Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Camino de Flores Jadi Momentum Pemerataan Wisata di Luar Labuan Bajo

Kota Mataram
3 min read
Camino de Flores Jadi Momentum Pemerataan Wisata di Luar Labuan Bajo
Pembukaan Festival Wolobobo 2026 di Art Center Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Uni Lubis)
  • Camino de Flores dirancang memperluas kunjungan wisatawan Flores di luar Labuan Bajo melalui rute yang menghubungkan situs religi, desa wisata, alam, serta kegiatan budaya dan keagamaan.

  • Proyek percontohan Etape Tengah Bajawa–Boawae–Ende berlangsung 23–27 Oktober 2026, melibatkan sekitar 70 peserta untuk perjalanan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer.

  • Perjalanan ini membuka peluang homestay, UMKM, tenun, kuliner, dan pemandu lokal; uji coba juga menilai kesiapan rute, keselamatan, serta kolaborasi pemerintah, keuskupan, dan komunitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ngada, IDN Times - Kegiatan Camino de Flores diarahkan untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan dan manfaat ekonomi pariwisata di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan jalan kaki ini diharapkan membuka peluang bagi pelaku UMKM, penenun, pengelola homestay, dan pemandu wisata lokal di wilayah yang dilalui.

Kementerian Pariwisata menyiapkan rute Bajawa–Boawae–Ende sebagai proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026. Sekitar 70 peserta dijadwalkan mengikuti perjalanan sejauh kurang lebih 70 kilometer.

  1. 1. Kunjungan wisatawan diharapkan menjangkau wilayah lain di Flores

    Kemenpar: Camino De Flores, Wisata Jalan Kaki 70 Km Jelajahi Keindahan Flores (IDN Times/Cantika Lutfiah)
    Kemenpar: Camino De Flores, Wisata Jalan Kaki 70 Km Jelajahi Keindahan Flores (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kunjungan wisatawan selama ini cenderung terpusat di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Camino de Flores ditawarkan sebagai pola perjalanan untuk menghubungkan berbagai daya tarik di wilayah lain.

    “Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo,” kata Widiyanti dalam siaran pers Kementerian Pariwisata yang diterima IDN Times pada Jumat (23/10/2026).

    Daya tarik yang hendak dihubungkan mencakup situs religi, desa wisata, bentang alam, serta kegiatan budaya dan keagamaan. Kegiatan dengan tajuk lengkap Camino de Flores: A Spiritual Journey of Reflection and Recovery ini menyasar komunitas peziarah dan wisatawan yang mencari ketenangan.

  2. 2. Penenun hingga pengelola homestay mendapat peluang

    Penjual kain tenun NTT, Esther. (IDN Times/Putra F.D Bali Mula)
    Penjual kain tenun NTT, Esther. (IDN Times/Putra F.D Bali Mula)

    Dalam rancangan Kementerian Pariwisata, perjalanan yang lebih lambat dan mendalam diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama. Kehadiran mereka membuka peluang perputaran ekonomi di desa-desa sepanjang rute.

    Peluang usaha itu mencakup layanan homestay, produk UMKM, tenun, kuliner, dan jasa pemandu wisata lokal. Kegiatan menenun dan pemasaran hasilnya diproyeksikan dapat sebagai sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama perempuan penenun.

    "Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, Ziarah, atau Prosesi Budaya lainnya,” kata Widiyanti.

    Harapan agar potensi lokal terus berkembang juga disampaikan Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu saat pembukaan Festival Wolobobo di Bajawa, Kamis (22/10/2026). Ia mendorong pengembangan produk lokal agar memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas setelah kegiatan pameran.

  3. 3. Uji coba menjadi dasar pengembangan rute berkelanjutan

    Kemenpar: Camino De Flores, Wisata Jalan Kaki 70 Km Jelajahi Keindahan Flores (IDN Times/Cantika Lutfiah)
    Kemenpar: Camino De Flores, Wisata Jalan Kaki 70 Km Jelajahi Keindahan Flores (IDN Times/Cantika Lutfiah)

    Kementerian Pariwisata menyebut proyek percontohan ini akan digunakan untuk mengukur kesiapan teknis, operasional, kelembagaan, serta keterlibatan masyarakat. Evaluasinya diharapkan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebagai dasar pengembangan paket wisata.

    Widiyanti menyatakan Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) telah menyusun dokumen penilaian risiko dan rencana tanggap darurat. Persiapan yang disebut meliputi petugas pengamanan rute, pos kesehatan, layanan air minum bergerak, serta mitigasi cuaca dan tantangan ketinggian rute.

    Kementerian Pariwisata juga mendorong kerja sama lintas wilayah dengan pemerintah daerah, keuskupan, dan komunitas lokal agar pengelolaan rute dapat berlanjut.

    “Kami berharap Camino de Flores menjadi magnet baru yang berkualitas di Kawasan Timur Indonesia,” kata Widiyanti.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More