Kebakaran Hutan Kawasan Gunung Rinjani Meluas Capai 723,7 Hektare

- Kebakaran hutan di kawasan Gunung Rinjani yang terdeteksi sejak 22 September 2026 diperkirakan berdampak 723,7 hektare hingga 25 September, dengan api berkembang ke Puncak Sangkareang.
- Pemadaman melibatkan 59 personel lintas unsur, termasuk tambahan Brimob Polda NTB, melalui mop-up, patroli, pemantauan drone, dan pengamanan jalur pendakian.
- Angin kencang, vegetasi kering, serta medan terjal menghambat penanganan; Jalur Torean ditutup sementara dan pendaki Danau Segara Anak dialihkan ke jalur aman.
Mataram, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mengungkapkan berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan sementara sampai dengan 25 September 2026, luas areal yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai kurang lebih 723,7 hektare.
Kebakaran hutan terjadi di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang dan sekitarnya yang berada di bawah Resor Torean Lombok Utara, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I. "Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, dokumentasi udara menggunakan drone, serta verifikasi batas areal terdampak setelah kondisi memungkinkan," kata Kepala BTNGR, Budhy Kurniawan di Mataram, Jumat (25/9/2026).
1. Kebakaran meluas ke Bukit Sangkareang dan sekitarnya

Pemadaman kebakaran hutan di Bukit Setampol Taman Nasional Gunung Rinjani, Jumat (25/9/2026). (dok. BTNGR) Perkembangan kebakaran menunjukkan bahwa sebagian titik api di Bukit Setampol sisi timur telah berhasil dipadamkan dan dilakukan mop-up. Namun, kata Budhy, pada lokasi lainnya api masih terpantau dan berkembang ke arah Puncak Sangkareang dan sekitarnya.
Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 tersebut terus ditangani melalui kegiatan pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, pemantauan udara menggunakan drone, serta penambahan kekuatan personel dari berbagai unsur. Lokasi awal kejadian berada pada koordinat 116°25'30.194" BT dan 8°21'49.368" LS.
"Jenis kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran permukaan, dengan bahan bakar berupa hutan pinus, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya," terangnya.
Berdasarkan laporan terbaru Tim Pemadaman di Bukit Setampol, lokasi pertama yang sebelumnya menjadi sasaran pemadaman telah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tim memastikan lokasi tersebut telah padam dan tidak ditemukan lagi asap maupun bara tersembunyi (smouldering).
Pemeriksaan dilakukan secara langsung dan manual pada material terbakar untuk memastikan tidak terdapat panas atau bara yang berpotensi kembali menimbulkan api. Dengan mempertimbangkan waktu yang sudah memasuki sore hari, jarak tempuh sekitar dua jam menuju sasaran berikutnya serta faktor keselamatan personel, tim menghentikan sementara pergerakan menuju titik berikutnya.
"Penanganan selanjutnya direncanakan diarahkan menuju titik api atau hotspot di sebelah barat aliran sungai dan di atas dua bukit dari lokasi tim, dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi lapangan dan keselamatan petugas," tambah Budhy.
2. Tambahan personel dari Brimob Polda NTB

Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa) Budhy mengatakan sampai dengan 25 September 2026, penanganan kebakaran melibatkan unsur Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI, Polri/Brimob, serta masyarakat yang membantu sebagai porter.
Secara keseluruhan, personel yang tercatat terlibat dalam rangkaian penanganan terdiri atas 1 personel Polisi Kehutanan, 1 personel Pengendali Ekosistem Hutan, 14 personel Manggala Agni, 26 personel Masyarakat Peduli Api, 7 personel Polri/Brimob, 2 personel TNI; dan 8 orang porter.
Personel tersebut ditempatkan pada beberapa lokasi dan jalur strategis sesuai kebutuhan penanganan, antara lain Bukit Setampol sisi timur, Jalur Pendakian Torean, akses Setampol, serta Jalur Pendakian Senaru. Selain itu tim juga mendapatkan bantuan logistik dari treking organizer (TO).
Pada Jumat, 25 September 2026, tim pemadaman yang telah berada di Bukit Setampol sisi timur melaksanakan kegiatan mop-up untuk memastikan titik-titik api dan bara yang masih tersisa benar-benar padam. Setelah dilakukan pemeriksaan pada areal yang telah ditangani dan dinyatakan aman, tim kembali ke Resor Torean.
Sedangkan Tim dari Balai Dalkarhut Mataram yang sebelumnya bergabung dalam penanganan di Bukit Setampol sisi timur juga melaksanakan mop-up pada lokasi yang telah dipadamkan sebelum kembali dari lokasi. Sementara itu, tim gabungan yang berada di sekitar Jalur Pendakian Torean tetap melanjutkan kegiatan pemadaman dan pengendalian untuk mencegah perkembangan kebakaran ke kawasan jalur pendakian dan wilayah sekitarnya.
Pada pukul 09.00 WITA, tambahan tim dukungan dari Brimob Polda NTB bergerak menuju lokasi melalui akses Setampol. Tim tersebut didukung personel BTNGR dan porter dari masyarakat sekitar untuk membawa peralatan serta logistik menuju lokasi penanganan.
Selain itu, sejak pukul 08.00 WITA, tim patroli kembali dikerahkan menuju Jalur Pendakian Senaru untuk memantau perkembangan kebakaran dan mengantisipasi kemungkinan penyebaran api ke arah jalur pendakian Senaru dan kawasan sekitarnya.
3. Angin kencang dan medan terjal jadi kendala

Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa) Budhy mengungkapkan upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan api dapat bergerak dan meluas dengan cepat. Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar.
Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau, sehingga mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar. Dia mengatakan keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan, akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan
Penanganan kebakaran dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan BTNGR, Balai Dalkarhut Mataram, BPBD Prop Nusa Tenggara Barat, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri/Brimob serta unsur terkait lainnya. Sebagai bagian dari strategi penanganan, BTNGR telah melakukan pengaturan pergantian personel, memperkuat regu pemadam menuju Bukit Setampol dan Jalur Torean, serta menempatkan petugas pemantauan pada Jalur Pendakian Senaru.
Pemantauan udara menggunakan drone juga terus dimanfaatkan untuk membantu mengetahui perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran kebakaran serta penentuan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Untuk menjamin keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim dalam melaksanakan pemadaman dan pengendalian kebakaran, Jalur Pendakian Torean masih ditutup sementara.
Bagi para pengunjung atau pendaki yang berada di kawasan Danau Segara Anak telah diarahkan untuk tidak menggunakan Jalur Torean dan menggunakan jalur pendakian lain yang dinyatakan aman sesuai arahan petugas. Budhy mengimbau masyarakat dan pengunjung agar tidak mendekati lokasi kebakaran, tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran baru, serta mengikuti seluruh informasi dan pengumuman resmi yang disampaikan oleh BTNGR.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















