Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alhamdulillah, Titik Karhutla Rinjani Akhirnya Diguyur Hujan

Kota Mataram
5 min read
Alhamdulillah, Titik Karhutla Rinjani Akhirnya Diguyur Hujan
Pemadaman karhutla di kawasan Gunung Rinjani SPTN Wilayah I BTNGR, Sabtu (26/9/2026). (dok. BTNGR)
Share Article

Mataram, IDN Times - Titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani mulai diguyur hujan. Hingga hari ketujuh karhutla di kawasan Rinjani, pada Senin (28/9/2026), sejumlah sektor kebakaran sudah berhasil ditangani.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Astekita Ardiaristo menjelaskan pad Senin (28/9/2026), tim gabungan memfokuskan kegiatan pada Puncak Sangkareang dan sekitarnya untuk melakukan mop-up, pemantauan, serta memastikan tidak terdapat titik api yang masih aktif.

Dia mengatakan cuaca di beberapa lokasi sudah turun hujan termasuk di lokasi kebakaran. Pada Selasa (29/9/2026), tim gabungan melakukan pengecekan di lapangan. "Kami menunggu laporan dari teman-teman di lapangan, mengecek masih ada asap. Mudah-mudahan hari ini padam," kata Astekita dikonfirmasi IDN Times, Selasa (29/9/2026).

1790255455951.jpg
Kawasan Bukit Setampol Resor Torean Gunung Rinjani yang terbakar. (IDN Times/Istimewa)
  1. 1. Kerahkan 103 personel lakukan pemadaman

    Sebanyak 103 personel dikerahkan untuk memadamkan karhutla di kawasan Rinjani. Terdiri dari Polhut BTNGR 6 orang, Pengendali Ekosistem Hutan BTNGR 1 orang, Manggala Agni BTNGR 21 orang, Mangga Agni Balai Dalkarhut Jabalnusara 9 orang, KPH Rinjani Barat 2 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 47 orang, Brimob Polda NTB 7 orang, TNI 2 orang dan porter 8 orang.

    Personel ditempatkan dan digerakkan pada sejumlah sektor sesuai kebutuhan penanganan, antara lain Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru serta kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru. Peralatan yang digunakan meliputi alat pemadam manual, drone, perangkat komunikasi, kendaraan roda empat dan roda dua, perlengkapan lapangan serta dukungan logistik.

    Astekita menjelaskan BTNGR terus melakukan penanganan kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang Jalur Pendakian Senaru dan sekitamya, Resor Torean dan Senaru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I. Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 tersebut terus ditangani melalui kegiatan pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, pemantauan udara menggunakan drone, serta penambahan kekuatan personel dari berbagai unsur.

    Lokasi awal kejadian kebakaran berada pada koordinat 116°25'30.194" BT dan 8°21'49.368" LS. Jenis kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran permukaan, dengan bahan bakar berupa hutan cemara gunung, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya.

    Berdasarkan hasil pemantauan dan pemetaan sementara sampai dengan 28 September 2026, luas areal yang terdampak kebakaran mencapai 1.098,75 hektare. Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi udara menggunakan drone serta verifikasi batas areal terdampak.

  2. 2. Kabut tebal menyelimuti kawasan Puncak Sangkareang

    IMG-20260927-WA0018.jpg
    Kondisi kawasan hutan Gunung Rinjani yang hangus terbakar pada Minggu (27/9/2026). (dok. BTNGR)

    Dia menjelaskan pada Senin, 28 September 2026 pukul 11.07 WITA, tim gabungan yang terdiri atas personel Manggala Agni BTNGR, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabalnusra), serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Senaru dan Sembalun, bergerak melakukan mop-up dan pemantauan areal kebakaran di Puncak Sangkareang dan sekitarnya.

    Tim Pemantauan dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan serta menggunakan drone. Namun, kabut tebal yang menyelimuti kawasan Puncak Sangkareang menyebabkan tim belum dapat melakukan pengamatan secara optimal terhadap seluruh area yang sebelumnya terindikasi terbakar.

    Sementara itu, berdasarkan pemantauan hotspot melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), dalam pembaruan 12 jam terakhir tidak terdeteksi adanya titik hotspot di lokasi tersebut. Meskipun demikian,kata dia, kondisi tersebut belum menjadi dasar untuk menyatakan bahwa kebakaran telah sepenuhnya padam, karena masih diperlukan verifikasi langsung di lapangan.

    Pada Selasa (29/9/2026) pagi, tim kembali bergerak menuju titik-titik yang sebelumnya teridentifikasi mengalami kebakaran. Selain itu digunakan juga pemantauan menggunakan drone apabila kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan. Langkah tersebut, kata Astekita, dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara, api tersembunyi maupun potensi penyalaan kembali pada vegetasi kering.

    "Upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan api dapat bergerak dan meluas dengan cepat. Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar," tuturnya.

    Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau. Sehingga mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar. "Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan, akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan," tambahnya.

  3. 3. Pemantauan ulang lokasi kebakaran dan penilaian jalur pendakian Torean

    Perbaikan di Jalur Pendakian Torean Gunung Rinjani. (dok. BTNGR)
    Perbaikan di Jalur Pendakian Torean Gunung Rinjani. (dok. BTNGR)

    Astekita mengatakan pemantauan udara menggunakan drone juga terus dimanfaatkan untuk membantu mengetahui perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran kebakaran serta penentuan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Pada hari ini, Selasa (29/9/2026), dilakukan pemantauan. ulang lokasi kebakaran dan penilaian terhadap jalur pendakian Torean.

    Kegiatan ini melibatkan tim gabungan dari BTNGR, Polsek Bayan, Koramil Bayan, Forum Wisata Lingkar Rinjani dan Unit SAR Lombok Timur untuk memastikan jalur pendakian aman dan nyaman bagi pendaki. Untuk sementara, jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup sementara dan tidak digunakan sebagai jalur masuk maupun keluar aktivitas pendakian hingga terdapat kebijakan lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi kondisi lapangan.

    Pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar, diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui Jalur Pendakian Sembalun. Status pembukaan kembali jalur pendakian Torean dan Senaru akan ditentukan dengan memperhatikan hasil evaluasi penanganan kebakaran di wilayah kerja Resor Senaru dan Resor Torean.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More