Penjual kain tenun NTT, Esther. (IDN Times/Putra F.D Bali Mula)
Dalam rancangan Kementerian Pariwisata, perjalanan yang lebih lambat dan mendalam diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama. Kehadiran mereka membuka peluang perputaran ekonomi di desa-desa sepanjang rute.
Peluang usaha itu mencakup layanan homestay, produk UMKM, tenun, kuliner, dan jasa pemandu wisata lokal. Kegiatan menenun dan pemasaran hasilnya diproyeksikan dapat sebagai sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama perempuan penenun.
"Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, Ziarah, atau Prosesi Budaya lainnya,” kata Widiyanti.
Harapan agar potensi lokal terus berkembang juga disampaikan Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu saat pembukaan Festival Wolobobo di Bajawa, Kamis (22/10/2026). Ia mendorong pengembangan produk lokal agar memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas setelah kegiatan pameran.