Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dampak Gempa NTT, 300 Warga Bima Mengungsi ke Dataran Tinggi
Warga Kabupaten Bima mengungsi ke dataran tinggi imbas gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda provinsi NTT. (dok. BPBD Kabupaten Bima)
  • Sebanyak 300 warga Kabupaten Bima mengungsi ke dataran tinggi usai gempa magnitudo 7,7 di NTT, berasal dari Desa Bugis, Sangiang, Soro, dan Lambu.
  • Gempa menyebabkan seorang warga luka ringan serta merusak kantor camat, enam rumah di Kabupaten dan Kota Bima, gudang Bulog, dan plafon masjid Hotel Mutmainnah.
  • BPBD NTB bersama pihak terkait masih melakukan asesmen dan verifikasi lapangan; kebutuhan mendesak meliputi makanan siap saji, air mineral, selimut, terpal, matras, serta perlengkapan keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Sebanyak 300 warga di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengatakan berdasarkan update terbaru, ratusan warga itu mengungsi ke dataran tinggi.

"Sebanyak 300 jiwa di Kabupaten Bima yang mengungsi di dataran tinggi," kata Sadimin, Sabtu (15/8/2026).

1. Warga yang mengungsi berasal dari empat desa

Warga Kabupaten Bima mengungsi ke dataran tinggi imbas gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda provinsi NTT. (dok. BPBD Kabupaten Bima)

Berdasarkan laporan yang diterima dari BPBD Kabupaten Bima, sebanyak 300 warga yang mengungsi ke dataran tinggi berasal dari empat desa. Sebanyak 150 warga di Desa Bugis Kecamatan Sape.

Kemudian 50 warga di Desa Sangiang Kecamatan Wera, 50 jiwa di Desa Soro dan 50 jiwa di Desa Lambu Kecamatan Lambu. Selain itu, seorang kakek bernama Fajar (60), warga Desa Sangiang, Kecamatan Wera, mengalami luka ringan yaitu lecet pada bagian kaki.

2. Kantor Camat hingga gudang Bulog juga rusak

Rumah warga yang rusak akibat bencana gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda provinsi NTT, Sabtu (15/8/2026). (dok. BPBD Kabupaten Bima)

Dampak gempa NTT juga mengakibatkan kerusakan Kantor Camat Lambitu Kabupaten Bima yang retak pada bagian dinding. Selain itu, 3 unit rumah warga mengalami kerusakan, terdiri dari 1 rusak ringan di Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, 1 rusak berat di Desa Soro, Kecamatan Lambu, dan 1 rusak sedang di Desa Tolotangga, Kecamatan Monta.

Begitu juga di Kota Bima, gempa menyebabkan kerusakan tiga unit rumah warga. Satu rumah warga rusak sedang di Kelurahan Rabangodu Selatan, satu rusak ringan di Kelurahan Panggi, Kecamatan Mpunda dan satu rusak ringan di Kelurahan Penaraga, Kecamatan Raba.

Kemudian satu Gudang Bulog mengalami kerusakan pada bagian dinding, sehingga menyebabkan sejumlah karung beras berjatuhan. Selain itu, masjid Hotel Mutmainnah mengalami kerusakan bagian plafon.

3. Kebutuhan mendesak dari makanan siap saji hingga perlengkapan keluarga

Rumah warga di Bima yang mengalami kerusakan dampak gempa NTT, Sabtu (15/8/2026). (dok. BPBD NTB)

Sadimin menjelaskan BPBD Provinsi NTB terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bima dan Kota Bima serta stakeholder terkait. Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Bima dan Kota Bima melakukan asesmen dampak bencana gempa bumi.

Pihaknya juga melakukan pemantauan perkembangan dampak kejadian bencana gempa bumi. Kondisi saat ini, masih dalam pemantauan, sementara pendataan dan verifikasi lapangan terus dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya kerusakan maupun dampak lain yang ditimbulkan oleh kejadian gempa.

Dia mengatakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat berupa dukungan logistik bagi warga terdampak, terutama kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air mineral, selimut, terpal, matras, dan perlengkapan kebutuhan keluarga.

Dia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article