Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Modifikasi Cuaca Tak Berpengaruh pada Peningkatan Curah Hujan di NTB
Peta analisis curah hujan di wilayah NTB. (dok. BMKG)

Mataram, IDN Times - BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok menyebutkan bahwa operasi modifikasi cuaca yang dilakukan pada 28 dan 29 September 2024 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di langit Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak berdampak pada peningkatan curah hujan.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi ZAM Lombok Juliani Intan Sari mengatakan saat ini wilayah NTab memasuki peralihan musim. "Tidak ada (dampaknya), TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) tidak sampai berpengaruh pada hari-hari berikutnya pasca dilakukannya," kata Intan dikonfirmasi IDN Times, Kamis (3/10/2024).

1. NTB memasuki awal musim hujan pada dasarian III Oktober

hujan (https://id.pinterest.com/KPaigeAskew02/)

Intan mengungkapkan kondisi saat ini di wilayah NTB NTB memasuki peralihan musim. NTB sedang memasuki peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Dia menjelaskan pemanasan yang tinggi juga meningkatkan jumlah kandungan uap air pembentuk awan.

"Secara umum, diperkirakan pada dasarian III Oktober, NTB mulai memasuki awal musim hujan, dimulai dari wilayah barat," terangnya.

2. Sebagian wilayah NTB berpotensi terjadi hujan kategori rendah

freepik.com/gpointstudio

Sementara, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Bastian Andarino menjelaskan pada dasarian I Oktober 2024 atau 1 - 10 Oktober 2024, sebagian wilayah NTB berpotensi terjadi hujan dengan katagori rendah yaitu 20 - 50 mm/dasarian dengan probabilitas 10 - 70 persen.

Terdapat potensi hujan di wilayah NTB dengan katagori sedang yaitu 50 - 100 mm/dasarian di sebagian wilayah Lombok Barat bagian utara dengan probabilitas 10 - 20 persen.

Berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, terdapat indikasi kekeringan meteorologis sebagai dampak dari kejadian hari kering berturut-turut dengan potensi waspada, siaga dan awas di sejumlah wilayah NTB.

Untuk level waspada di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.Kemudian level siaga dk Kecamatan Dompu, Huu, Kilo dan Woja kabupaten Dompu. Selanjutnya, Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah, Kecamatan Sambelia Lombok Timur, Kecamatan Alas, Labuhan Badas, Moyo Utara, Rhee dan Unter Iwes Kabupaten Sumbawa serta kecamatan Poto Tano Sumbawa Barat.

Sedangkan wilayah yang masuk level awas kekeringan meteorologis yaitu Kecamatan Sotomandi Kabupaten Bima, Kecamatan Sekotong Lombok Barat dan Kecamatan Suela Lombok Timur.

Dikatakan, curah hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian III September 2024 secara umum berada pada kategori rendah yaitu 0 - 50 mm/dasarian. Sifat hujan pada dasarian III September 2024 di wilayah NTB bervariasi dari kategori bawah normal hingga atas normal. Curah hujan tertinggi di pos hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa sebesar 117 mm/dasarian.

Sedangkan monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) provinsi NTB secara umumnya berada pada kategori Sangat Panjang (31 – 60 hari). HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Perigi, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur selama 114 hari.

3. BNPB tebar 6 ton garam di langit NTB

Modifikasi cuaca di langit NTB yang dilakukan BNPB untuk mengatasi kekeringan dan Karhutla. (dok. BNPB)

Sebelumnya, BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam rangka Penanganan Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla di Provinai NTB. Operasi OMC dilaksanakan selama dua hari pada 28 dan 29 September 2024 dengan menebar sebanyak 6 ton garam atau Natrium Chlorida (NaCl).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Pusat Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan dalam pelaksanannya, operasi ini sudah berhasil menebar total bahan semai NaCl sebanyak 6.000 kg atau 6 ton di langit NTB dengan rincian hari pertama 3 ton dan hari kedua sebanyak 3 ton.

Sebanyak 6 ton garam tersebut ditebar menggunakan pesawat yang diberangkatkan dari Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa. Operasi ini menargetkan pada awan-awan yang berpotensi hujan di wilayah kekeringan dengan menggunakan NaCl.

Dijelaskan, awan-awan yang berpotensi hujan di wilayah kekeringan disemai menggunakan Kalsium Oksida (CaO) kepada awan-awan rendah yang berlayer. Hal ini berfungsi untuk memanaskan lapisan atmosfer pada layer awan setelah disemai sehingga awan atau kabut bisa terdispersi.

Disamping itu, OMC ini juga dimanfaatkan untuk redistribusi hujan dalam pengamanan event internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 27-29 September 2024. Dengan demikian, area venue sirkuit dapat diamankan dari potensi hujan hingga sore hari.

Editorial Team

Related Article