Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siap Hadapi Kemarau Panjang, Iqbal Tak Khawatir Produksi Pangan Turun
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyatakan provinsi Nusa Tenggara Barat sudah siap menghadapi kemarau panjang tahun 2026. Berbagai langkah sudah disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengantisipasi bencana kekeringan akibat kemarau panjang.

Meskipun musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, Iqbal tak khawatir akan berpengaruh pada produksi pangan. Dia menjelaskan bahwa dilakukan program optimalisasi lahan (Oplah) sejak 2025 lalu.

1. Siapkan sumur bor dan mobil tangki air bersih

Foto tim BPBD Bima saat menyalurkan air bersih (Dok/BPBD Bima)

Iqbal mengatakan BPBD NTB sudah mengantisipasi dampak kemarau panjang yang mengakibatkan bencana kekeringan yang setiap tahun melanda wilayah NTB. Mulai dari penyiapan sumur bor hingga mobil tangki untuk menyalurkan bantuan air bersih ke masyarakat terdampak kekeringan.

"Itu BPBD sudah siap dari bulan-bulan lalu. Kita sudah siapkan terutama mulai dari sumur bor, kendaraan tangki (air bersih) yang akan kita deploy. Mudah-mudahan dugaan akan ada musim kemarau panjang ini tidak terjadi. Kan dugaan yang sama juga pada tahun lalu, ternyata tidak. Ternyata hujannya datang lebih cepat," kata Iqbal dikonfirmasi di Mataram, Rabu (15/4/2026).

Kekeringan merupakan bencana tahunan di NTB. BPBD NTB mencatat lebih dari setengah juta jiwa masyarakat terdampak krisis air bersih akibat bencana kekeringan pada 9 kabupaten/kota di wilayah NTB. Dari 10 kabupaten/kota di NTB, hanya Kota Mataram yang tidak terdampak bencana kekeringan.

2. Tak khawatir produksi pangan turun

Seorang petani di Kecamatan Gerung Lombok Barat sedang memupuk padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Iqbal mengaku tidak khawatir kemarau panjang akan berpengaruh pada penurunan produksi pangan atau padi. Dia menjelaskan sejak tahun 2025, telah dilakukan program oplah yang menyasar 14 ribu hektare lahan pertanian tadah hujan di NTB.

Lewat program oplah, indeks pertanaman (IP) yang semula satu kali menjadi dua kali per tahun. Menurutnya, selama saluran irigasi pertanian berfungsi dengan baik, maka dapat dimitigasi terjadinya kelangkaan suplai air untuk irigasi pertanian.

"Mungkin air tidak berlimpah tetapi cukup untuk memulai musim tanam," terangnya.

Selain itu, para penyuluh pertanian dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) telah diajak diskusi untuk pengaturan air irigasi pada musim kemarau. Dengan demikian diharapkan petani dapat menanam komoditas yang sesuai dengan ketersediaan air irigasi pada musim kemarau.

"Kita sudah melakukan briefing, diskusi dengan para penyuluh juga. Bukan hanya penyuluh tetapi juga asosiasi petani pemakai air. Karena mereka ini yang mengatur saluran air itu," tandasnya.

Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), capaian produksi padi NTB pada tahun 2025 mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat 16,85% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 1.453.408 ton GKG.

Peningkatan ini juga ditopang oleh naiknya luas panen dari 281.718 hektare pada tahun 2024 menjadi 322.927 hektare pada tahun 2025, serta produktivitas padi yang meningkat dari 51,59 kuintal/hektare menjadi 52,59 kuintal/hektare.

3. Kemarau di NTB lebih panjang dan kering

Ilustrasi kekeringan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat (NTB), memprediksi musim kemarau di NTB datang lebih awal pada dasarian I April 2026. Sebanyak 74 persen wilayah NTB mengalami kemarau, dengan sebagian kecil dimulai sejak Maret hingga awal Mei.

Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menjelaskan dibandingkan periode normal 1991–2020, sebanyak 70 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal, 15 persen sama, dan 15 persen lebih lambat. Dengan sifat hujan didominasi bawah normal sebesar 93 persen yang menandakan kondisi lebih kering dari rata-rata.

"Secara umum, kemarau 2026 di NTB diperkirakan lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang," kata Nuga.

Dia menyebutkan, puncak musim kemarau di NTB diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan sebagian besar puncak musim kemaraunya sesuai dengan normalnya. Dari sisi durasi, 89 persen wilayah NTB diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang dari biasanya, dengan rentang dominan 25-27 dasarian.

Berdasarkan kondisi dinamika atmosfer dan laut serta prediksi musim kemarau 2026, sebagian besar wilayah NTB diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dengan curah hujan bawah normal. Hal ini menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan pengelolaan air dan kegiatan pertanian.

Nuga mengatakan pemilihan varietas tanaman yang sesuai dan pengaturan irigasi yang efektif, dapat membantu memaksimalkan hasil pertanian dan menjaga ketersediaan sumber daya air secara optimal selama musim kemarau. Berdasarkan luas Zona Musim (ZOM), prediksi awal musim kemarau di NTB menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau pada April 2026 dengan luasan 16.518,87 km² atau 84 persen dari total wilayah.

Selanjutnya, awal musim kemarau terjadi pada Maret 2026 seluas 1.646,43 km² atau 8 persen dari total wilayah dan Mei 2026 seluas 1.498,03 km² atau 8 persen dari total wilayah. Jika dibandingkan dengan periode normal, kata Nuga, prediksi awal musim kemarau didominasi kondisi maju dari normalnya dengan luasan 14.325,27 km² atau 73 persen dari total wikayah.

Sedangkan yang sama dengan normal seluas 2.731,57 km² atau 14 persen dan yang mundur seluas 2.606,48 km² atau 13 persen dari total wilayah. Prediksi sifat hujan pada musim kemarau 2026 didominasi bawah normal dengan luasan 18.777,91 km² atau 95 persen, sementara sifat hujan normal seluas 885,41 km² atau 5 persen dan tidak terdapat wilayah dengan sifat hujan atas normal.

Prediksi puncak musim kemarau 2026, wilayah NTB didominasi puncak kemarau pada Agustus dengan luasan 17.663,73 km² atau 90 persen, kemudian Juli 2026 seluas 1.330,86 km² atau 7 persen dan September 2026 seluas 668,73 km² atau 3 persen. Dibandingkan dengan kondisi normal, kata dia, sebagian besar wilayah NTB yaitu 17.663,73 km² atau 90 persen mengalami puncak musim kemarau yang sama dengan normalnya. Sedangkan 1.330,86 km² atau 7 persen lebih maju dan 668,73 km² atau 3 persen mundur.

Dari sisi durasi, musim kemarau 2026 didominasi rentang 25–27 dasarian dengan luasan 14.944,92 km² atau 76 persen, diikuti 22– 24 dasarian seluas 2.510,09 km² atau 13 persen dan 19–21 dasarian seluas 2.208,32 km² atau 11 persen. Jika dibandingkan normalnya, sebanyak 18.284,31 km² atau 93 persen diprediksi mengalami durasi lebih panjang, dan 1.379,02 km² atau 7 persen lebih pendek dari biasanya.

Dia menjelaskan, kondisi iklim di NTB sangat dipengaruhi oleh fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation), Dipole Mode, sirkulasi Monsun Asia/Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergency Zone). Serta kondisi suhu permukaan air laut di sekitar Laut Indonesia, dan faktor topografi setempat mempengaruhi keberagaman iklim di daerah NTB.

Kondisi ENSO saat ini menunjukkan kondisi Netral dengan indeks -0.28. Kondisi Enso Netral ini akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. "Durasi musim kemarau 2026 ini diprediksi sebagian besar akan lebih panjang dibandingkan dengan normalnya," tandasnya.

Editorial Team