Lombok Timur, IDN Times - Kabut tipis menggantung di lembah Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Dari rumah produksi Syaeun, aroma rempah yang pekat dan manis menyusup ke udara dingin.
Di dalam rumah, jemari Syaeun memilah siung demi siung bawang putih lokal yang telah dikeringkan di bawah matahari. Bawang itu belum siap dipasarkan. Masih ada proses panjang hingga warnanya berubah hitam dan nilainya meningkat.
Bagi Syaeun, pengolahan bawang putih bukan sekadar pilihan usaha. Gagasan itu tumbuh dari persoalan yang berulang setiap musim panen. Harga bawang putih dapat naik dan turun di tangan pembeli. Petani pun kerap menerima harga yang tidak sebanding dengan biaya pengolahan.
Risiko semakin besar karena Sembalun rawan banjir bandang dan longsor. Bencana dapat merusak lahan serta memutus akses jalan. Jalur menuju Belanting pun rentan terputus. Ketika distribusi tersendat, hasil panen menghadapi ancaman kehilangan pasar dan membusuk.
Keprihatinan itu mendorong Syaeun membentuk kelompok perempuan. Mereka mengolah hasil pertanian agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Black garlic atau bawang hitam kemudian menjadi produk utama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Putri Rinjani.
"Awal mula dari produk black garlic adalah keprihatinan terhadap para petani bawang putih yang saat panen kadang pembeli menaik-turunkan harga, sehingga tidak sesuai dengan biaya pengolahan. Jadi kami berinisiatif membuat kelompok perempuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk berharga jual lebih tinggi," kata Pendiri UMKM Putri Rinjani, Syaeun kepada IDN Times, Senin (10/8/2026).
Upaya menaikkan nilai bawang putih itu sekaligus membuka ruang kerja di desa. Sekitar 80 persen tenaga kerja UMKM Putri Rinjani merupakan perempuan setempat. Syaeun melibatkan ibu yang mengasuh anak yatim, janda, serta warga lanjut usia. Mereka bekerja sesuai kemampuan masing-masing.
Syaeun juga melibatkan pemuda lokal dalam pengolahan, pengemasan, dan penyortiran bahan baku. Mereka merupakan lulusan SMA hingga sarjana. Pekerjaan itu memberi mereka pilihan untuk tetap tinggal dan berkarya di desa.
Proses pembuatan black garlic membutuhkan kesabaran. Syaeun dan tim Putri Rinjani mengeringkan bawang putih secara alami selama dua bulan. Bawang kemudian masuk proses pengovenan selama 25 hari. Proses itu menghasilkan perpaduan rasa asam, manis dan pahit.
Putri Rinjani tidak berhenti pada satu produk. Syaeun mengembangkan black garlic dengan madu murni serta varian kapsul. Kapsul menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mengonsumsi black garlic tanpa terganggu aromanya.
Produk Putri Rinjani telah mengantongi sertifikat halal. Akses terhadap sertifikasi halal dan izin keamanan pangan dari instansi pemerintah turut membuka jalan pengembangan usaha. Syaeun juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas promosi melampaui Sembalun.
