- Kota Mataram : Kecamatan Mataram
- Lombok Barat : Kecamatan Batulayar, Kecamatan Gunungsari, Kecamatan Labuapi dan Kecamatan Lembar
- Lombok Tengah : Kecamatan Praya, Kecamatan Praya Barat, dan Kecamatan Pujut
- Lombok Timur : Kecamatan Jerowaru, Kecamatan Labuhan Haji, Kecamatan Pringgasela, Kecamatan Sakra Barat, Kecamatan Sembalun, dan Kecamatan Sukamulia
- Lombok Utara : Kecamatan Gangga, Kecamatan Kayangan, Kecamatan Pemenang, dan Kecamatan Tanjung
- Sumbawa Barat : Kecamatan Brang Ene, Kecamatan Brang Rea, Kecamatan Jereweh dan Kecamatan Taliwang
- Sumbawa: Kecamatan Batulanteh, Kecamatan Labuhan Badas, Kecamatan Lape, Kecamatan Lenangguar, Kecamatan Moyo Utara, Kecamatan Moyohulu, Kecamatan Rhee dan Kecamatan Unter Iwes
- Dompu : Kecamatan Dompu, Kecamatan Kempo, Kecamatan Kilo, Kecamatan Manggelewa, Kecamatan Pajo, Kecamatan Pekat, dan Kecamatan Woja
- Bima : Kecamatan Belo, Kecamatan Bolo, Kecamatan Lambitu, Kecamatan Langgudu, Kecamatan Madapangga, Kecamatan Palibelo, Kecamatan Sape, Kecamatan Soromandi, Kecamatan Tambora, dan Kecamatan Wawo
- Kota Bima : Kecamatan Raba
HTH Kian Memanjang, 48 Kecamatan di NTB Masuk Level Awas Kekeringan

- BMKG NTB mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian I Oktober 2026, saat hari tanpa hujan memanjang dan curah hujan akhir September hanya 0–10 mm.
- Sebanyak 48 kecamatan di 10 kabupaten/kota NTB berstatus awas kekeringan; HTH terpanjang mencapai 135 hari di Pos Hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima.
- Enam kecamatan berstatus waspada dan empat siaga kekeringan. Peluang hujan di sebagian besar NTB kurang dari 10 persen, sehingga warga diimbau menghemat air dan waspada kebakaran.
Mataram, IDN Times - BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian I Oktober atau periode 1 hingga 10 Oktober 2026. BMKG mencatat hari tanpa hujan (HTH) kian memanjang, sehingga kekeringan meteorologis semakin meluas di wilayah NTB.
Akibat HTH yang kian memanjang, terdapat 48 kecamatan di NTB yang masuk level awas kekeringan. Selain itu, sebanyak 10 kecamatan masuk level waspada dan siaga kekeringan.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menjelaskan curah hujan di wilayah NTB pada dasarian III September atau periode 21-30 September 2026, berada pada kategori rendah yakni 0-10 mm per dasarian. Berdasarkan monitoring HTH provinsi NTB, secara umum berada pada rentang menengah yakni 11-20 hari hingga kekeringan ekstrem yaitu di atas 60 hari.
"HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Belo dan Bolo Kabupaten Bima sepanjang 135 hari termasuk dalam kategori kekeringan ekstrem," kata Nuga, Rabu (30/9/2026).
1. Daftar 48 kecamatan masuk level awas kekeringan di NTB

Peta kekeringan meteorologis di NTB. (dok. BMKG) Dia merincikan 48 kecamatan di NTB yang masuk level awas kekeringan, tersebar di 10 kabupaten/kota. Antara lain:
2. Daftar kecamatan masuk level waspada dan siaga kekeringan di NTB

Peta hari tanpa hujan di wilayah NTB. (dok. BMKG) Selain itu, BMKG juga mencatat 10 kecamatan masuk level waspada dan siaga kekeringan di NTB. Terdiri dari 6 kecamatan masuk level waspada dan 4 kecamatan masuk level siaga kekeringan.
Adapun 6 kecamatan yang masuk level waspada antara lain, Kecamatan Praya Tengah Lombok Tengah. Kemudian Kecamatan Montong Gading, Kecamatan Sikur dan Kecamatan Wanasaba Lombok Timur. Serta Kecamatan Sekongkang dan Seteluk Sumbawa Barat.
Sedangkan empat kecamatan yang masuk level siaga kekeringan yaitu Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, Kecamatan Sambelia Lombok Timur, Kecamatan Bayan Lombok Utara dan Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa.
3. Peluang curah hujan dasarian I Oktober kurang dari 10 persen

Distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak bencana kekeringan di Lombok Barat. (dok. Istimewa) Nuga mengungkapkan peluang curah hujan pada dasarian I Oktober 2026 di sebagian besar wilayah NTB sangat rendah. Dia mengatakan peluang terjadinya hujan kurang dari 10 persen. Dia menjelaskan saat ini seluruh wilayah NTB berada pada musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino.
Dengan meluasnya wilayah yang masuk level waspada, siaga hingga awas kekeringan akibat HTH yang kian memajang, dia mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)








![[QUIZ] Jumlah Like Medsos Sepi Bikin Bad Mood? Yuk, Cek Lewat Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20251212/pexels-olly-3769109_4ab569bf-b3f6-4718-9978-3f13fc25a55a.jpg)










