APPR Ngadu ke Ombudsman, Pemprov NTB: IPR Tak Boleh Ugal-ugalan

Mataram, IDN Times - Pemprov NTB menegaskan bahwa penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa alias ugal-ugalan. Sikap tersebut disampaikan menyusul adanya hearing Asosiasi Pemuda Pertambangan Rakyat (APPR) ke Ombudsman RI Perwakilan NTB terkait belum terbitnya IPR bagi koperasi tambang rakyat.
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik mengatakan pemerintah provinsi menghargai langkah APPR sebagai bagian dari mekanisme demokrasi dan kontrol publik terhadap pelayanan pemerintah.
“Itu bagian dari hak warga negara, kami memandangnya sebagai bentuk cinta dengan cara yang berbeda dan bentuk kepedulian terhadap tata kelola pertambangan rakyat,” kata Khalik di Mataram, Sabtu (31/1/2026).
1. Pemprov NTB belum menerbitkan 15 blok IPR

Dia menjelaskan langkah yang diambil Pemprov NTB bukan menahan penerbitan IPR. Tetapi merupakan langkah penataan supaya semua berjalan dengan baik dan dalam koridor yang benar.
Pemprov NTB hingga saat ini belum menerbitkan IPR untuk 15 blok IPR dari total 16 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang diajukan. Sejauh ini, pemerintah provinsi baru menerbitkan satu IPR di Blok Lantung, Kabupaten Sumbawa yang ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project).
Khalik menjelaskan langkah tersebut diambil bukan untuk menghambat, melainkan menjadi uji tata kelola agar praktik pertambangan rakyat benar-benar berjalan sesuai prinsip keberlanjutan. “IPR bukan sekedar soal izin. Ini menyangkut lingkungan, keselamatan masyarakat, dan masa depan wilayah. Karena itu, pemerintah tidak ingin gegabah apalagi ugal-ugalan,” kata dia.
2. Banjir dan longsor di NTB akibat pengelolaan hutan dan pertambangan yang kurang hati-hati

Dia mengajak masyarakat agar belajar dari dampak yang membuat warga menderita selama ini. Berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah wilayah NTB seperti banjir dan tanah longsor, tidak lepas dari pengelolaan kawasan hutan dan pertambangan yang kurang hati-hati.
Ketika intensitas hujan meningkat, kawasan yang tidak tertata dengan baik menjadi rentan terhadap bencana. Karena itu, kata Kepala Diskominfotik NTB itu, Pemprov memilih bersikap ekstra hati-hati agar kebijakan hari ini tidak menimbulkan persoalan baru di masa depan.
“Sekali salah dalam menerbitkan izin, dampaknya bisa bertahun-tahun. Pemerintah tidak ingin dikenang sebagai pihak yang meninggalkan masalah bagi generasi berikutnya,” jelasnya.
Dikatakan, Pemprov NTB harus selektif dalam menerbitkan izin pertambangan rakyat dan semua berbasis dokumen. Terkait hal ini, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal telah meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memproses permohonan IPR secara selektif dan berbasis kelengkapan dokumen.
Salah satu perhatian utama adalah dokumen lingkungan dan rencana reklamasi pascatambang. Pemprov NTB menilai, tanpa jaminan pemulihan lingkungan, penerbitan izin justru berisiko menimbulkan konflik sosial dan kerusakan ekologis.
Selain aspek teknis, Pemprov NTB saat ini juga tengah menyelesaikan dua peraturan daerah (Perda) yang akan menjadi fondasi tata kelola pertambangan rakyat. Yaitu, Perda Penarikan Retribusi Pertambangan dan Perda Tata Kelola Pertambangan Rakyat (WPR/IPR).
Perda tersebut mengatur mekanisme retribusi dan tata kelola WPR/IPR, agar pengelolaan tambang rakyat memiliki kepastian hukum dan standar yang jelas. “Yang ingin dibangun adalah sistem. Tanpa dasar hukum dan tata kelola yang kuat, izin justru berpotensi disalahgunakan," tambahnya.
3. Penting penguatan pengawasan aktivitas pertambangan

Khalik menegaskan bahwa dukungan terhadap kebijakan pemerintah pusat yang membuka akses WPR bagi masyarakat lingkar tambang. Namun, pemerintah daerah menilai WPR dan IPR tidak boleh dipahami semata sebagai legalisasi tambang ilegal.
WPR/IPR diarahkan sebagai instrumen untuk memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan, memastikan manfaat ekonomi dirasakan terlebih dahulu oleh warga sekitar, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Pemprov NTB menekankan pentingnya penguatan perangkat daerah dan fungsi pengawasan, menyusul berbagai temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang selama ini menunjukkan lemahnya pengawasan menjadi pintu masuk penyimpangan di sektor pertambangan. Pemprov NTB menegaskan, kebijakan IPR bukan semata soal penerimaan daerah (PAD), melainkan bagian dari upaya membangun tata kelola pertambangan yang adil dan berkelanjutan.
Karena itu, penerbitan IPR harus ditopang regulasi daerah yang kuat, memastikan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan hidup. Pemerintah menekankan, pertambangan rakyat hanya akan didorong jika memberi manfaat sosial nyata tanpa mengorbankan masa depan lingkungan NTB.
"Tegasnya adalah tujuan akhirnya bukan sekedar menerbitkan izin, tetapi memastikan pertambangan rakyat benar-benar membawa kesejahteraan dan tidak merusak masa depan lingkungan NTB," tandasnya.

















