuanya ditanggung dari uang pribadi warga perantauan.
"Klarifikasi ini penting agar masyarakat dapat membedakan secara jelas antara agenda kedinasan yang dibiayai melalui mekanisme anggaran resmi dengan aktivitas pribadi atau pertemuan kekeluargaan di luar jadwal kegiatan," jelas dia lebih lanjut.
Anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Partai Bulan Bintang, Hengky Loden, secara terpisah membantah 35 anggota DPRD Kabupaten Kupang turut terlibat dalam perjamuan tersebut. Mereka mengaku baru tiba sehari setelahnya, Rabu (4/11/2026).
"Rombongan DPRD baru tiba di Bali besoknya," ungkapnya.
3. Minta maaf karena mengunggahnya ke media sosial

ilustrasi media sosial di HP (pexels.com/Tracy Le Blanc) Sementara Mex Tuka, tokoh muda sekaligus perantau di Bali menyampaikan permohonan maaf karena hal tersebut menjadi viral.
"Saya menyampaikan permohonan maaf atas postingan viralnya kebersamaan keluarga di Bali, karena mereka adalah orangtua yang sekian lama tidak pernah bertemu," ungkap pemuda asal Desa Muke, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang dalam pernyataannya yang beredar.
Terlepas dari berbagai klarifikasi yang telah disampaikan, perhatian publik terhadap perilaku aparatur pemerintahan harus dihargai dan menjadi bahan evaluasi bersama.





















