Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Seorang Anak di Kupang Meninggal setelah Minum Air dari Kulkas

Seorang Anak di Kupang Meninggal setelah Minum Air dari Kulkas
ilustrasi air mineral dingin (freepik.com/topntp26)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • Seorang siswi SD di Kupang meninggal dunia dan kakaknya dirawat setelah diduga keracunan usai meminum air dari kulkas yang terasa pahit di rumah mereka.
  • Keluarga sempat mencoba pengobatan tradisional menggunakan campuran bahan alami sebelum akhirnya membawa kedua anak ke rumah sakit, namun sang adik tidak tertolong.
  • Polisi telah mengamankan barang bukti dan memeriksa saksi, sementara BPOM meneliti sampel makanan serta minuman untuk memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kupang, IDN Times - Seorang pelajar sekolah dasar berinisial A (9), mengalami keracunan hingga meregang nyawa pada Rabu (8/4/2026). Sementara sang kakak, AG (16) masih dirawat usai dirujuk ke RSUD S.K. Lerik, Kota Kupang.

Peristiwa itu terjadi setelah keduanya meminum air dari kulkas di rumah mereka sendiri. Kapolres Kupang, AKBP Rudi JJ Ledo melalui Kasat Reskrim AKP Helmi Wildan membenarkan peristiwa ini dan tengah menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut.

“Iya, benar, korban meninggal dunia dan sedang diselidiki," ujarnya pada Minggu (12/4/2026).

1. Air dalam kulkas yang terasa pahit

ilustrasi air dingin (freepik.com/freepik)
ilustrasi air dingin (freepik.com/freepik)

Peristiwa ini bermula ketika keduanya berada di kediaman mereka Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Awalnya sang kakak lebih dulu makan kemudian meminum air dalam kulkas yang terasa pahit. Adik perempuannya juga ikut makan setelah membeli jajanan gorengan dan minuman kemasan jenis jelly drink di kios dekat rumah. Ia juga meminum air putih dari dalam kulkas di rumah mereka.

"Kakaknya pulang sekolah langsung makan dan minum dari air di kulkas itu. Sementara adiknya masih pamit untuk jajanan baru setelahnya makan dan minum juga di rumah," jelas dia.

Sekitar 30 menit kemudian AG mengalami sakit. Ia juga muntah-muntah hingga buang air besar. Adiknya juga mengalami hal yang sama hingga mengalami kejang beberapa saat kemudian.

2. Disembur pakai obat tradisional

ilustrasi keringat karena kesakitan (unsplash.com/Hans Reniers)
ilustrasi keringat karena kesakitan (unsplash.com/Hans Reniers)

Kondisi ini membuat keluarga panik. Ibu korban menyuruh keluarganya menuju kulkas tersebut lalu membuang air dingin yang sempat diminum oleh kedua anak tersebut. Mereka lalu langsung mencuci ulang wadah rice cooker yang digunakan untuk mengisi air tersebut dan menyediakannya ulang air itu di dalam kulkas.

Sementara sang ayah memanggil seseorang lainnya yang dipercaya bisa memberikan pengobatan tradisional. Kedua anak itu disembur dengan air genoak, kulit pohon srikaya, isian kelapa kering dan jahe. Hingga malam harinya, kedua anak mereka tak kunjung sembuh sehingga baru dibawa ke Rumah Sakit Leona Noelbaki Kupang. Sayangnya sejam kemudian saat mulai dirawat anak perempuan mereka meregang nyawa.

"Sementara kakaknya masih mendapat perawatan intensif usai kejadian tersebut," lanjut Helmi.

3. Sejumlah saksi diperiksa dan uji lab BPOM

ilustrasi laboratorium (pexels.com/pixabay)
ilustrasi laboratorium (pexels.com/pixabay)

Aparat kepolisian dari Polsek Kupang Tengah dan Polres Kupang juga terjun ke lokasi kejadian. Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk sisa makanan dan muntahan korban. Sementara ini, jelas dia, sampel tersebut tengah diteliti oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan penyebab sebenarnya keracunan yang dialami kedua korban anak ini.

"Penyebab pasti menunggu hasil uji laboratorium BPOM," tegasnya.

Kasat Reskrim Polres Kupang, AKP Helmi Wildan juga menambahkan bahwa pihaknya sudah meminta keterangan dari sejumlah saksi dan masih mendalami kasus ini. Sementara keluarga korban menolak autopsi terhadap jenazah korban.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More