Kecelakaan di Rinjani, Pendaki Belanda Dievakuasi Pakai Helikopter

- Pendaki Belanda ET (28) mengalami cedera kaki hingga tak mampu berdiri setelah kecelakaan di sekitar Batu Beleq, jalur Sembalun, Gunung Rinjani, Rabu (22/10/2026).
- BTNGR menerima laporan pukul 07.27 WITA dan mengevakuasi ET dengan helikopter medis ke Denpasar; korban tiba di Benoa Heliport pukul 12.58 WITA untuk dirujuk ke rumah sakit.
- Evakuasi melibatkan Basarnas, asuransi, layanan medis, operator helikopter, dan relawan; BTNGR mengingatkan pendaki menyiapkan fisik, perlengkapan standar, serta mematuhi arahan petugas.
Mataram, IDN Times - Seorang pendaki asal Belanda inisial ET (28), mengalami kecelakaan saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/10/2026). Korban mengalami kecelakaan di sekitar Batu Beleq, jalur pendakian Sembalun, Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok Timur.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Budhy Kurniawan mengungkapkan kondisi korban usai kecelakaan. Dia mengatakan korban mengalami cedera pada kaki hingga tidak mampu berdiri dan membutuhkan penanganan medis segera.
1. Korban dievakuasi menggunakan helikopter ke Bali

Korban dievakuasi dari Pelawangan 2 Sembalun menuju Bali menggunakan helikopter. (dok. BTNGR) Dia mengatakan BTNGR menerima laporan pada pukul 07.27 WITA. BTNGR kemudian langsung berkoordinasi untuk melakukan evakuasi dengan pihak terkait sesuai dengan asuransi premium yang dimiliki korban.
Selanjutnya, korban dievakuasi lewat jalur udara menggunakan helikopter. Budhy menjelaskan helikopter medis tiba di Pelawangan 2 Sembalun pada pukul 12.12 WITA. Pada pukul 12.25 WITA, korban diterbangkan menuju Denpasar dan tiba di Benoa Heliport pukul 12.58 WITA untuk selanjutnya dirujuk ke rumah sakit.
2. Jadi pengingat bagi pendaki lain

Korban dievakuasi ke rumah sakit menggunakan ambulans sesampainya di Bali. (dok. BTNGR) Budhy menegaskan bahwa peristiwa yang menimpa pendaki asal Belanda itu menjadi pengingat bagi pendaki lainnya. Bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam setiap pendakian.
Untuk itu, setiap pendaki harus mempersiapkan kondisi fisik, menggunakan perlengkapan sesuai standar, dan selalu patuhi arahan petugas. "Sebab, keberhasilan sebuah pendakian bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang kembali dengan selamat," tegasnya.
Proses evakuasi korban melibatkan Basarnas Mataram, Asuransi Syariah Kita Bisa, Edelweis Medical Help Center (EMHC), SGI Air Bali, Nusa Medika Clinic dan para relawan.
3. Insiden kecelakaan pendaki di Gunung Rinjani pada 2026

Helikopter yang mengevakuasi korban tiba di Benoa Heliport, Kamis (22/10/2026). (dok. BTNGR) Sebelumnya, beberapa insiden kecelakaan pendaki di Gunung Rinjani pada 2026. Diantaranya, insiden kecelakaan pendaki asal Tiongkok Li Xianhua (47) pada Senin, 14 September 2026 sekitar pukul 08.00 WITA setelah terpeleset di jalur pendakian Senaru–Batu Ceper, yang menyebabkan benturan di kepala hingga pingsan. Korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat dan tiba di Pos TNGR Senaru pada Selasa, 15 September 2026.
Kemudian insiden kecelakaan yang menimpa pendaki asal Malaysia, Chyse Connsynn (41) di sekitar punggungan atau Pelawangan Sembalun pada 25–26 Mei 2026. Proses evakuasi sempat terkendala kabut sebelum akhirnya korban berhasil dievakuasi menggunakan helikopter dan dirujuk ke Bali.
Selanjutnya, insiden kecelakaan yang menimpa pendaki asal Belgia, Juliette Marcelle V Andre. Korban mengalami cedera pergelangan kaki saat menuruni jalur menuju Danau Segara Anak pada 4 April 2026. Korban ditangani oleh tim medis Edelweis Medical Help Centre dan dirujuk ke RS Siloam Mataram.





















